Bagaimana Kalau Lagi Dapet?

Saya sedang membaca buku Quraish Shihab Menjawab tentang 101 soal perempuan yang wajib diketahui. Ada pertanyaan yang pas banget dengan pikiran saya ketika sekarang saya sedang lagi rajin-rajinnya mengaji, eh tau-taunya haid datang. Yah walaupun sepengetahuan saya sih tak apa-apa, tapi saya rasa kebanyakan perempuan merasa ada yang kurang saja ketika melakukannya karena merasa kurang “suci”. Mumpung ketemu dalilnya nih ya, saya blog kan saja tentang bagaimana pendapat bapak Quraish Shihab menjawab ini.
[![](https://i1.wp.com/3.bp.blogspot.com/-O4yW_70L334/UBJFKiW5DoI/AAAAAAAAAm4/d9-zLsLjQMA/s320/Quraish+Shihab.jpg?w=780)](https://i1.wp.com/3.bp.blogspot.com/-O4yW_70L334/UBJFKiW5DoI/AAAAAAAAAm4/d9-zLsLjQMA/s320/Quraish+Shihab.jpg?w=780)
Buku dipinjam dari [sini ](http://3.bp.blogspot.com/-O4yW_70L334/UBJFKiW5DoI/AAAAAAAAAm4/d9-zLsLjQMA/s320/Quraish+Shihab.jpg)
Dalil yang dipakai adalah : “*Janganlah** Al-**quran****dipegang****kecuali****oleh** yang **suci***” (HR. Malik melalui Amr bin Hizam). Nah pendapat berbeda-beda mengenai ini. Pendapat Imam Malik, Syafii. -> Memegang harus dalam keadaan suci yakni berwudhu. Pendapat Imam abu Hanifah -> bersuci adalah “dianjurkan”.
Selanjutnya tentang membaca (tanpa memegang) mayoritas ulama membolehkan. Apalagi jika membaca itu udah jadi wirid. Walaupun ada juga ulama yang ketat melarang.
Demikian pendapat bapak Quraish Shihab. Kalau saya meyakini bahwa itu adalah anjuran, membaca tak apa-apa. Susah menghindarkan diri dari tidak membaca quran kan, terutama al-fatihah. Apalagi misalnya orang yang senantiasa “harus” membacanya, misalnya guru baca Al-quran, ya bisa cuti ngajar terus kalau seandainya musti gak dibolehin baca, ihik.
Tapi pak Quraish Shihab mengingatkan bahwa ini adalah kitab suci yang harus dijunjung tinggi dengan kesucian lahir bathin.
Ayo cit baca lagi biar khatam!! *pecut*