Katanya Suka Wayang, Tapi Kalau Ditanya Pasti Bingung.

Judul macam apa ini????Saya suka cerita Wayang. Suka ceritanya yang kompleks, suka tokoh-tokohnya. Suka menikmati ketika fikiran mengingat-mengingat karakter yang rumit dan terhubung itu. Walaupun sebenarnya cara saya menikmati wayang tidak efektif, sepotong-sepotong sehingga gak benar-benar bisa hapal jalinan peristiwa dan orang-orangnya.

gambar dipinjam dari sini 
Saya menyukai wayang dari berbagai versi, versi buku, versi komik, wayang orang yang walaupun dengan terbata-bata coba pahami, dan tentu saja saya membaca wayang dari internet. Yang pasti sih, wayang dalam bahasa indonesia. Yang tentu takkan saya tonton adalah Wayang kulit, karna biasanya wayang kulit pure bahasa jawa dan modelnya serius banget. Gak bakal kuat kayaknya nonton gituan. Beberapa kali kalau ada temennya saya pernah nonton wayang orang di Wayang Orang Bharata, Senen. Sambil menikmati ketoprak dan sate yang dijual di depannya. enak, bumbunya berasa dan satenya juga enak..  (oke mulai lost focus)
Yang paling sering saya baca adalah kisah Mahabharata dan Perang Bharatayudha. Pokokmen yang ada Pandawa dan Kurawa dan apa-apa yang ada di sekelilingnya.
Ini buku yang menarik, Empat Kesatria Menghentak Langit. Bukan tentang pandawa, tapi tokoh-tokoh yang lain pendukungnya. yang pasti, ringan. :p
Saya juga punya buku karya almarhum RA Kosasih yang komik ini. Sebenarnya agak merasa sedikit salah kalau memulai baca buku dari sini, karna menurut saya sih lebih baik baca kisah-kisah sebelum Perang Bharatayudha dulu. Tapi bukunya lumayan mahal, ihik.
Biasanya andalan saya jika ada tokoh-tokoh yang saya pengen tau atau lupa mengingat karakternya adalah tetap Wikipedia. Oiya, saya selalu tidak lupa dongeng wayang yang diposting +Christin Ratri di blognya di sini  dan satu lagi web yang sering saya buka di sini.
Sekian, nyerocos hari ini.. Mwaaah!

Mari Membaca dan Mari Berfestival

Apa yang istimewa dari acara Festival Pembaca Indonesia tahun ini yang di dunia twitter dijuluki #IRF2012, jawaban saya : tidak ada. So far sih acaranya berjalan lancar, tetap ada Bookwrap dan Bookwar nya, ada booth-booth dari berbagai komunitasnya, tetap ada talk-talkshownya, yang tentu saja itu sudah cukup memuaskan, tapi selain itu ya biasa aja 😀
Ke acara ini lagi-lagi saya gerayangi bersama Bu Guru Eka yang alhamdulillah selalu betah berlama-lama di sini. Kita sih udah punya persiapan sih, yang pertama fisik #halah, trus membawa buku-buku yang kita rasa pengen di-rolling sama buku yang nanti bakal kita dapatin di Bookswrap dan Bookswar.
Pasar Buku tempat Bookwrap
Jadilah ceritanya saya membawa 5 buku yang memang agak kurang tertarik buat dikoleksi dan saya mendapatkan… tadaaaaa…. buku-buku di bawah ini. Ada buku Lima Sekawan, ada buku kecil Edgar Allan Poe, dan tiga lagi deh. Saya merasa Bookwraps sangat krodit jadi gak bisa maksimal mendapat bukunya :p
Hasil tangkapan
Yang paling menarik perhatian saya adalah booth yang judulnya “Buku Buluk Mijil”, waaw koleksi biografi dan autobiografinya seperti koleksi harta karun. Di sini ketemu buku-buku langka. Ada buku banyak buku Tan Malaka, Soe Hok Gie, Bung Karno, sejarah-sejarah zaman revolusi dan yang seperti itu deh. Sayangnya, gak dijual. Jadilah pada gigit jari deh yang kepengen, termasuk saya. Karna buku-buku seperti ini banyak yang gak dijual lagi. 
Koleksi Buluk Mijil

Yang selalu ada di setiap acara ini adalah stand komunitas Harry Potter, ini ada di booth Kelontong Sihir sih, cuma ya banyak para penggemar  Harry Potter ngumpul di sini. Bisa beli-beli merchandise bertema Harry Potter, dan bisa baca sebuah buku keren banget yang isinya segala hal tentang film Harry Potter dan bukunya. 

buku kayak ini apa sih namanya?
Di sini juga banyak talkshow dari beberapa penulis dan komikus gitu. Juga ada tenda tempat pemutaran film, ada tempat mendongeng, ada stand-stand tempat membaca, ada booth Goodreads Indonesia, dan melihat banyak komikus lagi berkarya juga. Oiya, ada lelang buku The Casual Vacancy yang bertanda tangan J.K. Rowling loh. Tapi saya gak ikut sih, gak punya duit. #medit.
 

Sekian. Sampai Jumpa Di Festival Pembaca Buku Tahun depan… Byee…

Tak Lekang Oleh Zaman


A.A. Navis
fotonya pinjam dari sini
A.A Navis.. tak banyak yang saya katahui tentang dirinya selain dia adalah seorang pujangga angkatan tahun 50 – 60an. Berikut sedikit saya salin biografinya dari buku :“A. A. Navis lahir 17 November 1924 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Ia mendapat pendidikan di Perguruan Kayu Tanam. Pernah menjadi Kepala Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Sumatera Tengah di Bukittinggi (1952 – 1955), pemimpin redaksi Semangat di Padang (1971 – 1982), dan sejak 1969 menjadi Ketua Yayasan Ruang Pendidik INS Kayu Tanam. Karya-karyanya adalah Hujan Panas (1964), Kemarau (1967), Di Lintasan Mendung (1983), Dialektika Minangkabau (1983), Alam Takambang Jadi Guru (1984), bertanya Kerbau ke Pedati (2002) dan Saraswati, si Gadis dalam Sunyi (2002)”

Saya dulu selalu mengingat nama beliau ketika pelajaran bahasa indonesia, tak lain dan tak bukan karena selalu terngiang tentang buku “Robohnya Surau Kami” yang sepertinya sangat disanjung-sanjung oleh sang guru. Sempat membaca di perpustakaan sekolah yang tentu saja sekarang tidak teringat lagi ceritanya..hehehe.

Sesudah beberapa kali melihat buku ini di toko buku dan melewatkannya, akhirnya saya putuskan untuk membeli. Kesimpulannya dari buku ini adalah : ini buku yang fenomenal!
Sebuah buku dengan pemikiran modern di tahun yang sangat jauh di masa lalu. Sebenarnya tak perlu heran juga sih, bukankah kejeniusan pemikiran generasi-generasi dulu yang membuat kita bisa setara di mata dunia di masa sekarang ini (aduuh..serius banget ciit).

Oke, jadi ceritanya buku ini tentang apa cit?
Sebenarnya cerita ini adalah semacam kumpulan cerpen dengan tema-tema yang berbeda di dalamnya, walopun tidak jauh-jauh dari tema pergesaran-pergeseran nilai di masyarakat, eh jangan menganggap cerita ini terlalu berat sehingga membosankan untuk di baca ya, justru di dalamnya adalah cerita-cerita ringan, walopun ada cerita yang tidak biasa, tapi tetap saja didalamnya sarat dengan makna.

Contohnya tentang cerita yang dijadikan sebagai judul buku ini, yaitu “robohnya surau kami” di dalamnya juga memuat dialog sang tokoh utama dengan Tuhan. Betapa dia kekeuh membela diri sebagai orang alim, tapi tetap di masukkan oleh Allah ke Neraka. Menggugah tentu saja.. dan kritis kalo di tinjau dari sudut lain.

Juga ada cerita dengan ending yang membuat kita ternganga karna tak menyangka akan dieksekusi di luar harapan kita. Seperti nonton thriller dengan ending tak terduga toh? #halahlebay, ya tapi tentu saja dengan format pendek karna ini kembali lagi adalah sebuah kumpulan cerpen.

Tentu saja lagi-lagi saya tidak bisa tak menganggumi sang pengarang yang dengan kebriliant-annya mampu menciptakan cerita-cerita seperti ini. Walopun dengan seting masa krisis penjajahan jepang atau setingan kehidupan sederhana.

Kedepannya saya bertekad akan sering lagi membaca karya-karya pujangga lama, agar kembali merasakan bahwa begitu hebatnya para penulis kita dulunya.. Amin..amin.. 😀

 

Marilah kemari wahai pembaca-pembaca buku

Ketika di minggu pagi sedang mantengin timeline, tiba-tiba seorang teman sedang menge-twit tentang dia yang sedang berada di Festifal Pembaca Indonesia. Hmm..ini acara apa ya? terus terang saya belum pernah mendengarnya. tapi ini pasti tentang buku, bukan tentang memancing #yaiyalaaa.
Dan dengan suasana badan yang dipaksa mandi, akhirnya dengan tekad yang bulat telur,saya berangkat ke lokasi.
Tempatnya berada di Gor Sumantri, di halamannya. tepatnya pas berada di sebelah kanan Pasar Festival.
Akhirnya saya datang juga bersama beberapa orang teman, yang janjian ketemuan disana. ini adalah teman-teman yang saya tau agak gila kalo masalah baca-membaca buku, seperti @saifulmuhajir dan @ekasept. di sini juga ketemu dadakan dengan beberapa teman-teman kopdarjakarta.. , macangadungan, natalie dan mama wiwikwae.
Jadi apakah sebenarnya Festifal Pembaca Indonesia 2010 ini cit?
Hmm.. yang pertama menarik perhatian saya adalah stand-stand para kolektor buku yang tergolong mania banget. Di sini saya liat ada kolektor karakter tokoh kartun amerika, kolektor Lord of the ring (eh atau penggemar JRR Tolkien ya) dan tentu saja kolektor serial Harry Potter
Eh saya juga menemukan stand seorang kolektor buku-buku bacaan saya jaman kecil yang sangat saya digemari. Koleksi Daftar Pustaka yang memuat tentang dasar-dasar ilmu pengetahuan yang cocok sekali dibaca oleh anak-anak. Ilmu-ilmu yang ditampilkan secara ringan dilengkapi dengan gambar dan contoh-contoh percobaan. Kalo saya sih membaca buku ini dulu di pustaka sekolah, tapi sang empunya koleksi ini bercerita bahwa semua buku itu adalah koleksinya sejak kecil yang dia simpan sampe sekarang dan masih ada..waaaaw takjub. koleksinya banyak juga.
Dan yang bikin eksaitid banget adalah, ada satu meja yang di sponsori oleh -kalo gak salah- Goodreads Indonesia yang menyediakan buku-buku bekas yang bisa ditukarkan dengan buku bekas lain yang kita bawa.
Jangan kecewa dengan buku yang tersedia disini, karena itu bisa saja buku-buku kualitas bagus, buku yang ingin kau beli tapi belum kesampaian atau malah buku yang benar-benar baru karena masih ada sampulnya.
Meja inilah yang paling banyak dikunjungi orang, tapi tentu saja kau harus membawa buku bekas juga. integritas di uji loohh karena meja ini tanpa pengawasan 😀
Dan saya memang menemukan satu buku yang belum terbeli untuk melengkapi koleksi yang udah punya.. #girang *lompat2* *salto* *kayang*
Ada juga stand yang diperuntukkan dikunjungi untuk sekedar ingin membaca. Stand itu biasanya didirikan oleh taman-taman bacaan atau kolektor. jadi kalau ingin membaca kesini mungkin sebaiknya kita datang lebih pagi agar waktunya lebih luang. saya sih gak sempat karena sibuk mikirin mendapatkan buku bekas hihiihi.
Di bagian lebih kedalam lokasi festival, ada stage yang menampilkan talkshow oleh para penggiat buku dan pengarang-pengarang populer indonesia. Jadi kalau kita tau jadwal shownya maka mungkin bisa menemui pengarang yang kita idolakan, sekalian bisa minta tanda-tangan. Sayangnya saya gak punya jadwal jadi gak tau siapa saja yang tampil.
Ketika kemaren di sana saya sih sempat sekilas melihat shownya raditya dika si kambing itu dan beberapa launching buku. Juga tersedia gudibek buat yang mantengin shownya, menarik bukan..
Tidak kalah serunya juga stand-stand para penggiat menulis dan menggambar yang mempromosikan tentang betapa gampangnya menulis dan menggambar serta menawarkan program-program menarik yang akan membantu kita mengasah bakat-bakat tersebut. Mereka juga memberikan link-link program menarik jika kita ingin menerjuni kedua bidang itu.
Ehmm.. eh eykee juga sempat berfoto dengan sang pengarang buku Negri 5 Menara itu, Mr. Fuadi. Pake malu-malu dulu minta fotonya gyahahaha.. sayangnya gak bawa bukunya, jadi gak bisa minta tanda-tangan 😀
Ada event menarik juga di pojok sebelah kanan depan areal Festival ini yaitu semacam mobil van yang -kalo gak salah lagi- disponsori oleh WWF yang mengakomodir keinginan anak-anak. Di pojok ini ada acara lomba menggambar dan mewarnai, juga telling story yang disajikan secara atraktif karena diselingi dengan bernyanyi dan jingle-jingle. Seru deh pokoknya…
Demikian pengalaman saya mengunjungi Festival Pembaca Indonesia 2010 yang sangat menarik. Pesannya sih mudah-mudahan tahun depan kalo mau ada event ini lagi mungkin promosinya dibikin lebih mentereng sehingga jadinya saya tau lebih awal (padahal sendirinya yang gak gaul… :p) dan acaranya disetting agak berapa hari gitu, biar kita-kita lebih puas…
Sampai jumpa lagi di Festival tahun depan yaaa…. *dadah2*

Rasa bersalahku kepada Buku

Apakah tiba-tiba kecepatan bacamu menurun? dulu bisa menghabiskan Harry Potter Edisi 7 hampir seribu halaman dengan sekejap, sekarang untuk menamatkan Edisi Tan Malaka 184 halaman aja, udah pake senam dulu sebelum baca buat pemanasan tetap aja gak kelar-kelar…

Apakah masalahmu sama dengan masalahku..? apa sumber masalah dari semua ini?? (kayak mau bikin disertasi aja ciiit).
Terus terang saya suka sekali membaca.. dulu suka termasuk sekarang juga masih suka. Malah kalo saya sedang gundah gulana dan ingin melepaskan lara #tsaaaaah, saya ujung2nya akan ke toko buku dan membeli buku untuk melampiaskannya. Tapi ya gitu deh jadinya ,banyak sekali PR untuk menyelesaikan buku-buku tersebut.

Seteleh di pikir-pikir, secara umum yang menjadi penyebab sehingga buku bacaan kita banyak terbengkalai adalah..

  1. Twitter. Mungkin kualat ini jadinya nyalah2in twitter yang selalu menghibur dan menemani dimana saja kita berada. tapi memang twitter ini sangat menyita waktu. Bayangkan sepulang kerja yang sebenarnya adalah waktu yang sangat efektif dipake buat hal-hal yang rileks, sebagian besar sudah kita pakai untuk kegiatan twiteran. Nyampe rumah otomatis buka laptop, ngecek trending topik, ikut perbincangan, kepo kesana kemari :D, buka-buka tautan.. yang semuanya adalah merujuk dari timeline twitter kita. Buku yang selalu saya bawa kemana-mana di tas itu sekarang cuma buat berat-beratin tas aja, krna fungsinya untuk selingan diwaktu luang sudah tergantikan kedudukannya dengan twitter. Maaaf ya buku… *cium-cium buku*.
  2. Main internet, ini yang saya kategorikan selain twitteran. seperti gugling kesana kemari, blog walking, buka-buka fesbuk, ngecek email, milis dan aneka kegiatan internet lainnya. Memang dunia Internet yang tak terbatas ini membuat keingintahuan kita menjadi juga sangat tak terbatas sehingga membuat kita menghabiskan waktu untuk mengetahuinya.
  3. Tidur. Saya sih tidak tau, apakah membaca buku membuat saya ngantuk atau ngantuk yang membuat saya tak bisa lagi baca buku. Seperti lingkaran setan. Padahal dulu saya selalu membaca buku sambil tiduran, sekali lagi..ituuu duluuu….Sekarang bantal dan buku tak lagi bisa rukun. harus saya pilih salah satu dari keduanya. otomatis, kalo saya ingin membaca harus dalam keadaan punggung tegak, agar satu halaman saja minimal bisa selesai dengan sempurna. Ada lagi kejadian, saking mungkin setan ngantuk sudah sangat meraja..saya tidak tau lagi dimana akhir halaman yang saya baca ketika terbangun. tidur dan membaca kadang2 melebur di satu waktu. parah istilahnya nih.tks.. Jadi saya yang suka begadang ini kalo kebetulan tidur cepet, itu biasanya dikarenakan lagi baca buku sambil tiduran…
  4. Faktor U. Ini mah ngasal, gak mungkin tuhan menganugrahkan otak yang udah gak nangkep lagi sama saya..amin…amin (berdoa). tapi mungkin memang di usia belasan otak kita lebih jago dalam hal membaca, lebih fresh maka lebih cepet bacanya. iya gak sih tweeps.. (ini bukan twitter ciit)
  5. Sosialita.. ngiyahahahahaha… gaya banget sih gw.. tapi saya sekarang punya kecendrungan suka pengen jalan kemana-mana, sekurang-kurang nonton sendiri ke bioskop, atau kalo gak…bikin kesibukan sendiri buat nyapek2in badan. yang akibatnya nyampe rumah langsung tepar dan tidurr lagi ujung2nya.
  6. Nonton TV atau DVD, ini adalah masalah klasik. biasanya sih DVD yang bikin menyita waktu,secara acara TV kan juga gak ada bagus-bagusnya nih sekarang. Satu DVD itu sekitaran satu setengah jam, di combine dengan ngetwit..habis deh waktu eykeee boooo’.

Dari itu semua, porsi terbesar adalah dari kegiatan ngetwit. Bagaimana dengan anda?? 😀
Oiya,baydewey, dipersilahkeeun follow twitter saya di @icit_ yaaaa (teteup promosi… ^_^)

jarang2 beli buku jenis begini, tapi saya suka :))