Tak Lekang Oleh Zaman


A.A. Navis
fotonya pinjam dari sini
A.A Navis.. tak banyak yang saya katahui tentang dirinya selain dia adalah seorang pujangga angkatan tahun 50 – 60an. Berikut sedikit saya salin biografinya dari buku :“A. A. Navis lahir 17 November 1924 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Ia mendapat pendidikan di Perguruan Kayu Tanam. Pernah menjadi Kepala Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Sumatera Tengah di Bukittinggi (1952 – 1955), pemimpin redaksi Semangat di Padang (1971 – 1982), dan sejak 1969 menjadi Ketua Yayasan Ruang Pendidik INS Kayu Tanam. Karya-karyanya adalah Hujan Panas (1964), Kemarau (1967), Di Lintasan Mendung (1983), Dialektika Minangkabau (1983), Alam Takambang Jadi Guru (1984), bertanya Kerbau ke Pedati (2002) dan Saraswati, si Gadis dalam Sunyi (2002)”

Saya dulu selalu mengingat nama beliau ketika pelajaran bahasa indonesia, tak lain dan tak bukan karena selalu terngiang tentang buku “Robohnya Surau Kami” yang sepertinya sangat disanjung-sanjung oleh sang guru. Sempat membaca di perpustakaan sekolah yang tentu saja sekarang tidak teringat lagi ceritanya..hehehe.

Sesudah beberapa kali melihat buku ini di toko buku dan melewatkannya, akhirnya saya putuskan untuk membeli. Kesimpulannya dari buku ini adalah : ini buku yang fenomenal!
Sebuah buku dengan pemikiran modern di tahun yang sangat jauh di masa lalu. Sebenarnya tak perlu heran juga sih, bukankah kejeniusan pemikiran generasi-generasi dulu yang membuat kita bisa setara di mata dunia di masa sekarang ini (aduuh..serius banget ciit).

Oke, jadi ceritanya buku ini tentang apa cit?
Sebenarnya cerita ini adalah semacam kumpulan cerpen dengan tema-tema yang berbeda di dalamnya, walopun tidak jauh-jauh dari tema pergesaran-pergeseran nilai di masyarakat, eh jangan menganggap cerita ini terlalu berat sehingga membosankan untuk di baca ya, justru di dalamnya adalah cerita-cerita ringan, walopun ada cerita yang tidak biasa, tapi tetap saja didalamnya sarat dengan makna.

Contohnya tentang cerita yang dijadikan sebagai judul buku ini, yaitu “robohnya surau kami” di dalamnya juga memuat dialog sang tokoh utama dengan Tuhan. Betapa dia kekeuh membela diri sebagai orang alim, tapi tetap di masukkan oleh Allah ke Neraka. Menggugah tentu saja.. dan kritis kalo di tinjau dari sudut lain.

Juga ada cerita dengan ending yang membuat kita ternganga karna tak menyangka akan dieksekusi di luar harapan kita. Seperti nonton thriller dengan ending tak terduga toh? #halahlebay, ya tapi tentu saja dengan format pendek karna ini kembali lagi adalah sebuah kumpulan cerpen.

Tentu saja lagi-lagi saya tidak bisa tak menganggumi sang pengarang yang dengan kebriliant-annya mampu menciptakan cerita-cerita seperti ini. Walopun dengan seting masa krisis penjajahan jepang atau setingan kehidupan sederhana.

Kedepannya saya bertekad akan sering lagi membaca karya-karya pujangga lama, agar kembali merasakan bahwa begitu hebatnya para penulis kita dulunya.. Amin..amin.. ๐Ÿ˜€

 

4 Comments

  1. hmm..kolektor buku ni,,
    memang kalo mau menggali lebih dalam karya2 orang dulu yang telah dibukukan, sangat menarik untuk dipelajari, apalagi buat pemuda2 sepeerti kita..

  2. Aiiih pengen juga dapetin tu buku cit.
    Robohnya Surau Kami memang ajib! ๐Ÿ˜€

    Asiknya, nemu lagi blogger pecinta buku, hehehe
    *mwah* hihi

  3. @zainul : agak terlalu tinggi kalo di bilang kolektor, tapi emang suka membaca. walopun lagi turun2nya nih semangat ๐Ÿ˜€

    iya,karya-karya zaman dulu yang semakin tua semakin tinggi nilainya ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *