Tugas Siapa?

Kalau ada yang tidak tau sejarahnya, itu salah generasi tua atau generasi muda?

Alkisah, terjadilah percakapan antara saya dan nenek saya :

Nenek : Keluarga Amay (ibunya nenek) itu beradik kakak cuma berdua. Tapi adalah banyak saudara Amay yang lain yang beda ibu, Misalnya Si Anu (saya lupa namanya).

Saya : Hah? Siapa?

Nenek : itu loh yang anaknya Si Itu (lupa lagi namanya) yang tinggal di sana.

Saya : Itu siapa lagi? ndak kenal namanya, gak pernah denger.

Nenek : Eeeeee, ini keluarga sendiri kok gak tau…gimana sih…and the bla and the bla…  (a.k.a diomelin).

Dan saya cuma bengong, kemudian lanjut pegang hp, twitteran. Lah kan itu keluarga jauh banget, berapa generasi coba itu saya musti lompatin hapalannya (ngeles).

Atau cerita lain :

Nenek : Dulu batas tanah kita di kampung gak kayak bentuk siku-siku gitu, kenapa sekarang seperti itu sih bentuknya. Aduh, kalian itu musti perhatikan itu batas-batas tanah kita biar jelas yang mana aja yang musti dijaga.

Saya : Iya, makanya seharusnya dulu yang orang-orang tua itu ngasih tau sama kita tanah itu batasnya yang mana aja.

(Nah loh, saling menyalahkan)

Jika ada kejadian seperti ini, siapa yang musti disalahkan? Yang tua ngerasa itu tugas yang muda buat cari tau sejarah dirinya dan keluarganya, mereka harusnya tau apa yang seharusnya mereka tau, pokoknya gitu. Yang muda juga pasang badan bahwa jika mereka gak dikasih tau ya mereka musti tau darimana, dan bahwa sejarah memang musti diturunkan, agar yang di nanti diamanatkan tau apa yang menjadi tanggung jawab mereka.

Saya sih menyadari bahwa pentingnya permasalahan turun-menurunkan kisah sejarah ini, agar membantu sesuatu terjaga sepenuhnya. Adat istiadat dan warisan turun temurun atau dalam lingkup yang lebih luas dibawa ke khazanah Bangsa Indonesia adalah sejarah peradaban bangsa (tsaelah serius) adalah sesuatu yang harus dijaga, biar bangga, biar gak kehilangan jatidiri, biar punya karakter. Tapi ya itu, dua-duanya musti proaktif. Yang muda berminat mencari tau, yang tua dengan antusias juga ngasih tau.

Untuk sejarah keluarga, sudah beberapa saat yang lalu saya mencoba merunut silsilah keluarga dari bawah sampai atas, sampai seingat orang-orang tua yang bisa saya tanya. Gak sepenuhnya gampang ternyata, kakek saya kadang musti butuh waktu mengingat beberapa orang. Itu yang bikin saya sadar bahwa ternyata ini penting sekali, bagaimana jika tidak ada kakek, mungkin beberapa nama akan bingung saya tanyakan kemana, itupun kalau saya masih bisa bertemu generasi kakek yang uda tua banget itu. Sesudah ditanya ya dicatat, diarsipkan. karna gak mungkin bisa menghapal semua. Tapi setidaknya kalau sudah dicatatkan ketika saya butuh ingin tau tinggal saya buka catatan, begitu kan.

[![](https://i0.wp.com/images4.wikia.nocookie.net/__cb20090612023860/harrypotter/images/0/0d/Blackfamilytreeootp1.jpg?resize=400%2C223)](https://i0.wp.com/images4.wikia.nocookie.net/__cb20090612023860/harrypotter/images/0/0d/Blackfamilytreeootp1.jpg)
Loh, kok malah masang foto silsilah keluarga Black? :p
Untuk masalah yang lain misalnya tanah keluarga (yang ini gak kalah penting), saya sudah tanya-tanya ke orang tua tentang apa yang seharusnya orang muda seperti saya lakukan biar warisan keluarga terjaga? Hasil diskusi dengan orang tua sih bahwa perlunya semua tanah adat itu disertifikatkan, semua. Termasuk juga kepunyaan tetangga-tetangga yang saya yakin mereka juga tidak punya. Yah tau aja deh kalau berhubungan dengan ulayat atau harta keluarga turun temurun sekecil apapun itu biasanya gak ada surat resminya. Tapi hal seserius ini memang harus melibatkan banyak hal dan orang. Nanti ah tanya-tanya lagi di rumah gimana enaknya.

Jadi ya gitu, yang penting ada dulu yang berusaha untuk melakukannya, kalau enggak ya wassalam…

Gitu deh yang saya mau tulis kali ini, ini gara-gara tadi sore ngobrol sama nenek.
Caaao….