Tinggal di Luar Negeri

Saya selalu suka kalau salah seorang anggota keluarga besar sedang bernostalgia tentang sejarah keluarga, karena cerita keluarga besar selalu aja ada. Misalnya kemaren ada tante yang ngomong “kalau Ayah dulu mau, kita ini udah tinggal di luar negeri deh”. Ayah di sini adalah ayahnya tante yang berarti kakek saya yang saya panggil Ayah juga.  Saya pun bertanya “kok bisa?”, maka dia dan ibu saya berkisah tentang kehidupan mereka waktu kecil.

Dulu kakek, nenek dan anak-anaknya pernah memutuskan tinggal di Jakarta. Dikarenakan sewaktu pecah peristiwa PRRI, kakek yang ingin pergi ke “hutan” (sebagai pejuang PRRI seperti kebanyakan orang minang yang lain) tidak dizinkan oleh nenek. Biasa, ketakutan istri ditinggal suami perang kayak di film-film.  Akhirnya kakek nurut kata nenek walau tetap pro-PRRI, dan memutuskan pindah ke Jakarta. Kepindahan itupun dibantu oleh orang penting waktu itu, saya lupa. Tentara atau polisi kenalannya gitu deh. Sesudah tinggal di Jakarta, kakek yang seorang pegawai negeri dan bisa beberapa bahasa termasuk bahasa inggris dan jawa malah ditugaskan ke Suriname. Sebagaimana kita tahu kalau Suriname dipenuhi oleh orang Indonesia terutama beretnis jawa. Tapi lagi-lagi nenek tidak mengizinkan karena terlalu jauh, sedangkan dia sedang hamil anaknya yang ke…bentar…itung dulu… Oiya, yang ke 4.

Jadilah, mereka akhirnya tetap bertahan di Jakarta dengan hidup yang seadanya, karena kakek tidak digaji selama hampir setahun disebabkan bermasalah dengan penolakan ke Suriname. Hidup seadanya ini beneran seadanya, karena di kesempatan lain saya pernah diceritakan betapa beratnya hidup keluarga dulu ketika tinggal di Jakarta. Mungkin saya bisa tuliskan di kesempatan lain, kalau ingat. XD

Akhirnya saya tau kalau ada cerita begitu. Tapi tanggapan saya mengenai tinggal di luar negeri ya ndak antusias laaaa. Karena kalau itu terjadi, saya belum tentu ada. Ntar nyokap nikah sama siapa, terus bukan saya dong anaknya…. Lagian, luar negeri kok Suriname, ke Jerman gituh… X) Ahelah Cit!