Selamat Jalan... wahai Maestro....

Mungkin tak banyak anak muda zaman sekarang yang mengenal Franky Sahilatua, tetapi untungnya saya masih sempat menemui era dia masih aktif menyanyi dan membuat lagu (duh..ketahuan umur).
[![](https://i1.wp.com/3.bp.blogspot.com/-j7d9OzKK0A4/Ta7Z9jPIGjI/AAAAAAAAAjw/p7cXd2rWxrA/s320/frankyyy.jpg?w=780)](https://i1.wp.com/3.bp.blogspot.com/-j7d9OzKK0A4/Ta7Z9jPIGjI/AAAAAAAAAjw/p7cXd2rWxrA/s1600/frankyyy.jpg)
foto dipinjam dari [sini ](http://matanews.com/2010/08/12/ayo-ringankan-beban-franky-sahilatua/)
Dan walaupun tidak menyimak semua lagu-lagunya, saya masih mengenal beberapa hits yang dia nyanyikan yang memang tak dapat dipungkiri itu adalah musik dengan musikalitas yang sangat bagus.

Di era jayanya, Franky…eh Om Franky ini sudah mengeluarkan lagu-lagu yang populer, baik yang dinyanyikan sendiri maupun duet dengan saudaranya Jane Sahilatua, atau bersama musisi-musisi lain seperti Iwan Fals dan penyanyi-penyanyi senior lain. Lagunya bersama Iwan Fals yang paling kita ingat tentu saja lagu “Orang Pinggiran” yang didalamnya memuat idealisme-idealime mereka berdua. Kalo lagu hitsnya bersama Jane Sahilatua yang saya ingat adalah “Lelaki dan Rembulan” dan tentu saja kita takkan lupa lagu “Perjalanan”

Kekuatan dari lagu-lagu Franky buat saya yang tidak mengerti musik ini adalah pada liriknya. Dia bisa menghadirkan lirik-lirik yang dalam. Baik itu untuk lagu bertema percintaan, alam, maupun yang bertema sosial. Oiya, lagu “Kemesraan” yang dipopulerkan Iwan fals juga dia yang tulis loh… Errr, musik Franky ini dikategorikan “Balada” kan yah? #mikir

Hari ini, tanggal 20 April 2011, Beliau meninggalkan kita semua karena sakit kanker yang di deritanya. Mudah-mudahan beliau mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya dan karya-karyanya bisa menjadi inspirasi bagi musik-musik anak muda jaman sekarang…amiiin…

Satu lagu Franky yang selalu melekat di kepala saya adalah >>>>

“Lelaki dan Telaga”

Lelaki hanya berdiri, di tepian telaga
Menyusuri kesunyian hati, ada rindu dalam hatinya
Ada embun jatuh setitik, di ujung hatinya
Pada air ia berkaca, membayangkan kekasih
Bersandar pundak di sisinya, ranting jatuh air memecah
Di dalam lingkaran air, lelaki sendiri…
Pada embun ia bertanya…
Pada ranting ia bertanya…
Untuk apa bertemu kalau nanti berpisah
Untuk apa bercinta kalau nanti bersedih
Ranting tertunduk membisu
Embun terdiam kelabu..
Selamat Jalan… wahai Maestro….