Pulau Pari yang Lebih Menyenangkan

Horeee, akhirnya saya berhasil lagi ke Pulau Seribu, dan kali ini mengunjungi Pulau Pari. Setelah perjalanan pertama Kepulauan Seribu saya yaitu Pulau Tidung, maka keinginan untuk mengunjungi lagi terwujud sudah dengan mengunjungi Pulau Pari ini.

Modalnya nekat. Karena memang belum pernah sebelumnya. Bekal liat-liat petunjuk dan nanya-nanya akhirnya sampai juga saya di Pulau Pari nan semlohay itu. Saya naik perahu biasa yang dipakai buat ngangkut-ngangkutin para penumpang nan mencoba hipster dengan kondisi umpel-umpelan tapi masih asik aja karena emang dibawa asik. Dengan biaya Rp. 35.000,- perorang naik dari pelabuhan nelayan, bukan pelabuhan punya Dinas Perhubungan itu loh. Oiya, kalau naik dari pelabuhan kepunyaan Dinas Perhubungan memang lebih layak dan rapi, tapi kapalnya terbatas, jadi harusnya booking dulu mungkin.

IMG_20131012_072538_997

Saya enggak snorkling, karena lagi pengen menikmati pantai saja. Karena yang namanya Pantai Perawan itu Subhanallah bagus banget. Bersih dan berpasir putih. Agak beda dengan pantai yang menghadap ke Jakarta seperti pantai pelabuhannya atau pantai LIPI, di bagian itu memang banyak sampah bawaan pulau seberang. Laut di depan pantai perawan punya dasar yang dangkal, jadi kita bisa jalan ke tengah laut sambil berendam main air. Jauhnya kira-kira sampai 500 meter. Saking dangkalnya memang gak bisa dipakai berenang. jadi cuma buat berendam aja.

Posisi sunrise dan sunset juga ada di Pantai Perawan, makanya pantai ini jadi spot paling laris. Mau foto-foto memang di sini tempatnya.

IMG_20131012_172141_858

Tapi menikmati pantai LIPI juga gak kalah menyenangkan karena viewnya bagus dan bisa menelusuri semacam tanjung buatan ke tengah laut yang di ujungnya ada bangunan yang mungkin diperuntukan untuk kepentingan penelitian. Juga ada pelataran dari dak beton, kalau bawa alat pancing bisa mancing di sana.

Memancing

Menikmati pantai dan laut doang aja udah puas banget rasanya. Jadi abis ini mau posting foto-foto aja ya 😀

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

IMG_20131012_171916_319-MOTION

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Seperti di pulau lainnya, kita bisa meminjam sepeda untuk mempermudah keliling-keliling pulau. Sewanya sekitar Rp 15.000,-

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Untuk memenuhi kebutuhan makan lebih baik sekalian pesen ke penginapan, tinggal nambah Rp 20.000,- sekali makan. Si empunya penginapan biasanya menawarkan. Saya lakukan itu untuk sekali makan yaitu makan malam karena siang saya lebih memilih kelayapan jadi makan siangnya di warung aja, yang berarti cuma indomie rebus atau gorengan karena di pulau ini tak ditemukan semacam warteg atau rumah makan padang. Saya mencium aroma konspirasi wahyudi di sini… *elus elus dagu*

Pulang siang hari besoknya dan saya kembali naik kapal biasa yang tentu saja bayar lagi Rp. 35.000,- dengan sebelumnya tak lupa makan otak-otak yang banyak dijual di sekitar pelabuhan.

Dan saya pulang dengan hati senang tralalalala…trilililili… mari kita mencari pantai lagi….

nb: harga penginapan di sini Rp 300an ribu per rumah, akan lebih murah lagi jika weekday. Kalau punya tenda saya rekomendasikan pakai tenda saja di pinggir pantai.

Mari Ke Puncak Lawang

Jika ke Sumatera Barat dan ke daerah Bukittinggi, jangan lupa singgahi dulu Puncak Lawang. Puncak Lawang ini ada di daerah Agam. Puncak Lawang ini ada jalan menuju ke Danau Maninjau, jadi abis ke sini juga bisa melanjutkan ke Danau Maninjau.

Ini adalah wisata buat mata karena yang dinikmati adalah pemandangannya. Viewnya adalah Danau Maninjau itu sendiri yang ada di bawahnya. Puncak Lawang juga merupakan daerah yang banyak ditumbuhi Pinus, tumbuh berkelompok dan rapi. Batangnya menjulang tinggi dan asri. Daerahnya yang tinggi bikin adem dan nyaman. Alhamdulillah sekali juga tempatnya relatif bersih, jadi gak bikin misuh.

Di tempat ini juga bisa olahraga paralayang (atau paragliding?) dan lumayan cukup terkenal di sini sebagai tempat olahraga itu, beberapa wisatawan luar datang ke sini untuk olahraga itu. Finishnya di danau Maninjau itu. Dulu saya pernah liat gantole tapi sepertinya sekarang tidak ada lagi.

Tersedia juga fasilitas Outbond di sini, ada flying fox, trampolin, dll. Kurang laku apa karena salah hari ya?
ini tangga wahana outbondnya doang :p

Karena viewnya bagus, tempat ini bagus banget buat tempat foto-foto. kali-kali ada yang minat foto pre-wed di sini #ihik.

Sebenarnya awal jalan-jalan ini adalah pengen ke Danau Maninjau dengan tujuan mencari Pensi. Pensi adalah kerang danau yang dimasak dengan bumbu-bumbu dan banyak bawang. Sebenarnya gak benar-benar dimasak sampai matang, karena pensi yang enak adalah yang kulit kerangnya belum kebuka maka jatohnya setengah matang. Ketika tadinya niat cuma mampir di Puncak lawang, eh taunya ketemu pensi ini di Pasar Lawang, akhirnya tujuan ke Danau Maninjau dibatalkan karena misi telah tercapai, hahaha. Dasar pada tukang makan.
Pensi ini sangat enak, saya sangat suka, dan itupun harus pensi Maninjau. Walaupun Danau Singkarak juga menghasilkan pensi tapi tidak sama rasanya dengan pensi Maninjau
Sepanjang jalan ke Danau Maninjau itu hijau dan segar, bikin terkagum-kagum deh. Wisata tersendiri lah sepanjang jalannya.
Jadi, kalau ke Sumatera barat jangan lupa mampir ke sana ya. Gak nyesel pokoknya. 🙂

Bagaimana Mudik Tahun Ini?

Selalu yang jadi problem saya menjelang lebaran adalah bagaimana cara mendapatkan tiket pesawat yang “agak” murah untuk mudik lebaran. Iya, selalu begitu, setiap tahun. Jadi masalah tiap tahun dan selalu tidak belajar dari pengalaman #selftoyor. Akibatnya seperti sekarang, saya sedang memikirkan kalau ada waktu luang tentang apa solusi-solusi tentang masalah saya ini.
Diomelin udah sering tentang ini, hahaha. ya bagaimana ya. Saya ini peragu, eh bukan peragu ding, agak susah dalam hal mengantisipasi persoalan semacam ini. Bahkan saya baru benar-benar tau kapan cuti bersama lebaran selang beberapa hari ini. Jadilah semacam khayalan tingkat tinggi jika mengharapkan mendapatkan harga tiket pesawat yang manusiawi.
Kadang juga bukan cuma harga tiket yang tinggi yang ditakutkan, tapi juga kehabisan. Maklum perantau minang yang sangat banyak membuat hal itu sangat mungkin.
Apa biasanya yang saya lakukan kalau begini?
Pasrah, dengan keinginan pulang kampung yang sangat tinggi saya kadang menempuh segala cara untuk mewujudkannya, termasuk menguras dompet. Bagaimana lagi… #ihik. Padahal dengan harga pesawat PP Jakarta-Padang ketika mudik itu bisa membuat saya bisa bolak-balik di hari biasa. Ah sudahlah ya….

Penerbangan ke Bandara Terdekat selain BIM. Ini pernah saya lakukan. Jadi saya melakukan penerbangan ke Pekanbaru. Sesampainya di Pekanbaru saya nyambung dengan darat ke PadangPanjang. Ini lumayan ngirit karena memang penerbangan Pekanbaru relatif lebih murah dari ke Padang padahal lebih jauh loh jaraknya. Tapi resikonya membutuhkan waktu relatif lama sampai di Kampung. Pekanbaru-Padangpanjang bisa memakan waktu 4-5 jam.

Naik Bus Pulang Basamo, ah ini kalau beruntung banget jika kebetulan ada yang nawarin buat pulang basamo. Biasanya mahasiswa-mahasiswa rantau Jakarta atau Bandung yang suka bikin acara ini. Dulu sih beberapa kali saya suka ikut, cuma seiring pergeseran waktu dengan wajah semakin tidak mahasiswa lagi, gak pernah lagi ikut. Juga karna dulu adik saya masih mahasiswa di Bandung sih, makanya sering diajak dan sekarang dia udah lulus..hiks.

Naik Bus Angkutan Umum, ini yang paling menantang, menantang punggung tepatnya. bihik. Tapi sebenarnya saya suka naik Bus Umum begini, saya suka memandangi jalanan dan daerah-daerah yang saya lewati. Kalau malam tinggal tidur karena toh sebenarnya saya tidur di bus nyenyak-nyenyak aja. Cuma yang bikin saya agak berfikir panjang adalah karena membutuhkan waktu yang lama sehingga membuat spare waktu di kampung lebih sedikit. Iyalah, di jalan itu kira-kira 36 jam atau 2 hari 1 malam. Padahal saya selalu tidak senang meninggalkan kampung cepat-cepat. Tapi biasanya naik bus ini saya pastikan dulu saya bisa cuti panjang alias ngeborong semua cuti yang ada biar waktu yang tersedia lebih lama.

Kadang saya mengkombinasikan, misalnya mudik naik pesawat, balik naik bus. Atau pulang lewat Pekanbaru dulu, balik naik pesawat. Pokoknya hal-hal yang memungkinkan bisa dilakuin untuk bisa lebaran dengan gembira di rumah.

Jadi, lebaran sekarang mudiknya gimana ya? *gigit-gigit kuku*

Preman Angkutan Umum

Jika ke Padang, datang di Bandara Internasional Minangkabau dan keluar dari pintu kedatangannya, hal yang pertama akan kamu temukan adalah calo. Calo angkutan umum atau taksi atau travel. Baik angkutan yang resmi atau tidak. Selanjutnya akan diberondong dengan pertanyaan “mau ke mana?”, “taksi?”, “ke Bukittinggi?”atau “udah ada yang jemput?”. Dan jika dijawab sekali pun itu akan belum cukup, satu pertanyaan akan diberondong dengan pertanyaan lain. Jika tertarik dengan taksi pun, jangan berharap kamu akan mendapatkan taksi resmi dengan argo karna itu berarti taksi dengan harga borongan.
Di Padang sudah ada taksi blue bird, yang tentu saja taksi resmi dengan argo standar. Semua orang yang pergi ke suatu daerah yang baru didatangi tentu saja mengharapkan taksi dengan kondisi begini karna setidaknya tidak perlu tawar menawar yang bisa saja dengan resiko dibohongi atau menawardengan harga ketinggian.
Tapi jangan berharap dapat taksi seperti ini di Bandara Minang Kabau, karna taksi bluebird dilarang menaikkan penumpang dari bandara. Itulah arogansi dan kepremanan para sopir dan calo taksi-taksi “nembak” ini.
Alkisah kemaren adik saya bercerita bahwa ada seorang supir taksi digebukin oleh preman bandara karena kebetulan ketika sesudah dia menurunkan penumpang ternyata ada calon penumpang lain yang tiba-tiba masuk ingin menumpang di mobilnya yang memang belum sempat dikunci. Padahal si sopir taksi sebenarnya tau banget aturan tak tertulis di bandara itu kalau dia tak boleh menaikkan penumpang di sana. Tapi karna lagi apes, ya akhirnya dia diserbu oleh gerombolan preman-preman tukang keroyok itu.
Saya cuma bisa miris mendengarnya. Makanya memang daerah ini susah banget maju kalau sudah berkaitan dengan urusan semacam ini. Membuat pangkalan taksi resmi di bandara BIM selalu jadi wacana dari dulu. Bahkan buat beberapa daerah juga saya pernah mendengar hal yang sama.
Entah bagaimana cara mengatasainya….

Tips : jawaban terbaik menjawab calo itu adalah dengan bilang “ada yang jemput” dan menjauh dari pintu kedatangan. Dan saran dari dewi yang ada di komen 🙂

Ctt : foto dipinjam di sini

Pameran Puspa Pesona Wastra yang Memang Mempesona

Kain-kain asli indonesia itu cantik-cantik dan anggun-anggun. tapi… apaa sodaraaa-sodaraaa? Mahal! Iyak, mahal.
Saya punya songket minang, eh itu punya ibu saya ding, entah berapa dia belinya. Apalagi katanya songket yang beneran ditenun pakai benang emas, bisa gadai-gadang motor kali belinya. Selain Songket minang kita juga kenal songket-songket yang lain, Songket palembang tentunya yang paling terkenal. Kata teman saya +Dita Firdiana Songket Lampung punya range harga dari yang relatif murah sampai yang mahal banget jadi lebih bisa dipromosikan dan lebih luas pasarnya.
Batik juga tergolong mahal, batik tulis ya maksudnya, batik yang dibikin pakai canting itu. Kalau kain motif batik sih banyak, tapi katanya itu “motif”nya doang. (CMIIW). Batik yang bener itu biasanya bisa diliat dari harganya. :p
Kemaren beruntung sekali berkesempatan liat pameran kain di Museum Nasional. Gak bisa beli kainnya, nontonin doang gapapa kali ya. Nama pamerannya Pameran Puspa Pesona Wastra Tokoh Perempuan Indonesia. Ngeliat kain-kain koleksi bekas punyanya tokoh-tokoh perempuan Indonesia. Dan koleksi para kolektor kain Indonesia lainnya gitu.
Maaf kalau fotonya agak banyak, karna pameran ya jadinya pamer-pamer foto :p

Ruang Pameran
Koleksi Ida Irfan, ada kain-kain bekas kepunyaannya Ibuk Rohana Kudus, yaitu baju kurung yang 2 itu dan selendangnya yang berwarna hitam. Udah belel kayaknya, jadi rendanya ada yg copot. Selain tentu saja koleksi Ibu Ida Irfan yang lain yang kebanyakan batik.
Koleksi bekas kepunyaan Cut Nyak Dien, tapi ini lupa koleksi siapa :p Terdiri dari kain Tenun dan Bordir Aceh. Cuma memang ya, kain bordir sih semakin banyak bordirnya mau gak mau semakin mengkerut.


Koleksi Sri Sintasari Iskandar, adalah koleksi kain yang pernah dipakai RA Kartini

Fotonya kurang bagus ya? Iya. Ah terima ajalah ya *ditoyor*. itu kainnya sampai dikacain, takut rusak barangkali. Seneng juga pernah liat kain pahlawan perempuan yang satu ini.
Koleksi Thomas Sigar, Bekas Kepunyaan Walanda Maramis, ah saya suka sekali 2 baju kebaya ini, cantik sekali. Berwarna putih gading dengan renda yang cantik dan potongan badan yang bagus. Pengen punyaaaa…. Ada beberapa kain juga sih tapi ya gak kepoto ternyata #selftoyor.
Koleksi Lasmindjah Hardi, Ah ini kainnya cantik-cantik, berwarna-warni. Ada kain warna kuning yang digelar di lantai punya motif bunga berwarna pink. Kain merahnya juga bagus (maklum suka merah) dan batik coklat itu, aduh…
Batik Bekas kepunyaan Dewi Sartika, tapi saya gak tau ini koleksi siapa. Motif batik yang klasik. Saya suka motif parang gitu. Parang itu asli Jogja kan ya?
Ada beberapa koleksi dari kepunyaan beberapa Tokoh Perempuan Indonesia yang lain, tapi gak usahlah semua diliatin juga, hehehe.
Oke, mari liat kain-kain yang lain yang gak kalah bagus. Kumpulan kolektor yang lain. Oke punya deh pokokmen. Ini adalah Kain khas Aceh. Bordir berwarna dasar hitam dengan benang berwarna-warni. Dominannya merah dan kuning.
Bordir Aceh

Nah, saya agak lama melihat baju ini. Ini adalah baju Laki-laki Sumatera Barat, iya saya tau ini model Guntiang Cino, tapi saya gak tahu kalau ada yang bahan tenun gini. Karena yang sering saya lihat adalah berbahan katun dan biasanya berwarna putih. Dan ternyata ini baju untuk penganten pria, ah ini saya baru tau. Saya pikir baju penganten pria cuma yang dari beludru bersulam manik emas gitu…  #OrangMinangGagal

Ini Kain Basurek. Basurek artinya ada tulisan arabnya biasanya. Coba pandangi lebih dekat, keliatan deh. Kain ini ketemunya di Sumatera, terutama Sumbar dan jambi. *manggut-manggut*
Ini kain batik Lasem, Jawa Tengah. Bahan katun dan batik tulis. Chakhep!
Berbagai batik dari berbagai daerah
Ini Baju kurung asli Sumatera Selatan, cantik ya. Ini sulamannya full seluruh permukaan kain.  Favorit saya ini sih. Terlihat elegan dan megah untuk baju kurung.
Juga songket palembang yang elegan itu
Ini songket Sumatera Barat. Benang emasnya sangat rapat. Susah makenya ini mah :p
Uis Nipes, ini adalah kain Sumatera Utara. Katanya ini berusia lebih dari 100 tahun. Yang ini dipakai istri raja. Biasanya yang kualitas seperti ini dipakai bangsawan Karo.
Uis Nipes
Ahh..masih banyak lah koleksi lain yang diperlihatkan di pameran ini. Ada berbagai macam batik banyak daerah (Papua yang saya gak liat), tenun-tenun yang cantik dengan jenis yang berbeda-beda dengan berbagai fungsinya. Misalnya kain untuk selendang, tutup talam, tutup pelaminan atau untuk gendongan bayi. Menyenangkan sekali sih mengunjungi pameran ini, nambah sedikit pengetahuan lah tentang Indonesia. #tsaaah. Dikit sih, dari sekian banyak…
Ntar kalau ada pameran serupa, bakal ingat-ingat untuk mengunjungi lagi…
Selamat Kamis Sore
Horeeee besok Jumat… O/

Mari Membaca dan Mari Berfestival

Apa yang istimewa dari acara Festival Pembaca Indonesia tahun ini yang di dunia twitter dijuluki #IRF2012, jawaban saya : tidak ada. So far sih acaranya berjalan lancar, tetap ada Bookwrap dan Bookwar nya, ada booth-booth dari berbagai komunitasnya, tetap ada talk-talkshownya, yang tentu saja itu sudah cukup memuaskan, tapi selain itu ya biasa aja 😀
Ke acara ini lagi-lagi saya gerayangi bersama Bu Guru Eka yang alhamdulillah selalu betah berlama-lama di sini. Kita sih udah punya persiapan sih, yang pertama fisik #halah, trus membawa buku-buku yang kita rasa pengen di-rolling sama buku yang nanti bakal kita dapatin di Bookswrap dan Bookswar.
Pasar Buku tempat Bookwrap
Jadilah ceritanya saya membawa 5 buku yang memang agak kurang tertarik buat dikoleksi dan saya mendapatkan… tadaaaaa…. buku-buku di bawah ini. Ada buku Lima Sekawan, ada buku kecil Edgar Allan Poe, dan tiga lagi deh. Saya merasa Bookwraps sangat krodit jadi gak bisa maksimal mendapat bukunya :p
Hasil tangkapan
Yang paling menarik perhatian saya adalah booth yang judulnya “Buku Buluk Mijil”, waaw koleksi biografi dan autobiografinya seperti koleksi harta karun. Di sini ketemu buku-buku langka. Ada buku banyak buku Tan Malaka, Soe Hok Gie, Bung Karno, sejarah-sejarah zaman revolusi dan yang seperti itu deh. Sayangnya, gak dijual. Jadilah pada gigit jari deh yang kepengen, termasuk saya. Karna buku-buku seperti ini banyak yang gak dijual lagi. 
Koleksi Buluk Mijil

Yang selalu ada di setiap acara ini adalah stand komunitas Harry Potter, ini ada di booth Kelontong Sihir sih, cuma ya banyak para penggemar  Harry Potter ngumpul di sini. Bisa beli-beli merchandise bertema Harry Potter, dan bisa baca sebuah buku keren banget yang isinya segala hal tentang film Harry Potter dan bukunya. 

buku kayak ini apa sih namanya?
Di sini juga banyak talkshow dari beberapa penulis dan komikus gitu. Juga ada tenda tempat pemutaran film, ada tempat mendongeng, ada stand-stand tempat membaca, ada booth Goodreads Indonesia, dan melihat banyak komikus lagi berkarya juga. Oiya, ada lelang buku The Casual Vacancy yang bertanda tangan J.K. Rowling loh. Tapi saya gak ikut sih, gak punya duit. #medit.
 

Sekian. Sampai Jumpa Di Festival Pembaca Buku Tahun depan… Byee…