Piala Dunia 2018

Pas banget ketika final piala dunia 2018 kita ada jadwal ke kampung Tuban. Awalnya agak khawatir apakah bisa nonton di rumah atau tidak. Tapi ketika sadar bahwa di kampung biasanya malah siaran nasional tersedia, saya akhirnya tenang.

Tapi pas nyampe di rumah malah bengong, lah rumah mertua kan malah pakai parabola yang berarti siaran yang tersedia hanya format digital, pun dengan rumah-rumah tetangga sebelah, kebanyakan begitu. Kita kebetulan juga nyampe kesorean buat nyari antena UHF ke pasar.

Saya melihat suami kayaknya muter otak buat nyari cara agak kita bisa nonton final ini. Pilihan buat ikut momen nonton bareng di desa tetangga juga tidak memungkinkan, ada anak kecil yang gak dibolehin begadang. Padahal saya udah pasrah aja, berarti belum rejekinya aja bisa nonton momen ini.

Etapi kebetulan sorenya memang saya agak girang karena sinyal 3G di rumah ternyata sudah di-upgrade. Terakhir pulang, bisa whatsapp aja udah alhamdulilah, sehingga ekspektasi saya pulang kali ini masih sama, offline dari dunia Internet.

Nah karena sekarang sinyal GSM udah upgrade, suami mencari cara lain. Akhirnya ketemulah aplikasi yang bisa streaming. Akhirnya bisa nonton siaran bola di hp. Yaaay!

Selamat Juara Perancis! \m/

Belajar Melepaskan…

Belajar melepaskan….

.

.

.

.

Halah kek apa banget lah judulnya.

Ceritanya, saya lagi membereskan rumah, isi lemari, buku-buku yang numpuk di tangga dan membereskan hati. Uwopoo. Sekalian mau packing buat keperluan jalan-jalan kemana-mana bulan ini dan pindahan. Yay! Sejalan dengan membereskan ini saya memang terpikir untuk memilah-milah baju mana yang benar-benar dipakai, mana yang jarang banget dipakai, mana yang pantes disimpan dan mana yang memang harus ikhlas dihibahkan.

Banyaaaaak sekali memang baju yang dengan berat hati untuk ikhlas dilepaskan, keberatan utamanya biasanya karena mikir “pasti nanti kepake lagi”, alasan orang yang gak punya cermin besar di rumah. Baju-baju 10-kilogram-yang-lalu itu banyak yang memang dieman-dieman belinya. Tapi karena berpikir orang lain pasti akan bisa memakai dengan lebih optimal, jadinya ikut tersaring dari lemari.

Baju yang juga tetap saya simpan adalah baju hamil. Pengen lah punya anak lagi nanti. Jadi juga termasuk menyimpan baju-baju anak yang masih layak banget dipakai. Hampir semua layak sih, karena kebanyakan bayi tumbuh kembangnya cepat, jadinya baju-baju dia bentaran doang dipakai, sehingga masih bagus.

Akhirnya tersaringlah beberapa bal (((bal))) baju ya rencananya mau disumbangkan kesana kemari.

Kalau buku? Belum lah, belum siap melepasnya. Jadi masih tersimpan rapi dalam box. Nanti kapan-kapan mungkin saya akan bikin bursa buku di blog ini. Siapa tau ada yang minat.

Mau lanjut beberes dulu ah…. Bye 👋

Safari Hotel Ceunah…

Udah beberapa minggu ini kepikiran pengen nulis blog, tapi kayak gak punya sesuatu gitu yang musti ditulisin. Lah, selama ini emangnya nulis yang ada faedahnya Cit? Gak pernah toh? mehehehe. Tapi tiba-tiba banyak hal terasa gak pantas aja buat dipost. Padahal, yaelah….rasah dipikir amat tohyaaaaa…..

Ngomong-ngomong hari ini tuh saya lagi di Bandung sebenarnya, bersama si anak lanang satu itu. Udah ngubek-ngubek Bandung ke sana ke mari berdua saja. Sekalian kepikiran mau safari hotel gitu (gaya amat!). Ini baru hotel kedua sih, pengen yang ketiga kok udah kangen bapakke Hisham ya (hajiye). Antara kangen bapakke dan mikir duitnya juga. dasar sobat misqin.

Hotel yang pertama saya pilih karena desainnya. Karena penyuka desain ala Scandinavian minimalis gitu, saya tertarik liat deretan foto promosinya. Gue banget gituh. Memanglah ternyata tampilan hotel ini neat dan stylish. Dalam hal minimalis, emang minimalis banget sih, lemari pakaian aja gak ada termasuk minimalisnya channel tv. Saking sedikitnya saya gak tau mau nonton apa. Untungnya ada RTV, jadi anak bocah bisa nonton Tobot yang memang tak pernah dia tonton di rumah.

Satu lagi, sarapan tidak tersaji dalam bentuk buffet, tapi pilihan menu. Tapi dengan opsi menu yang seperti di bawah ini, saya tidak akan komplen 😀

Hotel ke 2 saya pilih lagi-lagi karena desainnya, sebelum utamanya karena rating di Traveloka. Desainnya cendrung industrialis yang juga saya suka. Ketika check-in, pelayanan front officenya oke banget. Trus seneng banget dapat mesin kopi kayak gini.

Tinggal masukin kapsul kopi, tambahin air di kontainernya, nyalain, jadi deh. Kopinya juga enak. Wah bisa mabok kopi nih eyke. Dibandingkan hotel yang pertama memang jauh lebih oke. Ketika Hisham ditanya lebih baik hotel yang mana, jawabnya “ini lebih bagus”. Ntaaap lah boooyy…

Oke, sekian update kali ini. Tunggu post-post selanjutnya ya…. Babay…

Patah Hati

Saya kadang terlalu patah hati untuk tau apa persisnya yang sedang terjadi. Kadang harus menunggu mental benar-benar siap untuk benar-benar mencari tahu. Apa contohnya? Seperti saat sekarang.

Saya tau ada dua kejadian terjadi berurutan. Pertama ada kejadian di daerah Tanah Kusir, semacam demo gitu. Sehingga daerah sana sempat ribut. Yang kedua, yang lebih membikin patah hati, ada kejadian di Mako Brimob.

Saya terlalu sedih untuk mencari tau lebih. Yang saya tau, ada peristiwa yang sudah merenggut beberapa nyawa.

Yang bikin tambah miris lagi, berbagai spekulasi dibuat karena peristiwa tersebut, padahal kehidupan orang lain sudah terenggut, dan tak ada spekulasi bahwa meninggal adalah meninggal, tak bisa balik lagi.

Saya sudah sering patah hati tentang Indonesia belakangan ini. Terlalu banyak yang menyedihkan hati tentang berantem yang tak ada akhir itu. Kadang saya cuma mencoba menutup mata, berharap yang terbaik buat keluarga kecil saya dan kerabat-kerabat agar selalu sehat wal-afiat. Dan selalu berdoa agar negara ini akan tetap baik-baik saja.

Postingan yang sangat sendu ya.

Ke Bandung Lagi dengan Pengalaman Berbeda.

Beberapa minggu kemarin saya menghadiri wisuda adik ke Bandung. Sayangnya jadwal wisudanya di hari Jumat, jadinya saya cuma menghadiri bersama anak sedangkan suami tidak bisa menemani. Maklum, di hari kerja dia selalu sibuk dan saya selalu punya alasan buat ngambil cuti :p

Setiap ke Bandung saya selalu punya pilihan untuk menginap, kalau tidak di hotel berarti di Cimahi, di rumah kakak yang memang relatif tidak terlalu jauh dari Kota Bandung.

Nah, karena weekend masih panjang dan mumpung masih pengen main sama anak dan ponakan dan juga karena kebetulan bapaknya para ponakan juga ada keperluan ke luar kota, kita memilih menginap bersama-sama di Kota Bandung.

Sesudah saya sibuk cari hotel, yang berarti sekurang-kurangnya dua kamar, saya akhirnya memilih nginap di apartemen. Hotel dengan harga miring lagi susah dicari karena sepertinya Bandung lagi banyak pengunjung dikarenakan wisuda ITB di hari yang sama. Pengalaman pertama nih nginap barengan di apartemen orang.

Saya cari yang dekat Ciwalk. Ciwalk selalu jadi pilihan tempat main yang pamungkas ketika bersama anak-anak. Mereka selalu suka berjalan-jalan di Teras Cihampelas, berfoto dan high-five sama cost play kesukaan mereka. Dan nanti ujung-ujungnya bermain di Game Zone Ciwalk. Para ibu kalau beruntung bisa juga cuci mata dikit (kalau para bocah ngasih waktu sih, ciyan amat).

Pengalaman nginap di apartemen? Lumayan menyenangkan. Karena unitnya lumayan bersih dan furniturnya memadai, kita ngerasa gak jauh beda dengan nginap di hotel bintang 2. Cuma berasa kurang karena gak disediakan sarapan dan handuk saja. Sebenarnya mereka menyediakan handuk, tapi harus sewa seharga 15ribu per handuk. Untungnya kita udah bawa handuk dari rumah.

Selebihnya bagus-bagus saja. Ada air panas, kasur yang empuk dan bagus. Ada tv, ac dan dapur. Disediakan air minum dispenser beserta peralatan makan lengkap. Desain interiornya minimalis, itu juga yang bikin saya suka.

Kelebihan menginap di apartemen juga karena berasa di rumah sendiri. Ada living room jadi bisa ngumpul bareng-bareng. Cocok untuk menginap keluarga yang banyak anggotanya. Kami yang bawa bocah 4 orang jadi bisa umpel-umpelan sama-sama sesukanya. Sofa di living room ini sofa bed, jadi bisa jadi alternatif tambahan ruang tidur, selain 2 kamar yang udah disediakan.

Yang terutama : Kolam renang. Abis sarapan seadanya, anak-anak bisa kabur ke area kolam renang buat main air. Liburan jadi tambah berasa dan tambah happy.

Menyewa apartemen mungkin akan selalu menjadi opsi tambahan saya jika menginap di suatu tempat.

Selamat Sabtu sore kawan, liburan kemana nih?

Sister

Akhirnya adik saya yang satu ini wisuda S2-nya juga. Akhirnya dia tetap bisa memenuhi cuti kuliahnya yang cuma 2 tahun itu. Sebentar lagi bakal ngantor lagi, selamat yaaa :p

Bangga banget sama anak ini. Kuliah S2-nya dimulai barengan ketika dia mulai hamil. Kuliah berarti sembari hamil kemudian melahirkan dan menyusui. Plus momong anaknya yang pertama yang berumur 4 tahun. Jauh dari rumah dan suami. Satu kata buat dia : salut!

Mengurus bayi baru lahir itu kan tidak gampang. Belum lagi menghadapi segala macam hormon ketika hamil dan menyusui. Tapi dia tetap komit buat ngasih ASI eksklusif, jadi di sela-sela perkuliahan musti bolak balik ke kontrakan untuk menyusui bayi. Tengah malam sembari ngerjain tugas juga harus momong 2 anak. Dimana yang satunya pasti sering minta mimik. 😀

Anak pertama yang udah balita itu juga butuh perhatian yang sama spesialnya. Tapi ponakan itu gak kalah pinternya. Hebatnya, dia bisa mendukung ibunya yang sibuk begini begitu.

Kita cuma bisa dukung dengan semangat dan doa. Sekali-sekali nengokin. Lha gimana, saya di Jakarta dan dia di Bandung. Keluarga yang lain di kampung. Tapi adik yang satu ini memang terkenal dengan keteguhan hatinya.

Selamat jadi Master, dek. Doakan kakakmu ini nyusul yo….