Braga yang Ternyata Menyenangkan

Walaupun sering ke Bandung, saya selalu menginap di kawasan yang itu-itu saja, yaitu area Dago dan sekitarnya. Mikirnya karena ini lokasi yang paling bikin saya nyaman, udah kenal daerahnya, banyak Factory Outlet dan warung makan. Padahal juga kita jarang shoping di outlet-outlet itu loh X)

Ketika kemaren pengen nginap di Bandung lagi, suami yang pilih hotelnya. Dia kebetulan memilih hotel yang ada di Braga, saya hayuk-in aja. Kenapa tidak? Karena tujuan kita ke Bandung kali ini juga sekalian pengen ke Cimahi, jadi pilihan lokasi selain di Dago juga tidak masalah. Dan karena Braga gak terlalu jauh dari stasiun jadi kepikiran pengen jalan aja dari stasiun siapa tau deket ajah.

Kali ini saya puas sekali dengan pilihan suami. Gak nyangka ternyata nginap di Braga itu menyenangkan. Bukan karena hotelnya ya, tapi lokasinya. Braga itu seperti masuk kawasan seni gitu deh. Banyak tempat makan di pinggir jalannya, banyak toko lukisan, jalannya enak buat dijalanin dan tersedia bangku-bangku di sepanjang jalan dan kesan klasik masih terasa karena banyak terdapat bangunan-bangunan tua jaman Belanda. Kalau malam rame dengan pejalan kaki dimana Braga memang terkenal buat nongkrong nakanak muda.

Ternyata jarak Braga ke alun-alun juga tidak terlalu jauh. Habis sarapan kita memutuskan jalan kaki ke alun-alun. Kita memilih lewat gang-gang kampung yang lumayan asik. Asik karena ada penataan lingkungannya.

Ternyata saya ketemu tulisan Pidi Baiq yang ini. Yaaaay! sebagai penggemar beliau, saya selalu pengen ketemu tulisan ini. Pengen tapi gak pernah diniatin pengen tau ini posisinya dimana. Eh taunya di jalan Asia Afrika situ toh, baru tauuuuu. Minta difotoin suami biar punya fotonya aja padahal masih pakai baju tidur. Apabanget.

Sepanjang jalan menjelang alun-alun ini banyak sekali kakak-kakak costplay. Bisa diajak foto-foto juga tapi harap ngasih beberapa rupiah ke celengan mereka ya, karena mereka akan mengharapkan itu. Kayaknya tema mereka kebanyakan horor sih. Saya melihat penampakan dimana-mana, jadinya ngeliatnya selewat aja :p Karena anak bocah juga gak terlalu suka karakter ghost, dia juga gak antusias. Akhirnya kita menghabiskan waktu berlari-lari di karpet sintetis alun-alun. Lumayan menyenangkan.

Patutlah sekali-sekali nginap di Braga lagi untuk mengulang kegiatan seperti ini.

Selamat Rabu kawan-kawan \m/

Trotoar 

Jadi pedestrian di Jabodetabek itu berat sekali tantangannya. Gak semua jalan di di sini ada trotoarnya. Kalaupun ada, 2/3 tahun dalam setahun akan kena macam-macam proyek. Perbaikan gorong-gorong, penggalian sarana di bawahnya seperti listrik dan air, perbaikan trotoar itu sendiri, penataan tanaman di atas trotoar, imbas pembangunan sarana di dekatnya seperti JPO atau jalur bus, dll. 

Itu adalah hal-hal yang berurusan dengan pemerintah sebagai pengelola jalan, belum lagi karena urusan lain. Misalnya saingan sama pohon yang besar (walaupun hal ini perlu juga), saingan sama pedagang kaki lima, saingan sama motor yang pengen cepat sampai, saingan sama parkir mobil yang gak punya tempat parkir. Apa lagi ya? Ada yang mau nambahin?

Salah satu trotoar yang paling sering saya lalui adalah trotoar ke arah stasiun Pondok Ranji. Jalan dari trotoar ini juga merupakan jembatan di atas jalan tol. Jalan ini sangatlah ramai, dikarenakan langsung bertemu perlintasan kereta api. Belum lagi ini juga merupakan akses yang penting menuju Ciputat yang punya banyak sekali pusat keramaian. Tapi cobalah liat gambar di atas, itulah trotoarnya. 

Pondok Ranji itu stasiun yang menampung banyak orang. Karyawan kantoran Jakarta banyak tinggal di Bintaro, jadi bisa dibayangkan berapa banyak orang yang lewat jalan itu. Ditambah lagi kondisi pagi hari orang mengejar kereta, biasanya terburu-buru. Tapi jangankan mau buru-buru atau menyalip, bisa jalan dengan tenang dan nyaman aja udah syukur.

Kalau kebetulan di depan kita ada orang renta yang jalannya pelan, atau ibu-ibu yang lagi kerepotan bawa anak maka bisa dipastikan kita harus menunggu di belakangnya dengan sabar. Atau malah tambah miris lagi, dari kejauhan taunya kita melihat kereta yang kita tunggu sudah datang sambil gigit jari  X)

Satu lagi yang kadang bikin bete, sudahlah kita merana karena jalan di jalan yang kecil itu dan harus pelan-pelan, di sebelah motor klakson-klakson dengan galak. Situasi yang selalu macet dan banyaknya pangkalan ojek bikin suasana sering panas di sini. Klakson dari motor yang meraung-raung di belakang kita itu bikin keder juga, ditambah takut kesengol. Padahal kita jalan udah mepet-mepet sama pagar. Pokmen bikin bete deh.

Sekian. Curhat salah seorang pedestrian. Selamat jumat! Horeee liburaaaaan 💃

Ojek Online yang Berjasa

Hari ini ada demo Gojek, mereka gak mau ngambil orderan. Istilahnya off-bid. Sebagai pengguna rutin gojek, saya sempat bingung juga. Taunya tiba-tiba ketika mau order mereka ke kantor kok gak bisa, loading aja trus tiba-tiba gagal. Awalnya kepikiran apa gara-gara sinyal, terus melihat ke sekeliling banyak orang yang lagi kebingungan sambil melototin HP. Kemungkinan keadaannya sama dengan saya, lagi bingung dengan aplikasi ojek online ini. Trus saya cari tau dengan cara tercepat -socmed- ternyata benar, mereka sedang mogok. 

Untung saya punya alternatif ojek online yang lain, Uber. Kalau udah mentok banget baru pakai Grab, karena mahal banget.  

Dipikir-pikir memang orang menjadi sangat tergantung dengan ojek online ini. Bayangan telat cap sidik jari di mesin attendance padahal berangkat udah sangat pagi, akan bikin kesal. Mungkin juga orang-orang yang tadi order bersama saya. 

Pokoknya kemana-mana kalau sudah tidak tersedia angkutan massal macam kereta atau bus transjakarta, saya akan milih ojek ini. Bisa cepat langsung sampai di tempat, gak ngetem dan gak ugal-ugalan. Drivernya juga gak sembarangan, karena terkontrol sendiri dengan mekanisme “bintang”. 

Sepengetahuan saya para driver ini demo karena menuntut agar tarif jangan diturunkan. Memang katanya ongkos gojek jadi murah banget. Kalau demo gini perasaan saya terhadap driver ini agak dilema. Di satu sisi sebagai costumer tentu harga murah itu menguntungkan, tapi di sisi lain kan kasihan sama drivernya kalau pendapatnya jadi turun. Kecuali harga turun itu karena subsidi perusahaan, nah itu baru oke 😜 

Kalau bisa memang jangan terlalu murah. Diperhitungkan se-fair mungkin agar driver dan penumpang merasa sama-sama enak. Toh ketika saya menumpang motor trus merasa harganya gak sesuai, bakal inisiatif sendiri ngasih tips. Pokmen saya juga gak enakan hati kalau ternyata jarak yang jauh trus harganya murah banget. Asal jangan memberi harga malakin penumpang kayak ojek pangkalan aja, yang asal nembak itu. 

Mudah-mudahan mereka dapat solusi dari masalahnya. Karena driver yang bahagia juga berpengaruh pada penumpang. Drivernya happy, nyetirnya enak. 

Tolong perhatikan ya Bapak-bapak boss Ojek Online…. (halah kok ngomongnya di sini) 

Selamat Bulan Nopember manteman. Gaji masih ada? Apeu. 

Tentang Memasak

Buat saya memasak itu karena butuh, bukan hobi. Jadi saya memasak tidak sesering yang diharapkan. Tapi cukup lah untuk kategori tidak hobi. Karena suami  prefer dibawakan bekal dari rumah dan si anak bocah memang harus selalu dibawakan bekal sarapan karena dia harus ke daycare setiap hari.

Karena saya gak punya waktu banyak untuk memasak, sering akhirnya menu suami ngikut ke menu anak. Yang artinya dia harus mau makan makanan yang gak pedas, padahal saya tau dia sangat suka pedas 😁

Tapi pagi ini saya memasak dua jenis bekal. Yang satu buat suami, adalah udang plus kentang balado dan Tumis tauge. Si anak lanang saya bikinkan nasi goreng mentega dengan orak-arik telur dan sosis. Cukup niat bukan?

Mungkin suatu saat saya akan mencoba ngeblog tentang resep masakan, siapa tau bisa jadi bahan buat selalu ada ide blogging.

Nah setiap malam seperti ini saya biasanya akan mulai bingung tentang besok mau masak apa subuh-subuh. Kalau udah parah banget gak tau mau ngapain, yaudah beli aja…. Halah males.

Mari kita lihat besok. Selamat tiduuuur \o/

Your favourite school subjects

Aha. Boleh juga nih kita bernostalgia.

Sebenarnya subjek favorit saya setiap level sekolah itu berbeda-beda. Btw, subjek favorit buat saya selalu tidak ada korelasi dengan nilai bagus. Bahkan kadang kebalikannya.

Sewaktu sekolah dasar pelajaran favorit saya sepertinya matematika. Menurut saya matematika waktu SD itu terlalu gampang…pongah ya? Iyaaaaa. Kecuali tiba-tiba guru kelas ternyata berhalangan mengajar dan jam pelajaran digantikan sama Kepala Sekolah, saya langsung benci matematika. Karena dia suka memberi pertanyaan cepat perkalian dan kita gak boleh pulang kalau tidak bisa jawab dengan cepat dan benar.

Sewaktu SMP saya sekolah di madrasah tsanawiyah, pelajaran favorit saya Biologi walaupun nilai terbaik di Bahasa Arab. Sukanya di level ultimate. Apalagi kalau udah belajar anatomi makhluk hidup. Sesekali malah guru suka nyuruh saya menerangkan hal yang sudah dia terangkan sebelumnya, dan saya merasa bisa melakukannya dengan sangat baik di luar kepala. Mungkin menurut dia pendekatan begitu membuat sesama murid lebih gampang memahami. 

Tapi jangan ditanya sekarang. Biologi? Apaan tuh? Merk tepung terigu?

Sewaktu SMA, walaupun saya masih suka Biologi tetapi gak semembuncah waktu SMP. Sepertinya pengaruh guru yang mengajar juga sih. Subjek favorit saya beralih ke Kimia. Tetapi ada satu pelajaran IPS yang saya minati, Geografi.

Ketika Kuliah, malah Kimia dapat E. Hahahaha. Saya gak tau salah dimana. Sebenarnya waktu kuliah tak ada satupun objek yang saya minati, saya lebih menikmati kongkow-kongkow di luar kelas sambil ngemil jajanan koridor. Matematika? Kalkulus yang menyedot SKS semasa kuliah membuat saya bosan melihatnya. Biologi? Tidak saya dapatkan lagi materinya.

Seharusnya saya mencintai Fisika karena kuliah seputaran ilmu itu, tapi ternyata tidak. Apa dong yaaaa?!

Selamat hari selasa… \m/

Guru

Saya kalau misalnya bingung dengan masalah fikih atau agama secara umum biasanya akan bertanya pada Bapak.

Seperti kemaren Saya tergerak ingin melakukan ibadah sunah tapi saya gak yakin akan kesahihan dalilnya. Akhirnya saya kirim text ke beliau “Pa, shalat …. itu dalilnya lemah atau kuat? Menurut Majelis Tarjih gimana?”

Saya bukan taqlid terhadap beliau tapi karena tau dia selalu membaca kitab-kitab yang tidak saya baca, dia juga sudah berkecimpung di ilmu fikih dan agama sudah lama dan punya majelis yang selalu membahas hal-hal yang berkaitan dengan dalil yang kuat, tentu saja pertimbangan dia menjadi sangat kuat buat saya.

Walaupun punya literatur buat tempat nyari tau, tentu bertanya dan tahu langsung lebih enak. Kalaupun masih ada yang mengganjal, bisa diskusi. Itulah enaknya ada tempat bertanya. 

Jadi sebagai orang tua, dia adalah juga guru buat saya yang selalu siap sedia kalau ditanya apapun. Kecuali hp-nya lagi lowbat atau lagi tidak mendengar notifikasi. 

Ini gara-gara apa sih ini tadi jadi cerita ini X)