Selamat Jalan Bapak AM Fatwa

Alkisah, saya tidak pernah berniat nyoblos ketika pemilihan anggota dewan kecuali di satu waktu ketika saya liat ada wajah AM Fatwa di lembar sosialisasi pemilu anggota fraksi DPD Jakarta. Iya, saya liat mukanya di lembar pemilihan dan saya coblos dia. Sesudah dan sebelum itu tak pernah.

Innalilahi wa innalillahi rajiun, akhirnya beliau pergi menghadap Yang Kuasa. Semoga perjuangan dia untuk Indonesia mendapat balasan-Nya.

Mengenang masa reformasi ada 3 orang yang selalu saya ingat, walaupun saya tidak mengecilkan tokoh yang lain dan para mahasiswa yang berjuang waktu itu, yaitu Pak Amien Rais, Pak Abdilah Toha dan Pak AM Fatwa. Mereka adalah orang yang menurut saya sangat berintegritas, mungkin itu sebabnya saya mengaguminya, bahkan sampai sekarang. Buat yang tau Pak Fatwa bakal tahu betapa tanpa kenal lelah dan tanpa rasa takut dia menyuarakan apa yang menurut dia patut disuarakan. Dengan senapan dia tidak takut apalagi cuma sekedar dijebloskan ke penjara.

Banyak cerita-cerita beliau yang sudah dikisahkan, dan pula dibukukan. Semoga itu akan menjadi pengingat buat orang-orang tentang betapa gigihnya beliau menyuarakan amar ma’ruf nahi mungkar. Selamat Jalan wahai Bapak sang Pemberani. Semoga amalnya diterima Allah…

Stranger Things yang Layak Tunggu

Stranger Things adalah salah satu film serial favorit saya tahun ini. Walaupun sebenarnya suatu hal tidak bisa dibilang favorit kalau yang kamu tonton cuma itu doang :)) Karena kesibukan memang saya tidak terlalu bisa ngikutin banyak serial tahun ini sih, tapi yang satu ini memang susah buat ditinggalkan.

Saya memang penggemar science fiction, film yang saya ikuti misalnya Fringe, Breaking Bad, Black Mirror, Wayward Piners dan yang semacam itu. Tiba lah saatnya nonton Stranger Things, oh My God, i love this very much. Saya tak bisa memutuskan kecendrungan suka karena apa. Ceritanya menarik, pengambilan gambarnya bagus, aktor dan artisnya keren, karakter yang dibuat juga keren. Banyak aspek sih, dan tentu saja karena unsur science fictionnya.

Ditambah lagi settingan tahun 80-an yang membuat film ini bernuasa retro. eh bener gak sih itu retro namanya X) Semua komponen mendukung untuk setingan ini, musiknya, pakaiannya, desain interiornya, peralatan yang dipakai….dan rambut Steve yang ala-ala David Bowie.

Stranger Things sudah masuk ke season 2. Season 1 hanya 8 episode dan Season 2 hanya 9 episode. Tiap season memang tidak banyak, tidak seperti serial lainnya. Itu sih yang saya sayangkan, tidak bisa menikmati ini terlalu lama. Tapi karena masih ada season selanjutnya, sabar menunggu aja. Tapi beneran lamaaaaaaaaa….

Karakter di Stranger Things tidak terlalu banyak, dan anehnya saya menyukai masing-masing dari mereka dengan perbedaan sifat itu. Ada juga karakter yang tadinya tidak disukai tapi ceritanya lambat laun membuat kita mau tak mau jadi menyukainya. Dan juga ada penambahan beberapa karakter yang sepertinya dibuat untuk mengisi karakter-karakter kosong. Eleven sebagai karakter kunci di season awal memang tidak dimunculkan full di awal-awal episode season 2 ini. Dustin sepertinya tetap jadi idola semua orang. Apa itu Demo-dog? Tanya ke Dustin 😀

Ada twist-twist yang dibuat di season 1 yang jawabannya ada di season 2, tapi sepertinya kalaupun cuma menonton season 2 tidak akan merasa missing karena konflik yang diangkat berbeda walaupun masih dari sumber yang sama. Tetap menarik pokoknya. Ada perasaan bahwa beberapa peristiwa ditampilkan kurang intens dan sepertinya akan bisa dieksplor lebih. Tapi untuk saat ini sudah cukup mengobati kerinduan dengan film ini dan masih ingin nonton terus.

Saya akan menunggu season selanjutnya. Saya sabaaaaaaar….

Braga yang Ternyata Menyenangkan

Walaupun sering ke Bandung, saya selalu menginap di kawasan yang itu-itu saja, yaitu area Dago dan sekitarnya. Mikirnya karena ini lokasi yang paling bikin saya nyaman, udah kenal daerahnya, banyak Factory Outlet dan warung makan. Padahal juga kita jarang shoping di outlet-outlet itu loh X)

Ketika kemaren pengen nginap di Bandung lagi, suami yang pilih hotelnya. Dia kebetulan memilih hotel yang ada di Braga, saya hayuk-in aja. Kenapa tidak? Karena tujuan kita ke Bandung kali ini juga sekalian pengen ke Cimahi, jadi pilihan lokasi selain di Dago juga tidak masalah. Dan karena Braga gak terlalu jauh dari stasiun jadi kepikiran pengen jalan aja dari stasiun siapa tau deket ajah.

Kali ini saya puas sekali dengan pilihan suami. Gak nyangka ternyata nginap di Braga itu menyenangkan. Bukan karena hotelnya ya, tapi lokasinya. Braga itu seperti masuk kawasan seni gitu deh. Banyak tempat makan di pinggir jalannya, banyak toko lukisan, jalannya enak buat dijalanin dan tersedia bangku-bangku di sepanjang jalan dan kesan klasik masih terasa karena banyak terdapat bangunan-bangunan tua jaman Belanda. Kalau malam rame dengan pejalan kaki dimana Braga memang terkenal buat nongkrong nakanak muda.

Ternyata jarak Braga ke alun-alun juga tidak terlalu jauh. Habis sarapan kita memutuskan jalan kaki ke alun-alun. Kita memilih lewat gang-gang kampung yang lumayan asik. Asik karena ada penataan lingkungannya.

Ternyata saya ketemu tulisan Pidi Baiq yang ini. Yaaaay! sebagai penggemar beliau, saya selalu pengen ketemu tulisan ini. Pengen tapi gak pernah diniatin pengen tau ini posisinya dimana. Eh taunya di jalan Asia Afrika situ toh, baru tauuuuu. Minta difotoin suami biar punya fotonya aja padahal masih pakai baju tidur. Apabanget.

Sepanjang jalan menjelang alun-alun ini banyak sekali kakak-kakak costplay. Bisa diajak foto-foto juga tapi harap ngasih beberapa rupiah ke celengan mereka ya, karena mereka akan mengharapkan itu. Kayaknya tema mereka kebanyakan horor sih. Saya melihat penampakan dimana-mana, jadinya ngeliatnya selewat aja :p Karena anak bocah juga gak terlalu suka karakter ghost, dia juga gak antusias. Akhirnya kita menghabiskan waktu berlari-lari di karpet sintetis alun-alun. Lumayan menyenangkan.

Patutlah sekali-sekali nginap di Braga lagi untuk mengulang kegiatan seperti ini.

Selamat Rabu kawan-kawan \m/

Trotoar 

Jadi pedestrian di Jabodetabek itu berat sekali tantangannya. Gak semua jalan di di sini ada trotoarnya. Kalaupun ada, 2/3 tahun dalam setahun akan kena macam-macam proyek. Perbaikan gorong-gorong, penggalian sarana di bawahnya seperti listrik dan air, perbaikan trotoar itu sendiri, penataan tanaman di atas trotoar, imbas pembangunan sarana di dekatnya seperti JPO atau jalur bus, dll. 

Itu adalah hal-hal yang berurusan dengan pemerintah sebagai pengelola jalan, belum lagi karena urusan lain. Misalnya saingan sama pohon yang besar (walaupun hal ini perlu juga), saingan sama pedagang kaki lima, saingan sama motor yang pengen cepat sampai, saingan sama parkir mobil yang gak punya tempat parkir. Apa lagi ya? Ada yang mau nambahin?

Salah satu trotoar yang paling sering saya lalui adalah trotoar ke arah stasiun Pondok Ranji. Jalan dari trotoar ini juga merupakan jembatan di atas jalan tol. Jalan ini sangatlah ramai, dikarenakan langsung bertemu perlintasan kereta api. Belum lagi ini juga merupakan akses yang penting menuju Ciputat yang punya banyak sekali pusat keramaian. Tapi cobalah liat gambar di atas, itulah trotoarnya. 

Pondok Ranji itu stasiun yang menampung banyak orang. Karyawan kantoran Jakarta banyak tinggal di Bintaro, jadi bisa dibayangkan berapa banyak orang yang lewat jalan itu. Ditambah lagi kondisi pagi hari orang mengejar kereta, biasanya terburu-buru. Tapi jangankan mau buru-buru atau menyalip, bisa jalan dengan tenang dan nyaman aja udah syukur.

Kalau kebetulan di depan kita ada orang renta yang jalannya pelan, atau ibu-ibu yang lagi kerepotan bawa anak maka bisa dipastikan kita harus menunggu di belakangnya dengan sabar. Atau malah tambah miris lagi, dari kejauhan taunya kita melihat kereta yang kita tunggu sudah datang sambil gigit jari  X)

Satu lagi yang kadang bikin bete, sudahlah kita merana karena jalan di jalan yang kecil itu dan harus pelan-pelan, di sebelah motor klakson-klakson dengan galak. Situasi yang selalu macet dan banyaknya pangkalan ojek bikin suasana sering panas di sini. Klakson dari motor yang meraung-raung di belakang kita itu bikin keder juga, ditambah takut kesengol. Padahal kita jalan udah mepet-mepet sama pagar. Pokmen bikin bete deh.

Sekian. Curhat salah seorang pedestrian. Selamat jumat! Horeee liburaaaaan 💃

Ojek Online yang Berjasa

Hari ini ada demo Gojek, mereka gak mau ngambil orderan. Istilahnya off-bid. Sebagai pengguna rutin gojek, saya sempat bingung juga. Taunya tiba-tiba ketika mau order mereka ke kantor kok gak bisa, loading aja trus tiba-tiba gagal. Awalnya kepikiran apa gara-gara sinyal, terus melihat ke sekeliling banyak orang yang lagi kebingungan sambil melototin HP. Kemungkinan keadaannya sama dengan saya, lagi bingung dengan aplikasi ojek online ini. Trus saya cari tau dengan cara tercepat -socmed- ternyata benar, mereka sedang mogok. 

Untung saya punya alternatif ojek online yang lain, Uber. Kalau udah mentok banget baru pakai Grab, karena mahal banget.  

Dipikir-pikir memang orang menjadi sangat tergantung dengan ojek online ini. Bayangan telat cap sidik jari di mesin attendance padahal berangkat udah sangat pagi, akan bikin kesal. Mungkin juga orang-orang yang tadi order bersama saya. 

Pokoknya kemana-mana kalau sudah tidak tersedia angkutan massal macam kereta atau bus transjakarta, saya akan milih ojek ini. Bisa cepat langsung sampai di tempat, gak ngetem dan gak ugal-ugalan. Drivernya juga gak sembarangan, karena terkontrol sendiri dengan mekanisme “bintang”. 

Sepengetahuan saya para driver ini demo karena menuntut agar tarif jangan diturunkan. Memang katanya ongkos gojek jadi murah banget. Kalau demo gini perasaan saya terhadap driver ini agak dilema. Di satu sisi sebagai costumer tentu harga murah itu menguntungkan, tapi di sisi lain kan kasihan sama drivernya kalau pendapatnya jadi turun. Kecuali harga turun itu karena subsidi perusahaan, nah itu baru oke 😜 

Kalau bisa memang jangan terlalu murah. Diperhitungkan se-fair mungkin agar driver dan penumpang merasa sama-sama enak. Toh ketika saya menumpang motor trus merasa harganya gak sesuai, bakal inisiatif sendiri ngasih tips. Pokmen saya juga gak enakan hati kalau ternyata jarak yang jauh trus harganya murah banget. Asal jangan memberi harga malakin penumpang kayak ojek pangkalan aja, yang asal nembak itu. 

Mudah-mudahan mereka dapat solusi dari masalahnya. Karena driver yang bahagia juga berpengaruh pada penumpang. Drivernya happy, nyetirnya enak. 

Tolong perhatikan ya Bapak-bapak boss Ojek Online…. (halah kok ngomongnya di sini) 

Selamat Bulan Nopember manteman. Gaji masih ada? Apeu. 

Tentang Memasak

Buat saya memasak itu karena butuh, bukan hobi. Jadi saya memasak tidak sesering yang diharapkan. Tapi cukup lah untuk kategori tidak hobi. Karena suami  prefer dibawakan bekal dari rumah dan si anak bocah memang harus selalu dibawakan bekal sarapan karena dia harus ke daycare setiap hari.

Karena saya gak punya waktu banyak untuk memasak, sering akhirnya menu suami ngikut ke menu anak. Yang artinya dia harus mau makan makanan yang gak pedas, padahal saya tau dia sangat suka pedas 😁

Tapi pagi ini saya memasak dua jenis bekal. Yang satu buat suami, adalah udang plus kentang balado dan Tumis tauge. Si anak lanang saya bikinkan nasi goreng mentega dengan orak-arik telur dan sosis. Cukup niat bukan?

Mungkin suatu saat saya akan mencoba ngeblog tentang resep masakan, siapa tau bisa jadi bahan buat selalu ada ide blogging.

Nah setiap malam seperti ini saya biasanya akan mulai bingung tentang besok mau masak apa subuh-subuh. Kalau udah parah banget gak tau mau ngapain, yaudah beli aja…. Halah males.

Mari kita lihat besok. Selamat tiduuuur \o/