Akhirnya nonton bioskop lagi, yaaaay! Sebenarnya ini adalah tontonan kedua sesudah 2 tahun pandemi. Pertama adalah Spiderman No Way Home, dan sekarang yang kedua ini, Fantastic Beasts: The Secret of Dumbledore.

Sebenarnya kalau soalan tentang Wizarding World-Harry Potter, saya cendrung subjektif orangnya. Ketika ada yang bilang fimnya jelek, saya akan defensif. Padahal…ya memang tak bisa dibilang bagus sekali, tapi juga tidak jelek-jelek amat.

Mari kita bahas bagus dan jeleknya.

Apa yang bagus-bagus dari film ini? Pertama adalah karena ini adalah Harry Potter thingy (alasan uwopooo iki). Sebagai Potterhead, saya tidak bisa straighforward bilang film ini jelek. Monmaap pemirsah.

Yang kedua karena Newt. I love Newt. So, if Newt ok, everything is ok. Mehehe.

Yang ketiga karena dialognya masih segar, lucu dan tiktokannya enak.

Dan yang keempat dan yang paling penting karena akting pemainnya yang baguuuuuus semuaaa.

Apa yang jelek dari film ini? Tentu saja yang pertama dan utama sekali adalah ceritanya.

Film ini sudah keluar dari koridor utamanya yaitu tentang Fantastic Beasts. Ya memang ada satu binatang magical yang berperan, tapi gak menonjol.

Kemudian tentang Dumbledore yang menjadi “dewa”. Malah ada adegan yang bikin saya mikir “Yaelah, gak usah dia juga keleus ujug-ujungnya”. Oke, Dumbledore memang istimewa, tapi jangan juga jadi sentris banget.

Beberapa hal juga dipaksakan menurut saya. Mau diceritakan tapi takut spoiler malah nih >_< Tapi yang utama soal history-nya Credence.

Omong-omong soal Credence, saya juga kecewa soal porsi dan peran dia di film ini. Sesudah menjadi sangat horor dan terkesan akan berlanjut menjadi sosok yang powerful, di film ini ternyata jadi…yah begitu aja. Fighting pun tidak menang. Menjadi cengeng dan sangat sentimentil.

Soal rumor yang selalu beredar sesudah Harry Potter antara Dumbledore dan Grindelwald juga terjawab di film ini. Yah sesuai persepsi keleaan semua kan gaes….

Oke, segitu dulu ya review “gak jelas”nya dari saya. Sebenarnya bisa dikulik satu-satu, tapi nanti malah nyeritain filmnya. Sekali lagi, saya agak subjektif memang. Mendengar opening film aja, perasaan langsung membuncah.

Ponten 710

Bonus : Liat iklan Nicholas Saputra lagi masak sebelum mufi tayang