Entah Kenapa…

Entah kenapa, saya lebih gampang mencerna bacaan atau artikel baik yang berbahasa inggris maupun berbahasa indonesia ketika mendengar musik dengan headset.

Saya terkagum-kagum sendiri.

Tapi sayangnya tidak bisa dilakukan sering-sering karena saya harus aware menjaga anak umur 2 tahun. Paling memungkinkan dilakukan cuma saat dia tidur, itu berarti cuma malam hari di atas jam 9 malam. Tapi bagaimanapun itu, saya merasa bersyukur.

Saya Suka Sekali LSA Polda Metro Jaya

Mau semalas apapun sama birokrasi dalam mengurus dokumen yang berhubungan sama kependudukan atau kepemilikan barang (yang musti dipajakin), toh tetap harus dijalani juga. Mengurus KTP, NPWP, bayar pajak, apalagi ya? Yah banyak lah. Berhubung kendaraan di rumah dibeli pakai KTP saya, maka sayapun harus ikut serta mengurus pajak dan perpanjangan kepemilikannya. Dan kebetulan juga perpanjangannya sudah telat lebih dari setahun :p

Awalnya saya dan suami (dan ditemani anak bocah) memutuskan akan membayar pajak kendaraan ini di Kantor Samsat yang ada di Mall Gandaria City. Sesudah nungguin kantornya buka, selanjutnya kita bisa mengisi formulir pendaftaran yang diisi dengan lengkap dan dilengkapi fotokopi STNK, BPKB dan KTP. Ketika memasukkan berkas ke dalam box yang ada di depan bapak petugasnya, jangan lupa dilampirin STNK, dan KTP asli. Urutan dokumen dalam box adalah urutan antrian. Jadi, gak ada nomor antrian dan silahkan tunggu panggilan dengan pengeras suara dari petugas.

Ketika akhirnya dipanggil petugas tidak cukup lama, ternyata dianya cuma bilang “ini musti dibayar di kantor pusat karena telat lebih dari setahun. Ke loket SKP ya”. Sambil ngasih tulisan di formulirnya “LOKET SKP” pake spidol merah. Ahelaaaah ternyata salah tempat, padahal udah antri gini dyeeeh, walaupun ngantrinya gak lama. Untungnya formulir yang dipakai sama aja di semua kantor Samsat, jadi kayaknya kita gak perlu ngisi-ngisi lagi.

Dan saya bertiga cuuuus ke Komdak, Markas Polda Metro Jaya. Yang untuk kepengurusan begini punya kantor Pelayanan Satu Atap, jadi kita langsung tau kantor yang dituju.

Memasuki kantor ini kita akan diperiksa barang-barangnya, termasuk berkas yang akan kita urus juga bakal langsung disuruh perlihatkan. Kayaknya untuk meminimalisir calo untuk hal-hal seperti ini.

Saya langsung ke lantai loket SKP untuk mendapatkan Surat Ketetapan Pajak. Karena telat bayar, kena denda dong yaaaa. Loket ini juga sekalian dengan pembayaran asuransi Jasa Raharja. Saya baru ngeh kalau Jasa Raharja itu wajib dibayar. Lha wong kwitansinya pembayarannya aja dicetak di sana, jadi gak bisa di-skip. Tapi gapapala, buat kebaikan kita juga sih yang namanya asuransi. Abis petugas Jasa Raharja bikinin kwitansi, silahkan lanjut ke kasir pembayaran, presented by Bank DKI. Ingat ya, kalau gak punya atm card bank DKI, maka bawalah uang tunai yang banyak karena mereka gak terima gesek selain bank itu. Saya sampai nyari duit selipan dimanapun biar cukup bayar. Karena kebiasaan apa-apa digesek jadinya gak pegang duit banyak. Antri di bagian ini gak terlalu lama, cepet aja karena yang ngantri memang gak banyak dan petugas juga gak menunda-nunda pekerjaan. I love it.

Setelah lunas bayar untuk Surat Ketetapan Pajak bisa langsung ngurus perpanjangan STNK di lantai 4. Antri dulu dengan cara memasukkan dokumen pengurusan seperti sebelumnya. Tinggal nunggu dipanggil untuk dibuatkan kuitansi pembayaran perpanjangan. Setelah dipanggil, bayar sesuai yang ada di kuitansi di kasir Bank DKI (dengan lagi-lagi mengais-ngais dompet mencari uang tunai), bayar dan tunggu dipanggil oleh loket selanjutnya.

Gak perlu memasukkan dokumen ke loket manapun, karena loket pembayaran akan langsung meng-forward dokumen ke petugas selanjutnya yang akan menerbitkan STNK baru. Dan tidak menunggu lama lagi, loket di sebelah loket kasir itupun memanggil dan menyerahkan STNK yang dimaksud sambil berkata “sudah selesai, silahkan pulang”. Makasih Paaaak, you are rock! \m/

Karena birokrasi yang gak terlalu ribet, saya mengapresiasi Layanan Satu Atap di Polda Metro Jaya ini. Tidak perlu menunggu lama dan sebelum jam makan siang udah selesai. Jadinya saya bisa main ke mall dulu sebelum pulang ke rumah #apeu.

Tips and tricks :

  1. Bawalah pulpen sendiri untuk mengisi form yang harus diisi, biar gak perlu mengantri pulpen dengan para peserta antrian perpanjangan STNK yang lain. Mempercepat waktu pastinya.
  2. Persiapkan dokumen asli yang dibutuhkan yaitu KTP, STNK, SKP dan BPKB
  3. Fotokopi masing-masing dokumen asli tersebut yang akan dilampirkan bersama formulir isian.
  4. Bertanyalah kepada petugas setiap sesudah mengikuti tahapan yang dilewatin, biar gak nyasar dan gak bengong.
  5. Jika bukan nasabah Bank DKI, bawalah uang tunai. Yang banyak jika ternyata gak tau bakal bayar berapa alias belum cari tau dulu.
  6. Jangan sampai telat bayar pajak motor, biar gak ribet dan bisa perpanjang STNK di kantor Samsat terdekat, gak perlu ke kantor pusat.
  7. Jangan pakai calo karena sesungguhnya pengurusan ini gampang banget dan gak ribet. Petugasnya juga ramah dan responsif.

Demikian pengalaman saya mengurus pembayaran pajak kendaraan dan perpanjangan STNK. Mudah-mudahan sharing ini bisa jadi info yang berguna.

Selamat senin!

Pilkada Kali Ini…

Saya jarang ikut pemilihan umum, baik itu pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah ataupun pemilihan wakil rakyat. Orang seperti saya pasti ada aja yang menillai jelek ya, saya maklum kok. Ya gapapa ini kan negara bebas, bebas komen semaunya maupun bebas gak memilih, gitu. Tapi kemaren saya ikut pilkada Jakarta loh, ini buktinya :

Pilkada ini pasti pilkada yang akan diingat sepanjang masa oleh orang yang mengalami masa sekarang ini. Pemilihan Gubernur Jakarta tapi yang heboh sak-Indonesia.

Bisa tebak saya nyoblos yang mana? :p

Orang Minang dan Bubur Ayam

Berdasarkan hasil penelitian saya (apaan dah), orang Minang secara umum gak terlalu suka Bubur Ayam. Sebenarnya fenomena ini saya liat dari beberapa teman saya dan termasuk saya dulunya (pernah). Menurut saya bubur ayam itu gak ada rasanya, gitu doang. Beras dimasak encer trus dikasih kaldu dan kecap, udah gitu aja. Buat lidah orang Minang itu terlalu hambar. Bentuknya pun tidak mengenakkan. Apalagi kalau diaduk, makanya saya maklum sama #timbuburayamtidakdiaduk.

Sebenarnya ini hal yang biasa aja. Kadang memang kebiasaan aja yang membuat sesuatu bisa diterima. Sama juga seperti saya terhadap nasi yang sangat saklek. Ketika awal-awal tinggal di Jakarta, berat badan saya turun jadi 39 kg. Selain karena kerasnya hidup dan beratnya menempuh jalanan Jakarta, juga karena saya gak biasa makan beras pulen. Yang tadinya makan di kampung selalu nambah, di Jakarta bisa ngabisin sepiring nasi aja udah alhamdulillah. Karena susah ngabisin, porsinya pun akhirnya saya kurangi. Bahagia ketika akhirnya ketemu nasi pera, biasanya gara-gara dikirimin beras oleh nyokap dari rumah.

Tapi lama-lama toh menjadi biasa. Sekarang kalau makan ya udah nambah lagi. Pun dengan Bubur Ayam, sudah menjadi menu sarapan yang saya pilih ketika saya lagi tidak masak atau tidak menemukan Ketupat Padang yang enak.

Begitulah, sekelumit cerita bubur ayam.

Si Kecil dan Perbendaharaan Kata-Katanya

Anak saya sudah punya lumayan banyak perbendaharaan kata-kata. Ya kan udah 20 bulan ya, sebentar lagi 2 tahun. Kebanyakan kata-kata yang dia dapat memang dari lagu yang dia tonton di video youtube. Biasanya di kesempatan yang lain, saya dan suami akan mengulang-ngulangi lagi biar dia ingat.

Kata yang paling banyak adalah nama-nama binatang, termasuk bagaimana binatang tersebut bersuara. Tapi….dalam bahasa inggris X) Bukan apa-apa, video anak-anak yang bagus dan banyak di youtube itu emang yang dibuat oleh orang luar sono. Video lokal kebanyakan lagu yang itu-itu aja, yang bisa saya nyanyikan sendiri dan dengan video yang kurang menarik (maaf ya youtuber lokal). Kebetulan kami ingin mengenalkan bahasa lain selain bahasa ibu, jadi sekalian aja sih.

Nah untuk kata-kata yang lai,n ada berbagai cara dia mengekpresikannya. Seperti orang-orangan salju  yang sering dia liat ketika jalan-jalan ke mall yang lagi bersuasana natal, udah otomatis dia teriakin “Snowman!”. Atau ketika melihat gambar bintang dia akan spontan nyanyi twinkle-twinkle little star, jadi kalau liat bintang di saat yang lain dia akan berseru “twinkle!”, ahelah salah naaak. Sama seperti kalau melihat gambar salju turun, dia akan bernyanyi snowflake snowflake little snowflakes. Kayaknya dalam setiap scene hidupnya ada theme song gitu deh.

Buah-buahan sih yang susah. Nama buah-buahan dalam pikirannya kayaknya cuma banana dan orange. kalau yang bulat itu semua orange, hihihi. Belakangan udah tau apple karena dari lagu baru yang menggambarkan apel dengan jelas, tadinya apple adalah orange juga :p

Masih banyak sih kata-kata yang lain…tapi saya pengennya cerita yang ini aja. Apeu…

Selamat hari Jumat, Sobat. Bentar lagi libur panjang lho. Yaaay!

Desain Fancy dan Kids Friendly

Waaah udah lama gak ngeblog. Padahal lagi cuti guede yang secara teori harusnya banyak waktu selo, tapi kenyataannya dashboard blog malah gak keintip gini. Nah, karena cuti dan sering jalan-jalan jadi pengen review hotel aja. Siapa tau bisa jadi referensi buat yang mau nyari tempat nginep.

Lagi-lagi saya dan keluarga kecil ini jalan-jalan ke Bali. Apaaa? Bali? menstrim abis ya :)) Alasannya? pengen nyobain bawa anak bocah main ke pantai , pengen liat apa dia cocok liburan kayak gini. Sebenarnya saya penasaran aja, seberapa fun sih anak balita ini main air dan pasir, yang dari hasil pengamatan ini ternyata gak se-happy jalan-jalan ke kebun binatang atau akuarium raksasa.

Seperti biasa sebelum vakansi itu pasti sibuk nyari hotel. Akhirnya suami yang menemukan hotel ini secara online dan saya langsung tertarik karena yang diusung adalah room-nya yang tematik. Nama hotelnya Berry Glee, posisinya di Jalan Raya Kuta. Bukan di pinggir pantai kuta ya, jadi jangan terlalu berharap kalau keluar hotel langsung nemu pantai. img_20160918_111706

Begitu masuk lobby-nya kita langsung ketemu suasana colorful dan pop. Lobby terbuka dengan banyak sofa warna-warni aneka jenis. Juga langsung ngelihat kolam renang yang entah karena hotelnya sepi, jadi posisinya di depan gitu oke-oke aja. Walaupun kita datang sebelum jam 14.00 dan belum bisa check-in, tetap enjoy aja menikmati empuknya sofa di lobby ini.

Beginilah penampakan kamarnya. Maafkan hasil kamera yang kurang oke XD

img_20160918_112445 img_20160918_112451 img_20160918_112548

Mungkin karena menekankan “fun” pada hotel ini maka ketika check-in juga dikasih free karaoke 30 menit yang sayangnya gak kita cobain. Mengingat anak bocah masih terlalu kecil buat menikmati suasana ruang karaoke. tempat karaoke ini dinamakan Funpods, untuk karaoke dan lounge. Disewakan untuk umum sih sepertinya.

Sebenarnya kamar yang disediakan masih standar-standar aja sesuai kelas hotelnya. Bagusnya di sini ada hair dryer dan sofa yang cukup nyaman seukuran single bed yang bisa dipake buat tiduran. Kamarnya gak kecil-kecil-amat-ampe-susah-muter-badan seperti kebanyakan hotel yang menjamur sekarang. Dengan lantai karpet yang hangat jadi enak aja buat nyeker, gak perlu pakai sandal kamar. Anak bayi juga lebih fun main di lantai. Saya juga suka dengan wastafel kamar mandi dari beton jadi memang sekalian dicetak jadi meja kamar mandi, di-finishing dengan cat minyak warna putih yang lumayan oke. handuknya juga bagus dan empuk. Kekurangannya adalah….ada bagian pelapis ubin dinding kamar mandi yang copot. Ganti aja keleus. Juga view kamar saya yang kurang oke. Karena berada di pemukiman dan pertokoan, jadinya ya gitu deh.

Yang paling menyenangkan buat kita adalah playground dan kolam renang. Hisham paling gak tahan liat ginian, pasti langsung pengen main. Posisinya ada di bawah restoran dan di sebelah kolam renang. Playgroundnya sih imut-imut aja, cuma terdiri dari satu perosotan, mobil-mobilan dan beberapa see saw doang. Tapi itu udah cukup buat anak bocah ini happy sampai susah diajak berhenti. Biasanya abis sarapan kita langsung main ke sini.

Kolam renang juga lumayan oke.  Tidak besar sih tapi cukup enak dibuat berenang terutama dengan bayi. Dan di sini ada 2 jenis kolam, satu lagi kolam kecil buat anak-anak biar bisa main di air cetek. Airnya juga terlihat lebih bersih dan segar. Apa karena sepi ya? Fasilitas kolamnya juga bagus, ada handuk yang banyak dan besar.

Di pinggir kolam renang ada foosball, siapa tau ada yang minat main ginian. Bisa sambil ngebir…eh ngejus kali karena ada bar juga di sebelahnya 😀

img_20160918_171022

Bagaimana dengan restoran dan menu breakfast? Seperti biasa, ini review yang penting buat saya, muehehe. Kesan pertama dari restorannya adalah desainnya yang cukup oke. Area yang luas dan tematik pula. Ada meja kursi standar resoran, juga ada meja dengan sofa bernuansa homy dan malah ada sofa gede semacam sofa bed yang berada di depan tv yang langsung kita dudukin karena bisa nonton Disney Junior sambil makan.

img_20160919_080028

Menunya so-so, ada eggs station, salad corner, dan aneka cemilan. Juga ada buffet seperti biasa. Sayangnya kali ini saya gak nemu menu favorit sarapan saya, sosis dan kentang (yaelah standar amat). Tapi varian yang gak saya temukan di menu breakfast hotel lain malah ada seperti terong balado gitu.

Nah, mengenai kamar tematik yang saya bicarakan di awal, ternyata itu beda dengan kamar pesanan saya. Dan tentu saja lebih mahal… bhihik. Langsung aja kunjungi websitenya untuk kamar yang saya maksud, siapa tau tertarik.

Sekian dulu reviewnya ya, bhubuuuyy. Sampai ketemu di nginap-di-hotel-mana-lagi-? berikutnya….