Sesimple Itu Sebenarnya

Kenapa kemaren saya lama memutuskan untuk menikah? karena saya belum bertemu apa yang saya mau. Dan kenapa akhirnya saya menikah? karena saya sudah bertemu dengan orang yang saya mau. Sesimple itu sebenarnya. Toh kalau orang yang saya mau sudah saya temukan dan juga “mau” sama saya, jangankan menikah cepat, tamat SMA mungkin saya udah langsung kawin kali (pret!)

Makanya saya jarang merasa terintimidasi dengan-yang-katanya-pertanyaan horor “kapan?” itu ketika pulang kampung, ataupun saat bertemu kerabat yang nyinyir dan sering bertanya hal-hal semacam itu. Karena toh saya  yang akan menjalani hidup saya sendiri, maka tidak peduli dengan hal-hal seperti sepele begitu. Dulu kalau ada yang bertanya “kapan menikah?” saya jawabnya aja “Entar ya, tunggu beres aja deh!” dan berlalu dengan anggun. Jangan pedulikan orang lain, pedulikan kebahagiaanmu saja. Klise sih, tapi kan memang gitu kenyataannya.

Satu-satunya yang membuat pikiran saya sedikit terbebani adalah tentang kebahagiaan orang tua. Orang tua itu bukan orang lain buat kita dan saya tentunya tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja. Kita selalu memikirkan kebahagiaan orang tua yang katanya memikirkan kebahagiaan kita karena menurut mereka, kita belum bahagia jika belum menikah. Hahaha. Apa, mungkin saya akan begitu juga nanti ketika menjadi orang tua :p  Untungnya orang tua saya gak pernah terlalu masuk ke area-todong-menodong-supaya-anak-cepat-menikah. Mereka seringnya cuma mengingatkan saja. Kalau menurut saya sih, mereka begitu karena udah tau sifat saya yang gak bisa dipaksa-paksa, gitu sih :p

Jadi kadang pilihan itu memang terletak antara “kamu mau membahagiakan dirimu sendiri atau membahagiakan orang tua?” Kalau kamu mau membahagiakan orang tua maka menikahlah cepat-cepat tapi kalau mau membahagiakan dirimu maka tunggulah orang yang tepat. :p

Saya hampir di keputusan itu, saya hampir akan menikah semata-mata biar orangtua merasa senang. Hal itu berbarengan dengan situasi saya yang telah memutuskan untuk berkompromi dengan banyak hal. Ini dikarenakan satu kejadian yang membuat pikiran saya berubah. Namun ada sebuah momen yang membuat saya berpikir ulang. Memutar haluan untuk kembali ke jalur “harus memikirkan kebahagiaan diri sendiri”.

Orang tua sempat kecewa yang tentu saja serta merta membuat saya bersedih. Tapi itu sudah saya putuskan. Tentu dengan menjelaskan secara baik-baik.

Ketika akhirnya sekarang saya menikah dengan orang yang saya inginkan, saya sangat bahagia dan ternyata mereka juga bahagia. Kesuka-citaan saya menjadi berlipat ganda.

Saya tidak mau ikut campur dengan hal-hal tak berguna seperti memikirkan kenapa orang menikah cepat atau kenapa orang menikah muda atau bahkan kenapa orang tidak menikah. Berbagai hal tentang itu dibicarakan dan ditulis dengan analisa masing-masing. Bagi saya, apapun yang dipilih orang dengan kehidupannya, cuma dia yang tau semua konsekuensinya. Jadi biarkanlah. Jalani hidupmu yang menurut versimu adalah ideal. Toh memang hal duniawi yang kita cari adalah kebahagiaan, sesimple itu sebenarnya.

Eh dan uang dan uang dan uang… #padang *ditoyor*.

Aduh tumben saya curhat personal banget gini ya. 😀

Mengawali 2014 dengan yang Istimewa

Akhirnya saya menikah juga. Eh kok bisa? ya bisalah. Menurut ngana 😀  

IMG_122057574541834

Maaak, aku sekarang udah bisa tidur sama anak oraaaang *dibekep*

Akhirnya dia melamar langsung ke bapak ketika dia berkunjung ke kampung. Semua terasa digampangkan. Alhamdulillah. Saya yang tadinya agak-agak parno, jadi bisa tersenyum. Dia yang temanku bakal jadi temanku terus, aaaakkkkk….

Saya yakin semua yang tadinya lajang akan gamang ketika akan menikah? iya tentu saja. Dan saya rasa dia juga begitu. Saya gamang bukan tentang benar tidaknya pasangan yang dipilih, oh tentu saja saya sudah yakin banget kalau dialah orangnya. Tapi gamang dengan tanggungjawab yang besar yang akan saya pegang nantinya. Jadi istri orang  yang berarti gak bisa seenaknya ngapa-ngapain sendiri tanpa ngasih tau suami dan tanggung jawab mikirin keluarga…tentang anak gitu loh maksudnya. Lama banget ih cit ngomongnya :p

Tapi tentu saja akan saya coba jalani dengan sebaik-baiknya. Ayo semangat Nyonya Saiful!

IMG_20131208_134009_723

ihik pakai cincin samaan

Persiapannya tidak lama, praktisnya cuma 2 bulan dengan semua tetek bengek ini. Syukurlah banyak yang bantu di saat persiapan dan hari H nya. Teman dan keluarga semuanya mau turun tangan. Beberapa hal yang kami putuskan berdua juga dengan tidak pakai ribet. Undangan, souvenir, baju akad, KUA , hal-hal kecil dan hal-hal besar semua bisa terlewati. Tidak semua teman yang terundang memang, sebagian juga kami undang secara online melalui ini –> ipul.icit.web.id. Maafkan yang terlewat ya, kesibukan kadang membuat lupa.. 🙂

Sekarang sudah 2 minggu lewat dengan bahagia, tentu saja akan begitu sampai di sisa waktunya. Amiiiin. Aminin dong!

udah hanimun ke bali, udah mainstream \o/

udah hanimun ke bali, udah mainstream \o/

Selamat berbahagia sayaaa… \o/

Oiya, saya menuliskan perjalanan menuju hari H itu di sini –> wedding.icit.web.id silahkan mampir

Mencerahkan Hari

Sebenarnya saya orangnya #mureee, sangat gampang disenangkan dan tau apa-apa membuat hati saya sendiri senang. Karena kita yang tau diri kita sendiri, maka kita yang tau apa yang dibutuhkan untuk menceriakan harinya, ya gak?
Tapi beberapa orang iseng saya tanya “hei, menurut lo apa yang paling memungkinkan bisa menyenangkan hati gue?”, maka ada yang menjawab “Kopi!”, ada lagi yang jawab “Internet!”, bahkan “Twitter!”. Mereka tau saya banget ya? saya terhayuuu….

Namun ada seorang teman yang menjawab dengan panjang dan lengkap : “Kalau di depan lo ada internet yang kenceng, di deket tangan kiri lo ada kopi dan di layar laptop lo ada chat satu orang”. Haaaa… Apalagi yang bisa melebihi itu jawabannya. :)))

Yak, utamanya adalah “chat satu orang” ini, inilah mood booster saya yang utama (lebay), yang lain bisa gagal menyenangkan saya kalau hal yang berkenaan dengan satu orang ini juga gak berlangsung kondusif (drama abis). Apalagi saya bisa liat senyum dan ngobrol dengannya langsung, cerahlah dunia.

Iya, begitulah… 🙂

Asmara

Ketika ada yang menyarankanku menulis tentang “Asmara”, saya sempat terdiam. Pertama sih karena sudah lama tidak mendengar kata Asmara :))), yang kedua saya langsung teringat lagunya Novia Kolopaking dan yang ketiga, saya selalu susah menulis tentang ini.

Sebenarnya beberapa orang tau kalau saya punya tempat menulis lain di blog tumblr ini –> http://icit.tumblr.com/ kalau istilah teman-teman sih itu blog galau, padahal…errr. Ah itu postingan bebas aja sih intinya, kadang bisa tentang saya, atau karena terinspirasi ngeliat teman yang lain, atau tiba-tiba terpikir karna lagi ngelamun-lamun aja. Tapi memang disana tempat kalau saya mau nulis yang rada bawa-bawa perasaan gitu, tsaaah.

Banyak sebenarnya yang bisa ditulis mengingat saya ini merasa penuh dengan drama (karepmu cit!), tetapi susah sekali untuk menuliskannya. Walaupun beberapa kali saya menulis tentang cinta-cintaan di sini, itupun biasanya versi komedi, hahaha.

foto dipinjam di sini

Tapi saya berfikir akan ada masanya nanti saya menuliskan tentang perasaan saya tentang sesuatu, tentang keluarga mungkin atau *batuk* anak-anak. Nanti saja, ketika sudah ada. eaaa. Yang pasti sih sebenarnya perasaan “Asmara” itu sebenarnya selalu memenuhi kepala saya #uhuk.

Oiya, jangan lupa mampir ke tumblr saya tadi ya, lumayan unyu kok 😉

Surat Cinta Perahu Kertas

Melihat video klip OSTnya film Perahu kertas ini :

Tentang Kugy yang menulis surat di kertas yang dia bikin menjadi perahu kertas dan dia lepaskan ke sungai atau laut (kalau gak salah) , saya jadi teringat dulu di jaman cinta monyet waktu kuliah. 

Jadi saking cemennya nge-gebet teman kuliah beda jurusan gak pernah berani untuk memperlihatkan, eh memang dianya gak kenal sih. Trus sekali kejadian pernah ketika kebetulan jalan-jalan ke daerah asalnya yang pantainya bagus lalu saya bikin surat gitu, dimasukin ke dalam botol dan dilepas ke laut. hahaha. Duduk di pantainya yang berkarang sambil ngelamun-ngelamun gitu.
Cemen cit cemeen…
Sesampainya di kampus, tetap begitu. Ketika dia lewat, diam seperti patung…
 
……
Perahu kertasku kan melaju membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila, tapi ini adanya
Liriknya manis ya…
Cinta?? #ngoks :p

Cerita “Cinta” TK-ku

foto diambil di sini
Teringat balas-balasan email dengan teman satu milis tentang bahwa anaknya yang ngaku-ngaku sudah punya pacar padahal masih TK. Aku juga teringat dengan salah satu teman TK-ku yang ketika masih TK itu aku menganggap diriku juga suka padanya. hahahaha. Kira-kira sampai SD kelas 1 lah aku mengira aku menyukainya, karena kebetulan masih nyambung di SD yang sama.
Aku juga merasa dia suka padaku… bhihik *sakit perut*, ya karna yang namanya suka-sukaan anak SD kan lirik-lirikan, dan kalau dia lirik balik berarti juga suka dong… (in your head cit.. in your head… :p )
Nah dimasa suka-sukaan itu, ada kejadian dramatisnya, waktu SD kelas 1 Cawu 3 akhirnya aku dapat kabar dia pindah sekolah, loooooh aku merasa dikhianati gitu ceritanya. karna tanpa aku tau tiba-tiba dia udah pindah aja, gak ngasih tau aku dulu sebelumnya. Aku pake nangis-nangis gitu dong. Lah kan emang sedih.. drama deh pokoknya.
Daaaaan sampai di situlah kisah “cinta” TK ku, berakhir di penghujung kelas 1 SD. aku tidak tau lagi rumahnya pindah kemana, dia sekolah di kota apa. Ingat, aku masih kelas 1 SD waktu itu 🙂
Ternyata oh ternyata, kisahnya tidak berhenti di sana aja. Ketika aku akhirnya masuk kuliah, kebetulan dapat kampus yang punya beberapa Gedung bersama yang dipakai kuliah dengan mahasiswa fakultas lain.
Alkisah, kira-kira di masa semester 2 dan lagi nongkrong-nongkrong di koridor kampus, aku melihat seorang cowok lagi duduk-duduk di depan mushala gitu sama temannya. trus kupandang-pandang lah cowok itu (kecentilan kamu cit), entah kenapa serasa mukanya familiar… Familiar cit? whaaat itu udah kira-kira 12 tahun gak pernah ketemu loh.
Tapi dengan pedenya pas temennya lagi pergi dan dia sendiri, kusamperin. terus nyeletuk “anto ya?” (entahlah ini nama sebenarnya atau tidak.. #loh). trus dia ngeliatin dan nyeletuk juga “hilma ya?” (ini nama sebenarnya.. )… owhhh waaaaw… kami masih saling mengenal. dan apa yang terjadi, kami pun melonjak-lonjak di koridor itu saking girangnya… #eaaaaa
Akhirnya kami bercerita banyak tentang kemana saja dia sesudah meninggalkanku #ihik, sekolah dimana saja, apa kabar keluarganya, sekarang tinggal dimana, kuliahnya di jurusan apa.. end bla..bla..bla…
Sekonyong-konyong ketika dia menceritakan sekolah SMAnya aku jadi teringat kejadian ketika aku pernah Try out ujian masuk di sekolah yang dia ceritakan itu, aku yang dari dulu memang ceroboh, tidak bawa pensil 2B buat ujian, trus meminjam ke salah seorang cowok yang kulihat banyak membawa pensil, cowok itu yang lagi serius langsung menyodorkan pensilnya dan aku yang lagi panik begitu aja menerimanya. Sambil cerita ku pandang-pandangi lagi wajahnya dan aku menanyakan apakah cowok itu dia, ternyata memang dia… Ohhh my God, dunia itu sempit dan itu adalah FTV banget. ya gak sih.. 🙂 Jadi kami pernah bertemu sekali walaupun belum saling ngeh dalam adegan selintas.
 
Sesudah saat itu, terjalinlah pertemanan baik dengannya, ya tentulah saja cuma pertemanan.
Kisah “Cinta” sewaktu TK-mu bagaimana cit? hahahaha… aku cuma bisa tersenyum mengenangnya. Karna tentu saat itu, kami sudah punya cerita sendiri masing-masing.
Dia adalah sahabatku sampai sekarang, unfortunatelly memang agak jarang kontak-kontakan karena sepertinya dia sibuk dengan anaknya mungkin. Oh iya, dia sudah beristri dan beranak satu.
Aku masih begini saja…. oh pacar TK kuuu… #malahCurcol

Apa kamu punya cerita sepertiku teman? 🙂

#nb : bila kau membaca ini sahabatku, walau kemungkinannya 1 banding 100. kuharap kau tersenyum saja. maaf, aku memang pecerita 🙂