Tentang Sendirian

Sering sekali di socmed orang membahas tentang “sendirian” yang dikaitkan dengan jomblo. Buat saya, apa sih yang masalah dengan sendirian? Saya sih suka makan sendirian, gak perlu ngobrol hal yang gak perlu selagi menikmati makan. Saya suka jalan-jalan sendirian, lebih meresapi perjalanan. Saya suka nonton sendirian, lebih bisa mengamati detail film. Bahkan saya suka karaoke sendirian, gak perlu rebutan mic dan kalau lirik dan nadanya ancur, gak perlu malu-malu. Etapi karaoke mah rame-rame lebih seru sih cyiiin..

Atau ada yang ngebahas dan seolah menertawakan orang ketika bulan puasa kemaren tentang orang-orang yang makan sahur sendirian . Loh ya kalaupun makan sahur ada temannya kan gak membuat makan sahurnya lebih bertahan lama kan? Laper mah laper aja, mau sahur siapa aja.

Ada lagi yang orang suka mikirin apa yang dipikirin waiters restoran kalau ternyata dia harus ke restoran sendirian. Memesan makanan untuk dirimu sendiri, sendirian. Kalau saya ketika habis mesen makanan dan makanannya datang, akan sibuk dengan apa yang saya makan atau dengan hp di tangan atau buku yang saya baca atau dengan lamunan-lamunan saya. Sebenarnya kita suka mikirin apa yang dipikirin orang lain tentang kita ya karena kita mau repot buat mikirin itu. Padahal ada aja hal lain buat dipikirin yang lebih menantang, misalnya tentang “taktik buat mendapatkan hati sang pujaan”. Uwopoooo.

Coba deh pikirin, banyak keuntungan dari single. Walaupun juga banyak keuntungan dari punya pasangan. Jangan mengorbankan single bahagiamu demi sekedar tidak mau ditanya waiters “sendirian aja, mbak?”. Gak penting itu. Sungguh.

Kalaupun saya akhirnya memilih untuk berdua dengan orang lain (seperti saat sekarang ini) dan ngapa-ngapain tidak sendirian lagi, tentu saja saya akan memilih pasangan yang membuat keadaan bahagia saya ketika single  itu jadi naik level, jangan malah turun. Maka nikmatilah masa single-mu, sampai kau temukan seseorang yang pantas menemanimu setiap waktu. Kan gitu aja kan yaaaaaaa…. Amiiiin!

Ah sok banget kamu Cit!

INTINYAAAA……GUE KESEL BANGET SAMA ORANG YANG BERPIKIR KALAU SEMUA ORANG SINGLE ITU GAK HAPPY. MASALAHNYA SAYA WAKTU SINGLE GAK GITUUUU……….

Udah ah. Selamat hari Kamis, manis….. jangan lupa bahagia.

Budaya Naik Eskalator yang Belum Berbudaya

Saya sudah jadi pelanggan tetap Commuter Line Jabodetabek sekarang. Buat yang sering ke Stasiun Tanah Abang pasti udah tau kalau sekarang tangga yang dipakai buat naik turun udah bertambah banyak dengan eskalator maupun tangga manual. Entah kenapa, sejak ditambah kok malah keriuhannya tidak juga berkurang. Setiap naik eskalator selalu terjadi keributan, terutama pagi hari yang emang jam puncaknya. Terjadi dorong-dorongan, kayak eskalator tuh bakalan lari aja. Yaaa saya tau sih, itu kan jam para pekerja ngejar absen biar gak telat. Jadi udah macam kompetisi aja mau keluar stasiun.

Dan karena begitu terus, pihak KAI memberikan arahan supaya setiap pemakai eskalator yang ingin cepat agar berjalan ketika menaikinya. Mereka yang terburu-buru ini diarahkan untuk menggunakan eskalator di sisi kanan (karena satu anak tangga bisa muat 2 orang). Jadi kalau kita mau diam aja di tangga, berdiri lah di sebelah kiri. Karena sebelah kanan isitilahnya buat “nyalip”, jadi musti jalan.

Awal pengumuman ini diumukan, saya sempat melihat orang berjalan di line kanan eskalator, tapi cuma sampai beberapa orang. Abis beberapa meter line itu jalan, lha kok mandeg lagi. Akibatnya ke belakangnya gak ada lagi yang namanya berjalan di eskalator, diam semua. Gemes amat deh liatnya.

Kayaknya buat sebagian orang, berjalan di eskalator adalah hal yang aneh. Mikirnya toh sudah ada yang bikin dia bisa gerak sendiri, kenapa musti gerak lagi. Memanglah idealnya menaiki eskalator dalam kondisi diam, tapi kalau di kondisi seperti ini dan sudah diarahkan, menurut saya mempercepat langkah kita ketika orang lain banyak di belakang adalah bentuk dari empati sama lingkungan. Herannya tadi kok gencet-gencetan kayak buru-buru amat. Udah nyampe eskalator malah selow amat gayanya.

gambar diambil dari internet

Justru di negara-negara maju,-utamanya Jepang- biasanya mereka udah mengerti. Ketika satu line sudah diperuntukkan untuk berdiri diam, maka yang satunya untuk bergerak atau terburu-buru. Malahan bahkan ketika line kanan kosong karena gak ada yang terburu-buru, yang naik diam juga tetap berdiri di jalurnya sebelah kiri. Udah jadi aturan tidak tertulis seperti itu. Dan percayalah, jalan dikit gak akan bikin kamu kurus kok. Halah.

Akibatnya yang buru-buru ya gak bisa buru-buru. Telat deeeeeeehh….

Selamat Selasa Pagiii wankawan….Muaaaah!

Cemburu

Anak saya yang baru semata wayang itu sedang jadi “anak bapaknya” banget. Sekarang apa-apa ngomongnya “Pak’e aja”. Aduh cemburu dibuatnya. Mau dipangku dia bilang “pak’e aja”, mau diusap-usap kepalanya menjelang tidur maunya “Pak’e aja”, apa-apa “Pak’e aja”. 😔

Ada enaknya sih. Di satu sisi memang saya gak harus khawatir mengenai hal kedekatan anak sama ayahnya yang merupakan unsur yang penting dalam parenting. Ada beberapa anak yang terlihat tidak dekat dengan ayahnya dikarenakan banyak hal.

Tapi…tapi…jangan gitu juga kali Caaaaaah…!

Sisi bagus lainnya, dalam beberapa hal saya merasa agak terbantu. Terutama dalam hal mengurangi beban mengurus rumah tangga (((rumah tangga))). Ketika dia tergantung sama bapaknya, saya bisa fokus mengerjakan yang lain. Karena sebelum kondisi begini saya seperti digondoli terus kemana-mana sama makhluk unyu tukang ngintil ini.

Dan saya juga bisa sedikit rehat. Toh digondolin terus itu emang butuh tenaga. Jadi kalau dia bilang “Pak’e aja”, saya kadang mbathin “yaudah sana, Ande-mu mau nonton film dulu”.

Tapi tetap aja, AKU CEMBURU….

Selamat idul fitri untuk teman teman yang merayakannya. Semoga amalan kita di bulan Ramadhan kemaren di terima di sisi Allah dan di bulan Syawal ini kita fitri kembali. 

Mohon maaf lahir dan batin. 🙏 

Argumen

Salah satu analisa-analisa tipe personality yang cenderung saya cermati adalah versi MBTI. Kalau zodiak mah buat lucu-lucuan aja, walaupun sering banget diomongin :)))

Eh barusan buka Pinterest kok ketemu tulisan ini. Terus jadi merasa “ring a bell”.

Loh kok iya. Saya jadi berpikir ke belakang-belakang. Saya yang merasa bahwa memberi argumen terhadap sesuatu itu adalah hal yang wajar dan udah jadi bagian dari cara memikirkan suatu hal, ternyata penerimaan dari sebagian besar orang tidak begitu. Sebagian orang merasa berargumen adalah mendebat yang mengindikasikan merasa diri paling benar.

Kadang malah berujung konflik, padahal nantinya dalam perdebatan itu saya tau bahwa itu cuma sekedar salah paham. Tapi gak sering juga malah terbawa emosi juga karenanya :))

Pernah juga saya merasa kecele ketika sedang merespon sesuatu bahkan dengan santainya, ternyata teman bicara malah menganggapnya nyolot. Kadang ya saya diam aja, tapi seringnya malah terbawa suasana. Kalau sama boss bisa lebih parah lagi, bisa diturunin tuh DP3.  Tapi bingung juga kalau ternyata itu udah kayak hal yang spontan terjadi di setiap keadaan.

Mungkin semakin kesini saya harus semakin sadar bahwa, tiap orang punya cara yang berbeda-beda dalam menanggapi orang lain. Mungkin saya harus menyesuaikan diri.

Adaro serta kebahagian-kebahagiaan yang dibagikannya

Apa yang membuat saya tertarik ikut berbuka puasa bersama Adaro kemaren? Yak, karna berbuka bersama 1000 anak yatim. Dan ketika ditanya ke panitia yang mengadakan acara ini, ini anak yatimnya beneran sampai seribu? “Iya” katanya. Memang sih, satu ballroom penuh dengan mereka, ya termasuk orang Adaro dan undangan lain. Takjub deh.

Awalnya saya mau ngajak si anak lanang biar sekalian ngajarin dari kecil merasakan kegiatan sosial seperti ini dan siapa tau ketemu teman main yang masih kecil juga, eh tapi gak taunya dia lagi gak fit buat dibawa keluar. Yaudah, ditinggal dulu sama bapaknya di rumah.

Sebenarnya Adaro udah melakukan buka bersama begini selama 7 tahun terakhir. Tapi emang baru kali ini saya ikutin. Dan karena udah sering mengadakannya maka menurut saya panitia udah kawakan banget. Terutama menyediakan sarana shalat dan wudhu yang memadai. Padahal saya udah menyiapkan diri buat kabur sebentar nyari mushala, eh ternyata ballroom ini dimodifikasi jadi mushala yang besar beserta tempat wudhu yang higienis dan cukup banyak.

Acaranya diatur dengan efektif dan tidak bertele-tele, mungkin mengingat yang ikut serta kebanyakan anak-anak yang mana mereka gampang sekali bosan. Sebelum berbuka, acara didahului dengan ceramah dari Ustad Megi. Ustad cilik gitu deh, baru kali ini saya liat. Karena lucu, ternyata menarik buat anak-anak sehingga ruangan jadi penuh dengan tawa.

Kelar ustadnya ceramah, eh langsung waktu berbuka. Tajil dibagiin sembari bedug, abis makan tajil langsung shalat magrib. Menyenangkan sekali melihat kebersamaan di antara semua yang hadir. Tanpa ada perbedaan semua gabung shalat berjamaah. Yang dibedain cuma shaf laki dan perempuan, yakaleee digabung. :p

Ternyata Adaro tau cara membuat anak-anak ini happy. Jadi kabarnya tahun kemaren di acara buka bersama ini Adaro ngasih surprise mendatangkan Cowboy Junior. Semua tau juga kalau Cowboy Junior itu di kalangan anak-anak dan abege adalah yang jadi JUARANYAAA 🎶 🎤

Karena anak-anak udah tau kalau bakal dikasih surprise, mereka tidak sabar lagi sepertinya.  Bapak Boy Thohir, Presiden Direktur Adaro ternyata sangat memahaminya, sampai-sampai speech-nya diperpendek biar bisa mempercepat tampilnya bintang tamu ini.

Dan untuk buka bersama kali ini yang didatangkan apa?!?!? Yaituuuu… JKT48! Wooow, jangankan mereka, saya aja ikut excited. Walaupun bukan WOTA, saya selalu suka melihat penampilan Jiketi. Sayangnya saya gak hapal lagu fortune cookies, my bad. 🙁 Tapi hits yang lain saya tau loooh. halah.

Banyak lagu yang mereka tarikan, eh nyanyikan, gak cuma selewat doang. Cukup puas lah dengan penampilannya. Yaaah terlepas dari soundsystem yang kurang memadai, salah sendiri berdiri di corong speaker X) JKT48 ternyata sangat interaktif, cocok dengan acara seperti ini. Gak salah Adaro mengundang mereka.

Terpujilah Adaro yang tidak hanya menyediakan tajil dan berbuka, tapi juga membuat perasaan anak-anak ini senang. Membuat mereka tersenyum adalah sedekah tersendiri menurut saya. Dan semoga Adaro akan rutin melakukan ini setiap tahun. Dan terimakasih juga tentunya udah mengajak saya ikut serta sehingga bisa melihat kebahagiaan itu merekah di senyum mereka.

Selamat beribadah Ramadhan manteman. Mari kita sebar-sebar kebahagiaan…. 😀