Tip : New Experience with Youtube Speed Setting

Awalnya gara-gara liat video Isyana Sarasvati di video rekomendasi youtube, terus penasaran pingin mendengarnya. Video yang ini loh…aduh mbaknya bening juga ya. #salahfokus

Kemudian liat komen-komennya, iseng ceunah. Ternyata di top komen ada yang nyaranin kayak gini.

UntitledIseng berlanjut dan nyobain, taunya bener loh, lagunya jadi asik. Lebih nge-groove. Isyana terkesan lebih riang gembira. Yah walaupun yang asli juga gak jelek kok.

Kayaknya bisa dicoba lagu-lagu lain, siapa tau juga terdengar lebih asyik.

 

Selamat Minggu. Selamat datang Desember. Ayo liburaaaaaaan!!!

Tentang Buang Sampah Sendiri Atau Tidak Di Restoran Cepat Saji

Indonesia mostly (halah mostly) penduduknya terbiasa dengan rumah makan semacam warteg atau rumah makan Padang. Itu yang membentuk awalnya karakter mereka setiap mendatangi rumah makan “apapun”. Kemudian datanglah serangan fastfood or junkfood dari luar negeri. Kemudian orang Indonesia ini ikut-ikutan lah makan di sana, ya namanya juga coba-coba. Padahal ketika mau makan aja barangkali nanya dulu “ini apaan sih mbak?” (elu aja kali cit!)

tumblr_inline_n0oimviXc71r4spzk

foto dipinjam dari sini –> http://jengdwinda.tumblr.com/

Ketika makan di Rumah makan, di mana orang indonesian duduk di sanalah piring sisanya tertinggal, sudah seperti itu keadaan dari sononya. Tidak disediakan tempat naro piring. Jika kamu pindahin sendiri piring ke wastafel dapurnya, kemungkinan besar uda-uda Rumah makan Padangnya curiga kalau kamu mau bantu-bantu di dapur karna gak bawa duit buat bayar makan #yakali.

Sekarang ketika mencoba-coba makan fastfood, dia menganggap itu sama saja. Dia tidak tau ada aturan tersendiri, dia tidak lihat ada yang namanya tong sampah dekat pintu keluar atau mungkin lihat tapi gak ngeh. Paling cuma kepikiran “wah hebat restorannya ada tong sampahnya besar sekali ya!”, atau memang sama sekali tidak lihat ada tulisan “buanglah sampah ketika meninggalkan meja” atau semacam itu deh. (((DIA)))

Sini saya kasih tau… Taukah kamu bahwa ketika datang ke sebagian besar restoran fastfood, kamu harus merapikan kembali mejamu dan membuang sampah ke tempat sampah yang gede itu? Kalau saya udah tau dong, lah saya kan anak social media (cieeh) karena teman-teman saya sering bilang gitu di twitter atau facebook, dan bahwa orang-orang akan mencibir ketika kamu meninggalkan  sisa makananmu di restoran fastfood. Saya tau banget dong.

Kenapa teman-teman saya bilang begitu? oh mungkin karena dia orang yang sangat memperhatikan ada tulisan dekat tempat sampah tadi itu atau teman saya tau karena dia berteman dengan orang luar negeri yang di sana udah jadi kebiasaan gitu atau dianya sendiri yang kemaren dari luar negeri jadi dia udah tau gimana risihnya ninggalin meja makan berantakan.

Itu yang namanya proses belajar buat saya. Saya akui saya lakukan itu bukan merasa karena itu jorok, tapi cuma merasa “seharusnya begitu” saja. Toh setiap saya ke warteg saya tetap meninggalkan piring saya di meja ketika sesudah makan. Tapi ketika ke restoran cepat saji saya gak mau dong meja saya berantakan sendiri di antara meja makan yang rapi ketika ditinggalkan di restoran cepat saji. Begitu alasan tepatnya.

Nah, entah karena saya agak kurang peka atau gimana ya, dulu saya kok merasa keharusan membuang sampah itu cuma di beberapa restoran saja, misalnya Sevel atau Lawson. kalau untuk kedua restoran ini saya lakukan karena saya memang melihat sendiri peringatan untuk membuang sisa makanan sendiri itu. Kalau resoran semacam KFC atau Burger King baru sekarang saya sadar melakukannya, itu karena saya melihat kabinet khusus untuk membuang sampah dan tempat meletakkan baki makan itu. Bahkan saya kadang gak buang juga sih, saya rapikan saja di meja, bhihik. Nah, kemaren saya juga baru ngeh kalau di restoran semacam Dunkin Donuts itu harusnya gitu juga.

Jadi buat saya yang seperti ini sih memang banyak alasannya, kalau dalam hal membuang sampah di restoran fast food bisa jadi karena orangnya memang ignorant, atau memang lupa atau memang sama sekali gak tau. Saya paling sering mensetting pikiran karena mereka gak tau aja, jadi menurut saya yang harus dilakukan restoran itu ngasih tau dulu. Bikin tulisan dimana-mana, istilahnya mengedukasi dulu lah. Kalau masih gitu juga, itu baru ignorant namanya…

Lama-lama kan jadi tau terus jadi kebiasaan terus jadi budaya. kan oke juga tuh? Kalau negara kita serapi Jepang, aduhai banget lah. Aduh aku berpikir global banget ya. Bijak banget deh… ehehehe. *dilepehin*

Angkutan Umum Pilihan

Saya sebenarnya cendrung sabar, bisa menunggu 45-60 menit untuk sebuah angkutan umum yang  sebelumnya-sudah-saya-putuskan-saya pilih. Jadi menunggu dengan menit segitu di Halte Transjakarta sudah seringkali terjadi. Walaupun beberapa kali saya harus menyerah dengan memutuskan keluar dari arena pertarungan dan naik taksi atau memilih angkutan umum yang lain. Yang biasanya hal itu saya lakukan karena sudah mepet jam janjian sama orang berarti membuat saya gak nyaman.

Kadang taksi juga bukan pilihan yang baik jika ternyata jalur yang akan dilewati bakal menempuh jalur yang sama dengan kopaja/metromini/angkot. Beneran gak ada bedanya, atau malah akan lebih beruntung karena kopaja/metromini/angkot ternyata bisa saja memilih jalur yang oke. Kadang terkaget-kaget sendiri melihat kemampuan kopaja/metromini/angkot dalam melewati jalur macet yang sehingga bisa lebih cepat dari yang lain. Saya semakin tau dengan fenomena itu sehingga sekarang dan sudah saya yakini bahwa memilih kopaja/metromini/angkot adalah pilihan yang bagus.

download

Makanya pun sekarang  jika akan pergi ke suatu tempat maka opsi-opsi yang pertama muncul di pikiran saya adalah naik kopaja/metromini/angkot ini, kemudian baru bustransjakarta dan jika lagi ada duit males baru memilih taksi (walau kadang sekarang sering malas sih). Berbeda dengan dulu karena memikirkan faktor kenyamanan (bus ber-AC), opsi pertama di pikiran saya ketika menuju sebuah tempat adalah Bustransjakarta kemudian baru yang lain, kini saya sadar bahwa itu hanyalah tipuan pikiran…lha wong saking sesaknya bus itu malah fungsi AC gak ngaruh sama sekali. Juga ternyata untuk menuju sebuah halte transjakarta saya butuh moda yg lain seperti angkot atau ojek yang dipikir-pikir juga tidak ekonomis sekali #padang.

Oh iya, apalagi sekarang ada yang namanya Kopaja ber-Ac dan malah mereka memakai jalur BusTJ yang otomatis membuat jalan mereka lebih sedikit terhalang macet. Walaupun harganya lebih mahal dari Kopaja biasa, tapi itu sepadan sekali dengan yang kamu dapatkan. Interiornya oke dan bersih. Sayangnya kopaja AC tidak mengakomodir semua tujuan kendaraan.

82kopaja AC1

Jadi apa angkutan umum pilihanmu?

Kenapa Laki-laki Suka Begini, Perempuan Suka Begitu

Saya punya partner kerja 2 orang, satu laki-laki dan satunya perempuan. Dua-duanya udah punya pasangan. Nah kadang ketika lagi kerja (ataupun gak kerja) bareng itu saling timpal-timpalan bercerita. Tadi awalnya gara-gara saya liat ada mobil yang dimodifikasi di parkiran kantor trus saya bilang “ih keren” gitu.

Mulailah teman yang perempuan bercerita, “kenapa laki-laki suka sekali otomatif ya, ngutak ngatik mesin yang kadang dipakai aja enggak motornya. Sampai disuruh jual aja susah padahal ada motor satu lagi yang lebih bagus dan lebih baru. Iya, ini tentang suaminya sih *ngikik*.
Nyeletuklah teman saya yang laki-laki, “lah, liat aja perempuan punya sepatu udah banyak. setiap pergi-pergi ada aja lagi sepatu yang dibawa pulang, padahal udah gak ada lagi tempat. Apa bedanya?”. Iya, ini tentang istrinya.

Baru saya sadari, mereka mirip kisahnya. Teman saya yang laki-laki punya istri yang suka shoping, seperti kebiasaan teman saya yang perempuan. Sedangkan teman saya yang perempuan punya suami yang suka otak-atik mesin motor seperti kebiasaan teman saya yang laki-laki.

Jadi intinya piye cit? ya gitu bahwa dua makhluk ini (perempuan dan laki-laki) emang makhluk yang berbeda dalam hal jenis kelamin dan juga pemikiran. Kadang sama-sama tidak mengerti jalan pikiran masing-masingnya. Dan dengan itu berarti jalan keluarnya buat masalah itu cuma memahami saja, kalaupun pengen diubah ya hambokya pelan-pelan, namanya juga ngubah pemikiran tohiyaaa. Jangan berusaha untuk memaksakan satu pemikiran ke kepala yang lainnya. Udah gitu aja intinya.

Bukankah perbedaan itu adalah rahmat.
#Haziyeeee

Nb : Ini postingan sok tau dan sok bijak

Marilah Minum Yang Banyak dengan Cara Mempunyai Tumbler yang Oke

Saya suka minum air putih, eh dan juga kopi tentunya. Menyebabkan saya suka dengan tumbler dan saya suka mencari alasan untuk membelinya. hehe. Butuh yang gede, butuh yang bisa nyimpen panas lama, butuh yang warnanya kerenan dikit, ini alasan doang sih, Iya. Tapi bagi saya memang penting minum air putih di tempat yang gede karna pakai gelas kurang nampol sebab jarang gelas yang gede banget ukurannya. Untuk minum di kantor saya pakai yang ukurannya besaaar, dan karna ruangannya ada 2 jadi tumbler seukuran besar itu untuk kantor juga ada 2.
tumbler kantor ruangan 1 ukuran 1L
tumbler kantor ruangan 2 ukuran 900ml

Untuk di jalan saya juga bawa tumbler ukuran gede juga, kapasitas 600ml. kebetulan dapat dari goodiebag #mentalgratisan. sebelumnya saya bawa yang lebih kecil kalau buat di jalan. Tapinya suka kehabisan dan mintak minuman teman :))

buat di jalan

Ini yang ukuran kecil buat di jalan itu, pemikiran lainnya juga karna ini cocok buat kopi. Kadang saya belum sempat ngopi tapi kepepet waktu karena buru-buru jadi kopi panas musti dibawa aja. Kecil dan bentuknya gelas. kalau bentuk tabung agak terganggu sama ampas kalau buat minum kopi.

ukurannya paling cuma 300ml

Juga kadang saya pakai yang ini buat di jalan. Karena tebal jadi cocok untuk kopi biar lamaan panasnya. Tapi sebenarnya agak kurang sreg karena penampangnya gede padahal muatannya sedikit. Saya suka ini karenaaa…warnanya #teteup. Oiya, ini sebenarnya beli gara-gara pernah ikut kursus di kantor, trus butuh tumbler khusus biar kopinya bisa dibawa masuk ke kelas supaya gak ngatuk. #IcitOrangYangBerpikirPanjang #pret

Milanisti
Punya lagi tumbler-tumbler ini yang sering saya pakai di kos. Karena lebih enak minum di tumber sambil main laptop, baca atau nonton. dan bentuknya lucu-lucu.

ada sponsornya :p
berumur paling tua
Ini beli karena lucu aja, satu set sama tempat makan. Belum pernah dipakai sama sekali. ah ntar buat anak saya saja. *simpan di lemari.
paket untuk anak-anak

Sesudah ini gak boleh beli tumbler lagi, gak boleh!

Update postingan pamer nan tidak guna sama sekali. Karena lagi gak ada bahan #JuliNgeblog padahal hari udah mau jam 24. Hahaha, penting!

Semangat sih, Tapi Jangan Sampai Salah ya…

Ah, ngeblog yang bermakna sekali-sekali. (tsaaah)

Tahukah kamu dengan Makmum yang Masbuq ketika shalat? Iyak benar. ketika Makmum itu terlambat mengikuti imam dalam shalat berjamaah, itulah yang dinamakan Masbuq. Saya rasa banyak yang udah tau tentang apa yang yang harus dilakukan Makmum yang Masbuq.

Tapi alangkah terganggunya pikiran saya (heh? terganggu pikiran?) ketika sedang shalat berjamaah (biasanya di saf ibu-ibu) ada seseorang yang Masbuq dengan sebuah kasus begini : ketika itu dia tidak bisa mendapati rakaat shalat yang sama dengan imam di rakaat pertama, tapi terlambat hanya ketemu imam di rakaat ke dua atau bahkan sesudahnya, kemudian memaksakan rakaat yang sama dengan imam. Dengan cara apa? dia shalat sendiri dengan cepat agar nanti rakaatnya sama dengan imam sehingga ujung-ujungnya tetap bisa salam bersama dengan imam dan makmum lainnya. Wah itu biasanya bikin shalat saya gak bisa khusuk (nyalah-nyalahin) :p. Yang pasti sih itu bacaan shalatnya udah buru-buru kayak dikejar anjing galak aja udah.
Saya tau bahwa orang seperti ini punya semangat yang tinggi sekali untuk bisa ikut shalat berjamaah, tapi begitulah. apa yang kita lakukan walau niatnya baik harus ada panduannya apalagi kalau sifatnya ibadah *benerin kerudung*. Sejauh ilmu yang saya tau bahwa Makmum Masbuk itu harus bisa takbir dengan baik kemudian mengikuti gerakan yang sama dengan imam ketika dia terlambat itu. Kalau imam berdiri ya makmum juga berdiri, kalau imam sujud ya makmum juga sujud, ya begitulah resiko kalau jadi makmum, harus mengikuti apa yang imam komandokan (jadikan aku makmummu mas..jadikan aku makmummu… *ditampar*).
Bagaimana menghitung rakaatnya? Yak, untuk sebagian pendapat ulama (yang saya meyakininya) bahwa rakaat makmum itu bisa terhitung jika dia bisa ruku’ sempurna bersama imam. Kemudian sisa dari rakaat yang dia tak bisa bersama imam ditambahkan belakangan dengan kata lain ketika imam mengucap salam dia berdiri untuk melanjutkan rakaat yang tersisa, begitulah kira-kira.
Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa rakaat itu dihitung berdasarkan Al-fatihahnya. Namun menurut saya, apapun yang diyakini terserah saja yang penting harus ada dalil dan tuntunannya. Yakan..yakan..?
Memang banyak yang sudah tau hal ini, tapi ternyata dari pengalaman saya pribadi ngeliat sendiri masih ada aja yang belum tau toh?
Sekian, selamat Puasa 🙂