Preman Angkutan Umum

Jika ke Padang, datang di Bandara Internasional Minangkabau dan keluar dari pintu kedatangannya, hal yang pertama akan kamu temukan adalah calo. Calo angkutan umum atau taksi atau travel. Baik angkutan yang resmi atau tidak. Selanjutnya akan diberondong dengan pertanyaan “mau ke mana?”, “taksi?”, “ke Bukittinggi?”atau “udah ada yang jemput?”. Dan jika dijawab sekali pun itu akan belum cukup, satu pertanyaan akan diberondong dengan pertanyaan lain. Jika tertarik dengan taksi pun, jangan berharap kamu akan mendapatkan taksi resmi dengan argo karna itu berarti taksi dengan harga borongan.
Di Padang sudah ada taksi blue bird, yang tentu saja taksi resmi dengan argo standar. Semua orang yang pergi ke suatu daerah yang baru didatangi tentu saja mengharapkan taksi dengan kondisi begini karna setidaknya tidak perlu tawar menawar yang bisa saja dengan resiko dibohongi atau menawardengan harga ketinggian.
Tapi jangan berharap dapat taksi seperti ini di Bandara Minang Kabau, karna taksi bluebird dilarang menaikkan penumpang dari bandara. Itulah arogansi dan kepremanan para sopir dan calo taksi-taksi “nembak” ini.
Alkisah kemaren adik saya bercerita bahwa ada seorang supir taksi digebukin oleh preman bandara karena kebetulan ketika sesudah dia menurunkan penumpang ternyata ada calon penumpang lain yang tiba-tiba masuk ingin menumpang di mobilnya yang memang belum sempat dikunci. Padahal si sopir taksi sebenarnya tau banget aturan tak tertulis di bandara itu kalau dia tak boleh menaikkan penumpang di sana. Tapi karna lagi apes, ya akhirnya dia diserbu oleh gerombolan preman-preman tukang keroyok itu.
Saya cuma bisa miris mendengarnya. Makanya memang daerah ini susah banget maju kalau sudah berkaitan dengan urusan semacam ini. Membuat pangkalan taksi resmi di bandara BIM selalu jadi wacana dari dulu. Bahkan buat beberapa daerah juga saya pernah mendengar hal yang sama.
Entah bagaimana cara mengatasainya….

Tips : jawaban terbaik menjawab calo itu adalah dengan bilang “ada yang jemput” dan menjauh dari pintu kedatangan. Dan saran dari dewi yang ada di komen πŸ™‚

Ctt : foto dipinjam di sini

17 Comments

  1. Ini yang seharusnya paling bisa memberantas memang aparat. Sayangnya, seringnya aparat juga sudah diam saja. Ya bener ujungnya gak maju-maju.

    *gak mau ke Padang* :))

  2. Mengingat-ingat tiap kali mendarat di padang sendirian tanpa jemputan ya akhirnya memanfaatkan taxi bandara dengan harga borongan itu. Paling nyaman memang masih di Cengkareng. Selain ada bus bandara, taxi resmi ber-argo juga banyak pilihan.

  3. saran gw kalau gak ada yang jemput, lebih baik naik bus resmi bandara (ada kok walau tujuannya cuma ke padang) dan jika mau ke daerah luar padang, lanjut naik bus lagi dari terminal atau pool bis yang ada di kota padang (walau jatuhnya bolak-balik kalau mau ke bukitinggi) *pengalaman *curcol

  4. tapi aku pernah juga digituin jaman dulu di Soeta tahun 2004 waktu belum sebaik sekarang. Yang penting adalah muka pede waktu menjawab tidak, biasanya mrk hapal wajah-wajah mana yang tidak pede menjawab tidak ke mereka dan akan terus mencecar πŸ˜›

  5. Untungnya ke Padang dalam rangka dinas jadi ada yang jemput. *emoji orang ngerokok*
    Seseram apapun harus ke Padang lagi! Makanannya enak-enaaak!! :O

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *