Aku dan Pelajaran Kimia

Sekarang itu saya lagi seru-serunya nonton Breaking Bad walaupun dikata telat. Tapi lebih baik telat daripada gak datang-datang, ya? #malahcurhat. Suka ceritanya karena takjub ngeliat kepinterannya dan senang melihat bagaimana cerita ini memperlihatkan kehidupannya yang dilematis Sang Heisenberg sang penjahat yang dicintai itu :3

Terus saya teringat bagaimana saya dan ilmu kimia jaman sekolah. Kimia itu buat saya adalah sebuah subjek yang antara sayang dan tidak. Berhubung sebenarnya juga tak ada subjek yang beneran disukai waktu SMA kecuali mungkin cuma subjek gebetan (apasih), maka pelajaran kimia itu pun ikutan tidak benar-benar diminati.

Kemudian saya sadar, ini sebenarnya tidak terlepas dari guru pengajarnya (nyalah-nyalahin). Tidak ada guru yang bisa membuat kimia itu adalah sebuah benda yang menarik. Kimia cuma disajikan dalam sesuatu yang abstrak, misalnya kenapa sebuah reaksi kimia Zn(s) + CuSO4(aq) menghasilkan Cu(s) + ZnSO4(aq) (bener po ora?). Ya, yang disajikan cuma kayak tulisan begitu. Tulisan alay angka-huruf-besar-kecil apaah ituuh? digetok. Tapi ternyata toh dengan pelajaran seperti itu Indonesia masih menghasilkan pelajar yang masih aja jenius-jenius di kimia. Iya, beberapa teman-teman saya pinter-pinter di bidang itu. Kalau saya? ya masih bisa lah dipamerin karena gak jeblok aja 😀

Beruntungnya saya kuliah bukan memilih Teknik Kimia tapi teknik yang lain yang tapi ternyata mata kuliah dasarnya masih aja Kimia, hahahaha. Ya salah sendiri sih kenapa ngambil teknik yang  musti aja melewatin mata kuliah dasar IPA. Teknik sipil pun ternyata punya mata kuliah Kimia yang SKSnya cukup banyak. Dan saya melewatinya pertama kali dengan kegagalan dengan nilai terendah yang berarti mengulang di tahun berikutnya, jieeee… #malahbangga. Walaupun ketika sesudah mengulang  dapat nilai yang lumayan #ehm. Tapi kimia itu kan gitu, kamu musti sempurna ketika menjawab. Ketika mengawinkan sebuah reaksi, harus dapat reaksi yang persis benar, gak boleh yang “nyerempet bener”, karena nyerempet doang ya berarti gagal.

Dan ketika saya menonton Breaking Bad, saya menyesal kenapa saya tidak mendalami Kimia. Bukan…bukan karna mau bikin math dong (yakali!), tentu saja karena di film itu kimia terlihat menarik. Oiya, kenapa guru saya bukan Walter White, sekalian gitu aja kali komplennya. #KarepmuCit.

Uwes Curhatnya gitu aja.