Putaran Kedua

Pemilukada Jakarta sudah selesai. Finish. End. 

Hasil quick count sementara perhari ini, hari H, Anies – Sandi unggul sekitar 50an% persen. Masih bergerak naik turun di sekitar itu. 

Saya tidak memilih karena masih di kampung dalam rangka liburan nemenin bocah bermain sama sepupu-sepupunya. Ini juga penting mengingat dia memang butuh teman main, bosan kayaknya karena cuma temenan sama saya doang dan bapaknya sepulang kantor. 

Banyak yang bisa diceritakan dari pemilu gubernur Jakarta kali ini. Banyaaaaaaak. Perasaan saya campur aduk untuk ini. Tapi saya tidak akan menulis di sini. Cukup sudah capek melihat orang berakrobat jungkir balik di mana-mana.

Tapi saya yakin bahwa bangsa Indonesia  itu pada dasarnya rakyatnya ramah-ramah dan lucu-lucu. Saya yakin setelah semua ini, kita semua akan baik-baik saja. Tidak seperti keadaan di masa kampanye gubernur DKI, atau malah mungkin sejak dari masa kampanye presiden. 

Selamat malam Jakarta. Aku tidur dulu ya. Baik-baik ya. 

Didikan Subuh,  tradisi kampung yang masih ada. 

Yay! Pulang kampung lagi! 

​Kalau lagi di kampung, saya masih dengar setiap minggu subuh anak TPA ngadain didikan subuh di mesjid. Didikan subuh itu adalah penampilan dari para murid TPA berupa keahlian dalam ilmu agama seperti bacaan-bacaan doa, bacaan-bacaan shalat , ayat-ayat pendek, bahkan kasidahan, hmmm…apalagi ya? Dan mereka akan tampil secara bergantian. 

Disuguhkan sedemikian rupa, dengan MC segala. Pakai mukadimah dan susunan acara yang tertib. Dulu waktu masih ngaji saya gak pernah tampil sih, karena gak ahli apa-apa 😜

Nanti menjelang akhir acara biasanya ditutup dengan wejangan dari guru mengaji. Keluarga nenek saya kebetulan punya TPA, jadi biasanya bokap yang jadi guru buat ngasih nasihat ke para murid di sana. 
Biasanya tiap TPA ngadain didikan subuh ini, jadi biasanya sayup-sayup akan terdengar dari beberapa mesjid. Kayak sahut-sahutan. 

Udah jadi tradisi puluhan tahun, jadi malah senang aja denger suara itu. Kalau gak ada di minggu subuh itu ngerasa ada yang kurang.

Selamat berhari minggu manteman dan selamat berhari raya buat umat kristiani. 😊

Entah Kenapa…

Entah kenapa, saya lebih gampang mencerna bacaan atau artikel baik yang berbahasa inggris maupun berbahasa indonesia ketika mendengar musik dengan headset.

Saya terkagum-kagum sendiri.

Tapi sayangnya tidak bisa dilakukan sering-sering karena saya harus aware menjaga anak umur 2 tahun. Paling memungkinkan dilakukan cuma saat dia tidur, itu berarti cuma malam hari di atas jam 9 malam. Tapi bagaimanapun itu, saya merasa bersyukur.

Saya Suka Sekali LSA Polda Metro Jaya

Mau semalas apapun sama birokrasi dalam mengurus dokumen yang berhubungan sama kependudukan atau kepemilikan barang (yang musti dipajakin), toh tetap harus dijalani juga. Mengurus KTP, NPWP, bayar pajak, apalagi ya? Yah banyak lah. Berhubung kendaraan di rumah dibeli pakai KTP saya, maka sayapun harus ikut serta mengurus pajak dan perpanjangan kepemilikannya. Dan kebetulan juga perpanjangannya sudah telat lebih dari setahun :p

Awalnya saya dan suami (dan ditemani anak bocah) memutuskan akan membayar pajak kendaraan ini di Kantor Samsat yang ada di Mall Gandaria City. Sesudah nungguin kantornya buka, selanjutnya kita bisa mengisi formulir pendaftaran yang diisi dengan lengkap dan dilengkapi fotokopi STNK, BPKB dan KTP. Ketika memasukkan berkas ke dalam box yang ada di depan bapak petugasnya, jangan lupa dilampirin STNK, dan KTP asli. Urutan dokumen dalam box adalah urutan antrian. Jadi, gak ada nomor antrian dan silahkan tunggu panggilan dengan pengeras suara dari petugas.

Ketika akhirnya dipanggil petugas tidak cukup lama, ternyata dianya cuma bilang “ini musti dibayar di kantor pusat karena telat lebih dari setahun. Ke loket SKP ya”. Sambil ngasih tulisan di formulirnya “LOKET SKP” pake spidol merah. Ahelaaaah ternyata salah tempat, padahal udah antri gini dyeeeh, walaupun ngantrinya gak lama. Untungnya formulir yang dipakai sama aja di semua kantor Samsat, jadi kayaknya kita gak perlu ngisi-ngisi lagi.

Dan saya bertiga cuuuus ke Komdak, Markas Polda Metro Jaya. Yang untuk kepengurusan begini punya kantor Pelayanan Satu Atap, jadi kita langsung tau kantor yang dituju.

Memasuki kantor ini kita akan diperiksa barang-barangnya, termasuk berkas yang akan kita urus juga bakal langsung disuruh perlihatkan. Kayaknya untuk meminimalisir calo untuk hal-hal seperti ini.

Saya langsung ke lantai loket SKP untuk mendapatkan Surat Ketetapan Pajak. Karena telat bayar, kena denda dong yaaaa. Loket ini juga sekalian dengan pembayaran asuransi Jasa Raharja. Saya baru ngeh kalau Jasa Raharja itu wajib dibayar. Lha wong kwitansinya pembayarannya aja dicetak di sana, jadi gak bisa di-skip. Tapi gapapala, buat kebaikan kita juga sih yang namanya asuransi. Abis petugas Jasa Raharja bikinin kwitansi, silahkan lanjut ke kasir pembayaran, presented by Bank DKI. Ingat ya, kalau gak punya atm card bank DKI, maka bawalah uang tunai yang banyak karena mereka gak terima gesek selain bank itu. Saya sampai nyari duit selipan dimanapun biar cukup bayar. Karena kebiasaan apa-apa digesek jadinya gak pegang duit banyak. Antri di bagian ini gak terlalu lama, cepet aja karena yang ngantri memang gak banyak dan petugas juga gak menunda-nunda pekerjaan. I love it.

Setelah lunas bayar untuk Surat Ketetapan Pajak bisa langsung ngurus perpanjangan STNK di lantai 4. Antri dulu dengan cara memasukkan dokumen pengurusan seperti sebelumnya. Tinggal nunggu dipanggil untuk dibuatkan kuitansi pembayaran perpanjangan. Setelah dipanggil, bayar sesuai yang ada di kuitansi di kasir Bank DKI (dengan lagi-lagi mengais-ngais dompet mencari uang tunai), bayar dan tunggu dipanggil oleh loket selanjutnya.

Gak perlu memasukkan dokumen ke loket manapun, karena loket pembayaran akan langsung meng-forward dokumen ke petugas selanjutnya yang akan menerbitkan STNK baru. Dan tidak menunggu lama lagi, loket di sebelah loket kasir itupun memanggil dan menyerahkan STNK yang dimaksud sambil berkata “sudah selesai, silahkan pulang”. Makasih Paaaak, you are rock! \m/

Karena birokrasi yang gak terlalu ribet, saya mengapresiasi Layanan Satu Atap di Polda Metro Jaya ini. Tidak perlu menunggu lama dan sebelum jam makan siang udah selesai. Jadinya saya bisa main ke mall dulu sebelum pulang ke rumah #apeu.

Tips and tricks :

  1. Bawalah pulpen sendiri untuk mengisi form yang harus diisi, biar gak perlu mengantri pulpen dengan para peserta antrian perpanjangan STNK yang lain. Mempercepat waktu pastinya.
  2. Persiapkan dokumen asli yang dibutuhkan yaitu KTP, STNK, SKP dan BPKB
  3. Fotokopi masing-masing dokumen asli tersebut yang akan dilampirkan bersama formulir isian.
  4. Bertanyalah kepada petugas setiap sesudah mengikuti tahapan yang dilewatin, biar gak nyasar dan gak bengong.
  5. Jika bukan nasabah Bank DKI, bawalah uang tunai. Yang banyak jika ternyata gak tau bakal bayar berapa alias belum cari tau dulu.
  6. Jangan sampai telat bayar pajak motor, biar gak ribet dan bisa perpanjang STNK di kantor Samsat terdekat, gak perlu ke kantor pusat.
  7. Jangan pakai calo karena sesungguhnya pengurusan ini gampang banget dan gak ribet. Petugasnya juga ramah dan responsif.

Demikian pengalaman saya mengurus pembayaran pajak kendaraan dan perpanjangan STNK. Mudah-mudahan sharing ini bisa jadi info yang berguna.

Selamat senin!

Pilkada Kali Ini…

Saya jarang ikut pemilihan umum, baik itu pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah ataupun pemilihan wakil rakyat. Orang seperti saya pasti ada aja yang menillai jelek ya, saya maklum kok. Ya gapapa ini kan negara bebas, bebas komen semaunya maupun bebas gak memilih, gitu. Tapi kemaren saya ikut pilkada Jakarta loh, ini buktinya :

Pilkada ini pasti pilkada yang akan diingat sepanjang masa oleh orang yang mengalami masa sekarang ini. Pemilihan Gubernur Jakarta tapi yang heboh sak-Indonesia.

Bisa tebak saya nyoblos yang mana? :p

Orang Minang dan Bubur Ayam

Berdasarkan hasil penelitian saya (apaan dah), orang Minang secara umum gak terlalu suka Bubur Ayam. Sebenarnya fenomena ini saya liat dari beberapa teman saya dan termasuk saya dulunya (pernah). Menurut saya bubur ayam itu gak ada rasanya, gitu doang. Beras dimasak encer trus dikasih kaldu dan kecap, udah gitu aja. Buat lidah orang Minang itu terlalu hambar. Bentuknya pun tidak mengenakkan. Apalagi kalau diaduk, makanya saya maklum sama #timbuburayamtidakdiaduk.

Sebenarnya ini hal yang biasa aja. Kadang memang kebiasaan aja yang membuat sesuatu bisa diterima. Sama juga seperti saya terhadap nasi yang sangat saklek. Ketika awal-awal tinggal di Jakarta, berat badan saya turun jadi 39 kg. Selain karena kerasnya hidup dan beratnya menempuh jalanan Jakarta, juga karena saya gak biasa makan beras pulen. Yang tadinya makan di kampung selalu nambah, di Jakarta bisa ngabisin sepiring nasi aja udah alhamdulillah. Karena susah ngabisin, porsinya pun akhirnya saya kurangi. Bahagia ketika akhirnya ketemu nasi pera, biasanya gara-gara dikirimin beras oleh nyokap dari rumah.

Tapi lama-lama toh menjadi biasa. Sekarang kalau makan ya udah nambah lagi. Pun dengan Bubur Ayam, sudah menjadi menu sarapan yang saya pilih ketika saya lagi tidak masak atau tidak menemukan Ketupat Padang yang enak.

Begitulah, sekelumit cerita bubur ayam.