Detach-ment, Adrien Brody...

Detachment = The state of being objective or aloof. (dictionary)
**de·ta·se·men** /détasemén/ *n Mil *satuan tentara atau polisi yg berada di suatu tempat untuk menjalankan tugas yg bersifat sementara (KBBI)
Serius banget ini saya nya sampai-sampai benar-benar mencari pengertian Detachment, judul film yang baru saya tonton. Film yang dibintangi oleh Adrien brody yang merupakan alasan saya menonton film ini. Apakah Detasemen sama dengan Detachment, entahlah. Mari tanyakan ke Ivan Lanin #halah.Tapi saya lebih prefer ke pengertian dari dictionary (punya google) terlepas dari arti menurut KBBI juga dirasa benar, arti yang harfiah sekali 🙂
 
[![](https://i2.wp.com/2.bp.blogspot.com/-Ty67lGtL4RQ/UBC1gS07V5I/AAAAAAAAL9I/8gcGOgbXgNQ/s320/Detachment_main+(1).jpg?resize=320%2C213)](http://2.bp.blogspot.com/-Ty67lGtL4RQ/UBC1gS07V5I/AAAAAAAAL9I/8gcGOgbXgNQ/s1600/Detachment_main+(1).jpg)
 
Film ini bagus,dengan sedikit aura kelam. Cerita tentang kisah guru pengganti bernama Henry Barthes, yang selalu berpindah-pindah sekolah. Dan akhirnya dia sampai di satu sekolah di sebuah kota, sekolah tempat berkumpulnya anak-anak bandel. Sekolah yang sudah di ujung tanduk karena sudah diancam oleh dewan sekolah disebabkan prestasi yang tak kunjung meningkatkan dan ternyata berimbas terhadap harga propertis di daerah sekitar lingkungan sekolah itu, yang sungguh ini sedikit memberi wawasan baru pada saya bahwa ternyata hal seperti itu juga mempengaruhi perekonomian 🙂
 
Kita bisa melihat dinamika guru di sini, betapa guru menghadapi dilema yang besar mengajar anak-anak yang tidak punya motivasi untuk masa depannya. Betapa merananya mereka melihat anak-anak yang menghancurkan diri mereka sendiri, bukan orang lain, bukan orang tua, bukan lingkungan, tapi diri mereka sendiri. Saya melihat perspektif yang lain tentang sekolah, betapa selama ini dunia pendidikan selalu melihat dari sudut pandang murid sebagai objek pendidikan, di  film ini memperlihatkan dari sudut pandang guru sebagai orang yang dianggap bertanggung jawab terhadap sukses tidaknya pengajaran. Betapa kadang terpojoknya guru di tengah rongrongan luar yang melihat cuma sekedar kesuksesan hasil, dan tekanan dari dalam dari murid-muridnya sendiri dengan berbagai macam tingkah yang kebanyakan egois.
Oke, sounds serius :p
 
Tapi yang paling menarik di film ini tentu saja mengamati kepribadian Henry Barthes sang guru pengganti. Seorang yang punya kepribadian tertutup dan cenderung menjauhkan diri dari keterikatan sosial apapun. Trauma waktu kecil yang menimpa dirinya berkenaan dengan ibunya serta keterlibatan kakeknya sepertinya itulah yang mempengaruhi kepribadiannya. Juga ada drama yang menyentuh dengan kakeknya tersebut membuat saya merenungkan apa yang dia rasakan (oke, semakin serius).[](http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5245321534341720768)
 
Menarik juga bagaimana melihat kepribadian seperti itu mengajar di depan kelas penuh anak-anak dengan kelakuan menyedihkan, anak-anak depresi, bandel, denial dan sebagainya. melihat dia membuat seisi kelas bisa diarahkan dan berjalan lebih beradab. Dengan apa yang dia ajarkan juga menjadi “sesuatu” buat saya, cuma gak bisa direkam aja padahal banyak yang bikin saya manggut-manggut.
 
Oiya, juga bagaimana hubungannya dengan seorang gadis kecil yang mau tak mau harus dia tampung di rumahnya karena prihatin padahal itu bertentangan dengan sifatnya menjauhkan diri dari siapapun. Sedikit memberikan suasana berbeda dari hidupnya. 
Tapi, penyendiri akan tetap penyendiri dan tetap sendiri 🙂
 
Ah, tontonlah. setiap orang akan punya kesan yang berbeda mungkin tentang filmnya. Saya rasa begitu 🙂
 
Selamat hari kamis, selamat puasa bulan ramadhan yang pertama buat saya O/