The Journey becomes a Mom

“Melahirkan dengan operasi gak akan mengurangi nilai lo sebagai ibu cit” ~ Seorang teman.

Saiful Muhajir

Iya, saya akhirnya melahirkan dengan caesar. Sesudah mensugesti diri setiap saat bahwa saya akan melahirkan normal. Meyakinkan diri dan diyakinkan suami bahwa bagaimanapun dia bisa lewat di tempat seharusnya dia musti lewat. Melakukan berbagai hal supaya bisa melahirkan normal, dari sering jalan-jalan, sujud-nungging biar posisinya kepalanya di bawah, naik turun tangga biar bayinya turun, makan nanas dan nipple stimulation biar cepat kontraksi, ternyata si Junior gak mau lewat tempat yang biasa itu ๐Ÿ˜€

Dokter tempat saya konsultasi selama kehamilan memang dokter pro kelahiran normal, sehingga melahirkan dengan operasi tidak pernah terbayangkan sebelumnya, mental dan badan saya persiapkan untuk melahirkan normal, tentu saja begitu. Namun ketika saya pindah konsultasi ke dokter lain dikarenakan melahirkan di kampung, ternyata dia sudah mensinyalkan bahwa saya akan melahirkan operasi. Penyebabnya : Bayinya udah berukuran besar. Dunia langsung suram. Oops tunggu dulu, saya tidak mau menyerah begitu saja karena hal itu. Karena dari berbagai artikel saya baca dan banyak orang yang saya tanyai, ukuran bayi bukan penghalang bagi mereka untuk melahirkan secara normal.

Saya tidak menyerah, maka dicarilah second opinion. Saya cari dokter yang lain yang saya tau juga pro kelahiran normal. Ketemulah seorang dokter di Bukittinggi. Awalnya memang dokternya bilang saya akan bisa melahirkan normal, tapi semakin bertambah minggu usia kehamilan semakin ragu tampang dokternya :))) Konsultasi pertama memang dia bilang ukuran bayinya gede, tapi dia masih optimis. Minggu selanjutnya bayinya sungsang, dia suruh sujud-nungging dan syukurlah konsul selanjutnya kepalanya udah ke bawah lagi, oke masih optimis. Minggu berikutnya bayinya melintang, apaaah? melintang?! oke saya disuruh lagi sujud-nungging yang manjur lagi, bayinya di posisi normal lagi. Sejalannya waktu itulah saya mulai melihat rona keraguan di wajah dokter. Awalnya dia pikir ini adalah kehamilan saya yang kesekian jadi kemungkinan melahirkan normal menjadi lebih gampang, tapi ketika saya bilang ini adalah kehamilan pertama reaksinya berubah. Utamanya dikarenakan bayinya belum masuk panggul dan posisinya masih di atas.

Berdasarkan arahan dokter di Jakarta yang menyarankan agar saya melahirkan di minggu ke-37 lah menjadi acuan saya memperkirakan kapan harusnya lahir si bayi. Berhubung umur kandungan udah menjauhi due-date dokter tadi, maka saya beranggapan udah oke aja kalau saya bayinya dilahirkan saja. Saya sudah siap dengan induksi. Akhirnya dokter di kampung mau membantu melahirkan walaupun saya belum konstraksi, katanya “kamu minggu depan ke sini aja, nanti kita lihat, pokoknya kita usahakan walaupun mau induksi atau operasi. Suaminya disuruh pulang aja”. Iya, suami udah mau pulang kok dok ๐Ÿ˜€

Akhirnya saya melahirkan di dokter sebelumnya yang bilang bahwa saya kemungkinan akan operasi, karena toh dokter yang pro kelahiran normal itupun sepertinya akan tetap melakukan operasi kalau bayinya gak turun juga. Memang, bayinya gak turun-turun, pun gak pernah kontraksi. Dia masih senang di perut ibunya. Karena hangat dan makanan berlimpah kali ya. ๐Ÿ˜€

Jeng jeeeeng…begitulah selanjutnya, saya naik meja operasi. Benar-benar membuat stress. Saya memang belum pernah “menyentuh” rumah sakit karena alhamdulillah selama ini belum pernah sakit kategori parah, tapi ini sekalinya ditangani rumah sakit langsung dibedah, dipasangi infus dan kateter. Pasang kateter saja sudah bikin shock :'(( Untung ada suami di samping saya yang menemani selama menunggu masuk ruang operasi. Butuh tiang buat pegangan ini >_< ((tiang))).

Masuk operasi dengan badan agak menggigil yang gak bisa ditahan, eh masih sempat liat darah tercecer dari pasien operasi sebelumnya. Buseeet, hambok ya dibersihin dulu baru pasien baru dibawa masuk. Pas mau disuntik punggungnya sempat nanya “itu yang disuntik tulangnya ya?”, pertanyaan bodooooh hahahaha. Tapi ternyata abis disuntik trus badannya jadi kebas dan sesudahnya gak berasa apa-apa. Lhawong selama operasi diajak ngobrol sambil ketawa-ketawa sama dokternya. Dokter yang baik, walaupun dia tahu saya berkhianat ketika mencari second opinion ke dokter yang lain.

Apa yang mengalahkan cerita itu semua? Yaitu ketika dengan pandangan terbatas karena dihalangi tabir pembatasย  akhirnya melihat seorang bayi kecil baru lahir dengan jidatnya udah mengernyit dengan tangisan yang sangat kuat. Ya Tuhaaaan. Saya jarang terharu, tapi melihatnya ternyata air mata susah ditahan. “Keningnya mirip ibunya” itu kata dokter anestesi, saya cuma tesenyum. Kemudian wajahnya disodorin buat dicium sebelum selanjutnya dibawa ke bapaknya buat diazanin. hisham

Bagaimana rasa perut sesudah operasi? Gak usah ditanyaaaahahahaha. Pokoknya bikin gak bisa tidur ๐Ÿ˜€

Begitulah. Akhirnya saya jadi Ibu…. :’)

5 Comments

  1. huhuhu… bikin terharu pas bagian “..akhirnya melihat seorang bayi kecil baru lahir dengan jidatnya udah mengernyit dengan tangisan yang sangat kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *