Film : John Grisham ~ The Rainmaker

Beberapa hari kemaren saya nonton The Rainmaker. Sepertinya udah pernah ditonton secara dulu suka ngikutin film kayak gini, tapi lupa. Sepertinya banyak cerita John Grisham yang lain, film ini lagi-lagi tentang dunia pengadilan. Film kayak gini selalu menarik untuk diikuti karena senang liat gaya-gaya investigasi dan introgasi gitu.

Ceritanya tentang lawyer junior idealis (padahal belum lulus) yang karena desakan keadaan ngebantuin kantor pengacara abal-abal buat menangani sebuah kasus : tentang tidak dibayarkannya claim oleh sebuah perusahaan asuransi besar terhadap nasabah-nasabahnya. Pemainnya adalah the very talented man in the world, the one and only, Matt Damon. *lope-lope di udara*

Pada dasarnya filmnya sih bagus, tapi gak bisa dibilang istimewa juga dibanding film John Grisham yang lain.

Yang buat saya berkesan justru beberapa quote di film ini. Ini salah duanya :

Ketika Rudy Baylor berhadap-hadapan dengan pihak lawyer lawan, Leo Drummond, ketika mau menginterogasi klien sang lawan dan kesal dengan betapa curangnya dan materialistis si Leo Drummond ini.

Rudy baylor : I’m Curious

Leo Drummond : About what?

Rudy Baylor : I’m just wondering… do you even remember when you first sold out?

Kalimat ini sempat bikin Drummond speechles.

Terus ketika akhirnya sidang selesai dan dimenangkan olehnya sehingga cukup membuat dia terkenal dan diperhitungkan, dia malah berhenti dari dunia peradilan. Sampai dipertanyakan oleh partner seniornya. tapi dia menjawab.

I’m hot. In fact, I’m so hot, there’s no place for me to go but down.

hmmm… Jadi ingat ketika saya main Twodots sampai level paling atas, ketika sudah tidak ada lagi level yang bisa dimainkan, terpaksa main lagi di level-level bawah, terutama main di level yang bintangnya gak sampai 3. Halah, ilustrasi uwopoo iki.

Demikian sedikit kesan dari menonton The Rainmaker. Semoga saya bisa sekeren Rudy Baylor atau minimal Matt Damon (((minimal)))

Selamat hari Jumat. Besok weekend loh….

(Film) The Voice : Suara-suara di Kepalamu

Pertama kali saya lihat film  ini di tv, saya sempat nanya ke Suami (yang sudah pernah nonton filmnya) “wah, film drama komedi romantis ya?” tapi  suami bilang “Ini horor kok, tapi komedi juga sih”. Sambil bingung akhirnya saya tetap menonton filmnya dan ternyata tidak menyesal.  Ini sebenarnya thriller psikologi yang dikemas dengan ringan. Tapi ya sebenarnya dari sisi psikologi sih serius. Karakter pemeran utama yang dimainkan Ryan Renold (sebagai Jerry) adalah seorang laki-laki muda yang cute seperti orang kebanyakan, pendiam dan intovert jadi terlihat menggemaskan. Cute deh pokoknya. Tapi jalan ceritanya semakin lama semakin biking bengong. Bengong yang bikin si suami tertawa-tawa melihat ekspresi saya. Berteman dengan anjing dan kucing peliharaannya dan biasa diajak ngobrol. Mereka berdua cukup punya peran kunci di cerita ini.

Biasanya kalau di film serial killer kita akan menjadi pihak yang mengutuk sang pembunuh dan menjadikan si pembunuh orang yang paling keji dan harus dicela, di film ini kita akan menjadikan Jerry menjadi pembunuh kesayangan dan perlu dikasihani. Awalnya cerita mengalir seperti drama biasa, Jerry menyukai seorang perempuan, mengajak dinner dan nonton pertunjukan. Cerita mengalir terus tanpa ada sesuatu yang berarti tiba-tiba….nyeees, ada insiden yang membuat saya bengong. Sesudah itu cerita berjalan lagi dan tambah kacau , lama-lama berubah menjadi kelabu dan terus menggelap. Walaupun tetap ada komedi-komedi ringan di tengahnya yang tetap membuat kita tertawa-tawa. Memasangkan bintang-bintang lain yang cukup terkenal dan berakting bagus yaitu Gemma Arteton yang seksi dan Anna Kedrick yang bertampang lugu, jadi nilai tambah lain buat film ini.

Kita juga dikasih kilasan latar belakang kehidupan Jerry waktu kecil yang membuat kita sedikit tahu apa yang membuat kesehatan mentalnya terganggu. Kemudian bagaimana Jerry menangani hasil perbuatannya juga menarik, karena ini ditinjau dari sudut pandang dia sebagai pelaku. Overall, Ryan Renold cukup bagus memerankan muka innocent pembunuh berantai dengan penyakit mental begini.

Bagian ending yang agak bikin bingung tapi ya gapapalah karena toh film ini memang disasar untuk komedi juga. Saya beri nilai 7/10 deh

Selamat hari Kamis, Yay besok udah jumat!

Menelusuri Lorong Panjang Pendekar Tongkat Emas

Waktuya Telah Tiba!

Sudah lama Indonesia tidak punya film dengan cerita silat “kolosal”, beda dengan tahun 80-andan 90-an yang memunculkan banyak sekali film silat (ketahuan umur deh gue) yang walaupun film-film lama itu dibilang punya cerita yang mainstream. Namun ketika pertama kali saya lihat poster film ini beredar di internet saya menoleh dengan cukup lama. Pertama karena pemain-pemain yang mendukung film ini bisa dikategorikan artis-artis papan atas yang merupakan aktor dan artis watak, tentu mereka tidak sekedar main-main untuk mempertimbangkan mendukung film ini. Yang kedua, ternyata film ini adalah hasil karya Mira Lesmana dari Miles Production yang tentu saja untuk film indonesia sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Apalagi yang bisa dijadikan jaminan untuk kualitas film ini bukan? Jadi saya juga ikutan tidak sabar untuk menunggunya.

Waktunya Telah Tibaaa!!

Waktunya Telah Tibaaa!!

Penasaran dengan bagaimana cerita ini dibuat membuat saya juga sempat mantengin hangout live dengan pemain-pemain, produser dan sutradaraya. Kalau kamu gak sempat nonton coba deh liat lagi di sini. Kita bisa tau bagaimana filmnya dibuat dan kesan-kesan para pemainnya.

Tapi dengan banyak film-film hantu dan drama picisan yang banyak diproduksi sekarang terkadang masih bikin saya pesimis dengan film indonesia, maklum orangnya gak percayaan gitu deh :p Akhirnya ketika ada kesempatan untuk menonton film Pendekar Tongkat Emas ini, kesan pertama sudah langsung menghancurkan sedikit rasa pesimis tadi. Bagaimana tidak, walaupun saya bukan orang yang ngerti dengan kamera tapi sebagai orang awam secara kasat mata tentu paham bahwa film ini diambil dengan profesional dan teknik yang juara. Sangat artistik dan nyaman ditonton.

cqORauP9uY

Selain karena efek  sinematografi yang keren, juga ditambah dengan kecantikan dari objek yang diambil sangat memanjakan mata. Dengan latar daerah Sumba yang cantik. Lanskapnya yang tampil di layar sering membuat decak kagum. Saya benar-benar tidak menyangka Indonesia punya daerah secantik ini. Bukit-bukit sabana dan stepa memberikan efek yang dahsyat untuk setingan film silat tempo doeloe begini. Belum lagi pantai-pantai dengan pasir dan juga dinding tebing buatan alam membuat pengen sekali menyambangi daerah itu. Patut diacungi jempol buat kru film bisa memilih daerah ini sebagai seting tempat. Pecah banget.

Bicara tentang pemain, semua memberikan akting yang total. Seni bela diri yang ditampilkan bukan cuma sekedar gebak-gebuk yang memberikan efek berdarah-darah yang dahsyat. Tapi ini layaknya melihat tarian yang enak ditonton. Bahkan untuk final fight yang relatif lama yang biasanya membikin bosan, tapi di film ini karena memang disajikan dengan seni maka setiap adegan bisa dinikmati.

Selain pemain-pemain muda juga gak kalah penting untuk tahu bahwa film ini juga dibintangi aktor dan artis senior seperti Christine Hakim dan Slamet Raharjo. Bagaimana kematangan akting dan kecocokan karakternya membuat nilai plus untuk filmnya.

Ingin sedikit menyinggung ceritanya , film ini mengisahkan tentang perjalanan sebuah perguruan silat yang dipimpin oleh Cempaka (Christine Hakim) yang mempunyai 4 orang anak didik yaitu Biru, Gerhana, Dara dan Angin yang diangkat anak oleh Cempaka. Dilemanya sih anak-anak ini sebenarnya merupakan anak dari lawan-lawannya ketika “membela kebenaran”.  Pada nantinya dilema ini yang akan memunculkan masalah pada cerita, serta dipicu dengan keinginan memiliki Tongkat Emas yang merupakan pusaka warisan yang meempunyai kekuatan tak terkalahkan yang kemudian jadi rebutan. Karakter keempat anaknya yang memunculkan konflik yang akhirnya “memakan” Cempaka sendiri. Film ini memang tidak terlepas dari dendam, pembalasan dendam dan perebutan kekuasaan khas cerita silat kolosal.

Elang (Nicholas Saputra) akan muncul belakangan sebagai orang yang berpengaruh pada perjuangan Dara yang berada di jalan yang lurus (eaaa jalan yang lurus). Dan bagaimana hubungan Elang dengan Cempaka juga merupakan cerita yang patut ditunggu dan disimak. Jadi film ini bikin kita nyeletuk “oooo gitu tttohhh”, bukan cuma cerita yang gampang ditebak begitu saja. Oiya, ada bonus Darius Sinatria yang nongol, buat cuci mata lumayan juga, hohoho. Kalau cuci mata buat cowok tentu saja Tara Basro sebagai Gerhana dengan kulit  eksotisnya, cantik banget.

Keseriusan para pemain yang sebelumnya sebagian besar bermain film drama ini melakukan adegan silat yang susah ini memang patut diapresiasi. Tentu saja mebutuhkan waktu latihan yang cukup lama ya. Ternyata film ini memakai fight instruktur langsung dari Hongkong yaitu Xiong Xinxin. Mungkin ini yang membuat pembuatan film ini katanya sampai 3 bulan. Tapi kalau pemeran Angin (Ariah Kusumah) yang merupakan pendatang baru memang direkrut dari atlit silat jadi sudah punya keahlian di bela diri.

Oiya, satu lagi yang bikin saya berdecak kagum adalah pameran kain-kain tenun sumba yang meriah, Show-off banget deh. Ada unsur kain tenunan dimana-mana, berbagai motif dan warna. Dijadikan background ruangan, sarung tongkat emas dan tentu saja yang utamanya sebagai pakain dari para pendekar dan semua pendukungnya. Bikin kita bakal terinspirasi untuk membuat pakaian serupa. Tapi kabarnya kain tenun Sumba ini mahal ya booowk :p

 

Sungguh film yang memberi kesan tersendiri buat saya, di tengah kepesimisan melihat film-film berlatarkan hantu-hantu dan drama maintream dengan kualitas seadanya, film dengan cerita dan pembuatan yang serius tentu membuat kita bisa sedikit bernafas lega. Apalagi di akhir cerita ada sedikit gambaran bahwa akan dibuat sekualnya.Aha! Ditunggu ya mbak Mira. Jangan buat kami kecewa. Aku padamuuuu!!!

“Dunia persilatan itu bagai lorong panjang dan gelap…” ~ Cempaka

Locke : Ketika Semua Permasalahan Harus Dihadapi Berbarengan

Kamu suka film eksyen, thriller dengan tempo cepat, pergerakan antar lakon dan dialog tatap muka? maka saya pesankan jangan tonton film ini! Karena semua yang kamu inginkan tidak ada disini.

Bagaimana menikmati film ini? nikmati dialog-dialognya, rasakan perasaan pemeran utamanya, amati perubahan mimik mukanya dan imajinasikan keadaan yang cuma bisa kamu dengar tapi tidak kamu lihat dari lawan bicaranya. Rasakan juga perasaan dilematis dari Mr. Locke ini. Seorang yang sayang keluarga tapi sudah membuat sebuah ‘kekhilafan”, yang menimbulkan perubahan besar bagi dirinya dan orang-orang  disekitarnya. Serta juga menimbulkan konsekuensi-konsekuensi sampingan yang juga besar yang harus dia hadapi di saat bersamaan. Termasuk keadaan tidak bisa menonton tim bola kesayangan lagi bertanding. #penting.

Karena memang film ini cuma berisikan satu orang, jika ada orang lain maka itu adalah cuma suara yang berasal dari telepon, jadi wajar saja jika ada yang bosan. Terutama jika kamu tidak penyuka jenis film drama seperti ini.  Akhirnya pun ketika saya menonton film ini, ada penonton yang memilih meninggalkan bioskop padahal setengah jalan cerita aja belum sampai.

Hal-hal yang saya garis bawahi dari film ini :

  1. Ini adalah iklan BMW (?) :
  2. Locke adalah seorang insinyur sipil, bekerja di proyek bangunan. Bidang keahliannya struktur. Its cool! Semua yang berbau sipil keren pokoknya. :p
  3. Saya punya gelang yang sama dengan Locke. hahaha.

    32LOCKEMAIN1504A

    itu loh gelang yang silver itu

  4. Jangan pernah bawa dokumen kantor ke rumah, karena ketika kamu bolos dadakan, orang lain jadi susah ngerjain kerjaanmu…
  5. Tom Hardy kok bisa jadi charming banget gitu ya?
  6. Menamakan orang yang gak disenangi di kontak telpon dengan nama “Bastard” kayaknya lucu juga.

Oiya, lagi-agi tentang eksekusi akhir. jangan berekspektasi. Nikmati saja jalan ceritanya.

Yang paling berkesan bagi saya adalah ekspresi mukanya ketika menerima telpon yang terakhir. Seolah semua yang terjadi sebelumnya jadi tak ada nilainya

Demikian…. Selamat menonton \o/

 

NB:  Bukan, ini bukan review film beneran. Maaf ya penonton…

Ini Film Politik-Konspirasi (spoiler kayaknya)

Trailer menarik dan Tilda Swinton, itulah yang membuat saya akhirnya memilih ikut menonton film ini bersama Dita, Rudy dan Ipul. Bahkan saya tidak memperhatikan cast yang lain, ada Tilda itu tentu saja kenali dari posternya walaupun memakai make-up yang lumayan bikin wajahnya berbeda.

evans-swinton-snowpiercer-580x413

Sesudah saya mulai tonton dan dengan sedikit menajamkan mata, oh ternyata ada Christ Evan. Saya bukanlah penggemar Christ Evan, Captain America membuat saya tidak antusias dengan dia, oke…ini subjektif lagi. Di film Snowpiercer inilah penampilan dia yang paling saya suka, dengan wajah penuh jambang dan perawakan biasa saja tanpa pamer badan sixpack dan baju biru ketat itu membuat saya menyukainya.

Awalnya saya fikir ini film futuristic, memang film ini berseting masa depan dengan teknologi lumayan tinggi, tapi yang ditonjolkan bukan teknologinya itu namun bagaimana kehidupan sosial orang-orang yang berada dalam sebuah ekosistem yaitu sebuah kereta, yang melindungi mereka dari dinginnya lingkungan luar akibat salah penanganan Global Warming itu serta bagaimana dinamika kehidup orang-orang di dalamnya.
Kemudian saya membayangkan kereta itu sebuah negara, eh dunia ding, begituuu #cieh. Di mana di gerbong bagian ekor terdapat sekumpulan orang-orang “kasta terendah” yang ternyata sudah muak dengan tiran dari gerbong depan dan ingin bergerak maju mengajukan protes ke gerbong depan yang merupakan gerbong mesin dan si empunya kereta yaitu Wilford, semakin dekat gerbong menuju gerbong pemilik teknologi mesin kereta itu maka semakin tinggi kelas sosial orang-orang di dalamnya. Memang dunia juga seperti itu toh, selalu dihadapkan dengan kondisi timpangnya keadaan orang-orang kalangan bawah dan kalangan atas, dan selalu saja ada titik dimana terjadi pergolakan antar golongan ini #macakserius.

snowpiercer_still2

Kita akan diberikan cerita bagaimana perjuangan mereka untuk bisa mendobrak ke gerbong depan karena ingin menemui (kalau tidak mau dibilang mengkudeta) Wilford sang pengusaha kaya tersebut, melalu strategi-strategi yang mereka rencanakan dengan “matang”, dan tentu harus selalu ada seorang  inisiator yang disini diperankan oleh Chris Evan bernama Curtis. Sambil disuguhkan strategi-strategi yang dia susun yang sebenarnya sih sederhana saja, kita bisa melihat penderitaan-penderitaan yang dialami oleh gerbong ekor ini.  Apa yang musti mereka kerjakan, apa yang musti mereka makan dan bagaimana bersesakannya hidup mereka.

Alurnya sebenarnya dibikin lurus-lurus aja, justru itu bagusnya. Diceritakan secara mengalir bagaimana mereka akhirnya bisa lepas dari gerbong ekor, tentu saja dengan melewati pasukan penjaga. Banyak darah berceceran, itu yang harus dibayar dari setiap revolusi kan? halah. Perjuangan mereka pun membuat terharu, diselingi drama tentang bagaimana jiwa perjuangan mereka awalnya bergolak. Oh tulusnya niat perjuangan ini, betapa semuanya ini demi mencapai aspirasi semua orang yaitu kehidupan yang lebih layak, menyadarkan tirani, atas nama kemanusiaan, etc, etc. Melewati gerbong per gerbong, ada saja yang ditemui oleh para pemberontak ini. Melewati dapur yang akhirnya membuat mereka tau apa yang mereka makan selama ini, terus melewati penjara (atau ruang rehabilitasi) dimana di sana mereka mencari seseorang bersama anak perempuannya (saya paling suka karakter dua orang ini) dengan tujuannya untuk membantu mereka menemui Sang Wilford walaupun orang itu juga sebenanrnya juga punya tujuannya sendiri, juga melewati para penjagal dimana di bagian ini korban banyak berjatuhan, melewati sekolah dimana mereka melihat bagamana anak sekolah didoktrin tentang Sang “Tuhan” Wilford. Dan banyak gerbong lain dengan kelas-kelas sosial masing-masing. Tentu saja ada kejadian berarti setiap mereka melewati gerbong itu.

Snowpiercer trailer 5

Dan di akhir ceritalah kita akan tau bagaimana sebenarnya konspirasi ini terjadi, apa yang melatar belakanginya dan bagaimana konspirasi itu dijalankan. Di sini kita sadar bahwa kejadian-kejadian yang di awal terlihat tulus mulai kelihatan motif-motif di baliknya, menjadi terlihat masuk akal. Kita jadi menyadari bahwa di dunia ini yang terlihat mata itu belum tentu seperti yang terlihat sebenarnya. Di akhirnyalah kita tau bagaimana kalimat ” I belong to the front, you belong to the tail” bisa dipahami. Dan sedikit cerita bahwa sebenarnya kereta itu tidaklah sepenuhnya sempurna.

Karakter Tilda Swinton tentu masih saja paling memikat. Sebagai juru bicara gerbong depan, dialah yang menghubungkan penguasa dengan rakyat jelata. Karakternya yang licik dan bermuka dua tentu saja membuat geram. Dan dia merupakan sosok antagonis yang memikat, membuat kita ingin menjerat lehernya (halah) sekaligus senang melihat dia terlibat dalam aksi revolusi ini. Kalau tidak ada dia, ini cuma semacam cerita sadis-sadisan biasa.

Dalam kereta ini ada multi etnis, terutama Korea dan Jepang. Mengingat sutradara adalah orang Korea wajarlah dia sedikit menonjolkan itu. Btw, keretanya kok gak lewat Indonesia sih, ih gitu banget deh pak Sut. Daaan… sinematografinya oke bangets!

Sekian… Dan mungkin, dunia memang sesempit itu ya.

snowpiercer

 

Seharusnya Biasa Saja Menjadi Istimewa

Mungkin karena sering mendapatkan hal-hal yang jelek, makanya “kita” cepat merasa puas. Ini saya kepikiran aja kemaren ketika saya menonton film “Mata Tertutup”, memang sebelum menonton film ini udah dikasih taulah sama mbak pembawa acaranya bahwa Film ini meraih banyak penghargaan di ajang FFI termasuk Sutradara Terbaik. Sesudah menonton pun terlihat muka puas dari penontonnya. Saya pun merasa tidak kecewa-kecewa amat. Karena apa? karena ini film indonesia yang termasuk “lumayan”. Padahal ketika film ini kita nilai stand-alone (halah istilahnya), sebenarnya ada aja kurangnya.

mata-tertutup-poster

Misalnya dalam meramu adegan per adegan, efek suara, efek gambar dan lain-lain. Ini dari kacamata penonton amatir doang sih ya (maaf om Garin). Terlepas memang bahwa di tempat saya menonton sound nya selalu jadi masalah sih *di-ban Goethe*. Saya menilai film ini bukan sempurna, walaupun saya masih senang aja menontonnya. Syukurlah akting para pemainnya bagus-bagus, apalagi Jajang C Noor.

Bukan sepenuhnya jelek ya? Iya.  tema yang diangkat ketika film ini terbit di tengah isu NII sedang hot-hotnya tentu menjadi daya tarik. Ini juga sebenarnya film yang bisa menimbulkan kontroversi karna simbol-simbol agama yang diangkat, dimana mengemukakan tentang golongan islam radikal. Kadang beberapa film memang sering menjadikan topik ini jadi jualannya ya :p Tapi di film ini banyak yang mengabaikan isu itu sepertinya, karena memang sebenarnya lebih menonjolkan konflik kemiskinan, konflik keluarga dan ketidak puasan pada pemerintah gitu deh.

Kalau meninjau dari pernyataan awal bahwa “Mungkin karena sering mendapatkan hal-hal yang jelek, makanya “kita” cepat merasa puas”. Di sini lah saya maklumi kenapa film ini mendapat penghargaan. Kualitas film-film lokal menurut saya sih sedang di bawah banget, jadi untuk memenangkan sebuah penghargaan dari sebuah film “lumayan” di antara film”jelek” tentu hal paling masuk akal.

Saya ini sebenarnya mau sok-sok ngebawain ke pemerintahan gitu. hohoho. Sekarang kita (kita?!) sangat sumringah sekali melihat kepemimpinan beberapa pemimpin daerah yang kayaknya memperhatikan banget gitu keperluan rakyatnya. Ya kan? yang sekarang lagi  kita elu-elukan. Pemerintah Jakarta, Bandung, Surabaya adalah contoh nyatanya yang lagi sering banget diomongin sekarang.

Padahal apa yang dilakukan bapak-bapak dan ibu ini sebenarnya adalah memang kewajibannya sebagai pemerintah daerah. Semua pemerintahan memang “seharusnya” seperti itu.  Itu namanya yang menjalankan pemerintahan dengan baik. Tapi kenapa mereka itu menjadi sangat istimewa? karena muncul di antara kepemimpinan beberapa pemerintah daerah lainnya yang lagi banyak cacatnya. Dimana hal yang normal di tengah sesuatu yang bobrok akan terasa istimewa. 

Mudah-mudahan kita bakal selalu dapat pemerintah yang normal kayak gini. Yang tau bahwa dia kerja buat rakyatnya…  Sehingga kita mendapatkan sesuatu yang memang selayaknya. Merata si seluruh tempat di Indonesia. Sehingga tidak ada lagi kepala pemerintahan yang isitmewa, semua sama saja.

Merdeka!

nb: buset, kok jadi serius gini postingannya. Sok ngerti film lagi. ah!