Bermalam Minggu di Indonesian Jazz Festival 2015

Kemaren saya berkesempatan ke Indonesia Jazz festival yang seperti tahun kemaren tetap bertempat di Tenis Indoor Senayan. Tidak seperti tahun kemaren dimana saya berfestival ketika belum punya anak, kali ini bawa bocah cowok umur 6 bulanan yang orangnya sangat antusias 😀 Karena membawa bayi tentu saja gak bisa ke sana tanpa persiapan, jadinya berangkat perlu mempersiapkan banyak hal tentang makanannya, baju ganti dan peralatan perang lainnya. Jadinya gak ngotot mesti datang on-time, sesiapnya semua keperluan bayi kelar aja. Walaupun kita ada planing ancer-ancer datang pas jadwal Ina Kamari karena memang pengen liat penampilannya, agak telat sih tapi untungnya masih sempat nonton. Cuma karena panggungnya dia hadap-hadapan sama panggung depannya, jadi saya merasa kurang menikmati. Rada tabrakan gitu deh soundnya.

IMG_20150829_172635

Artis lain yang bisa saya tonton lagi adalah Soul Vibe. Adanya di panggung utama jadi soundnya berasa lebih oke. Menonton di panggung utama memang selalu lebih baik karena banyak bangku buat duduk, kalaupun mau nonton ala  festival lebih nyaman karena lebih adem mengingat di dalam ruangan dan tentu aja ada AC-nya.

Buat saya tentu saja tak akan melewatkan Syaharani. Untungnya Syaharani langsung tampil sehabis magrib maka kita langsung bisa menontonnya. Dia kali ini juga tampil di stage utama jadi nontonnya lebih syahdu. Seperti biasa, mbak ini penampilannya sangat prima, penasaran dia makannya apa gitu ya sampai punya suara yang sangaaaaaaaaat oke dan stamina yang gak kaaaaalaah oke.

IMG_20150829_184315

Yang menyenangkan dari konser yang gak terlalu rame adalah, kamu bisa bergoyang mengikuti lagunya dengan bebas, bahkan sambil gendong bayi. Sungguh menyenangkan. Ngomong-ngomong tentang bawa bayi, ngikutin konser sejenis festival gini memang lebih memungkinkan karena kita bebas menclok dimana aja, ada tempat makan buat rehat sambil nyuapin anak dan juga bisa pindah-pindah jikalau merasa panggung yang satu tidak cocok dengan kuping si bayi. Cuma saya sarankan bawa semacam penutup kuping untuk mengurangi intensitas suara masuk ke kuping dia. Biar kita gak terlalu milih-milih sama lagu yang terlalu keras buat bayi dan biar dia lebih nyaman aja.

Di IndoJazz ini sudah tersedia tempat makan semacam food court gitu, jadi jangan khawatir kalau kelaparan. Juga tersebar booth-booth makanan dan minuman yang lumayan menarik seandainya kelaparan, sayangnya sih saya tidak  karena lebih memilih makan di mall di sebelahnya sih, mehehe. Juga yang berkesan buat saya, tidak ada yang namanya parade smartphone selama konser. Paling ada satu-dua orang yang memoto ke arah panggung tapi udah, sebentar saja. Kalaupun ada yang merekam biasanya mereka memakai kamera biasa beserta tripod yang tentu saja tidak mengganggu. Kalau konser kayak gitu jadi enak liatnya ya.

IMG_20150829_185329

Karena udah lewat jauh dari jadwal tidur si bayi, maka tidak memungkinkan buat kita nyelesain nonton konser musik ini sampai kelar. Setelah duduk sebentar sambil dengar musik di sana-sini kita memutuskan keriaan ini diakhiri dulu. Bye Maliq, bye Extra Large, bye Gerald Situmorang, bye Eva Celia (ini penasaran liatnya), bye Dian PP,  bye Tesla Manaf, bye The Groove, bye Gugun Blues Shelter, bye semuaaaa….Mudah-mudahan saya bisa nonton lagi tahun depan.

Terimakasih Kang Caplang for the tikets 😀

The Journey becomes a Mom

“Melahirkan dengan operasi gak akan mengurangi nilai lo sebagai ibu cit” ~ Seorang teman.

Saiful Muhajir

Iya, saya akhirnya melahirkan dengan caesar. Sesudah mensugesti diri setiap saat bahwa saya akan melahirkan normal. Meyakinkan diri dan diyakinkan suami bahwa bagaimanapun dia bisa lewat di tempat seharusnya dia musti lewat. Melakukan berbagai hal supaya bisa melahirkan normal, dari sering jalan-jalan, sujud-nungging biar posisinya kepalanya di bawah, naik turun tangga biar bayinya turun, makan nanas dan nipple stimulation biar cepat kontraksi, ternyata si Junior gak mau lewat tempat yang biasa itu 😀

Dokter tempat saya konsultasi selama kehamilan memang dokter pro kelahiran normal, sehingga melahirkan dengan operasi tidak pernah terbayangkan sebelumnya, mental dan badan saya persiapkan untuk melahirkan normal, tentu saja begitu. Namun ketika saya pindah konsultasi ke dokter lain dikarenakan melahirkan di kampung, ternyata dia sudah mensinyalkan bahwa saya akan melahirkan operasi. Penyebabnya : Bayinya udah berukuran besar. Dunia langsung suram. Oops tunggu dulu, saya tidak mau menyerah begitu saja karena hal itu. Karena dari berbagai artikel saya baca dan banyak orang yang saya tanyai, ukuran bayi bukan penghalang bagi mereka untuk melahirkan secara normal.

Saya tidak menyerah, maka dicarilah second opinion. Saya cari dokter yang lain yang saya tau juga pro kelahiran normal. Ketemulah seorang dokter di Bukittinggi. Awalnya memang dokternya bilang saya akan bisa melahirkan normal, tapi semakin bertambah minggu usia kehamilan semakin ragu tampang dokternya :))) Konsultasi pertama memang dia bilang ukuran bayinya gede, tapi dia masih optimis. Minggu selanjutnya bayinya sungsang, dia suruh sujud-nungging dan syukurlah konsul selanjutnya kepalanya udah ke bawah lagi, oke masih optimis. Minggu berikutnya bayinya melintang, apaaah? melintang?! oke saya disuruh lagi sujud-nungging yang manjur lagi, bayinya di posisi normal lagi. Sejalannya waktu itulah saya mulai melihat rona keraguan di wajah dokter. Awalnya dia pikir ini adalah kehamilan saya yang kesekian jadi kemungkinan melahirkan normal menjadi lebih gampang, tapi ketika saya bilang ini adalah kehamilan pertama reaksinya berubah. Utamanya dikarenakan bayinya belum masuk panggul dan posisinya masih di atas.

Berdasarkan arahan dokter di Jakarta yang menyarankan agar saya melahirkan di minggu ke-37 lah menjadi acuan saya memperkirakan kapan harusnya lahir si bayi. Berhubung umur kandungan udah menjauhi due-date dokter tadi, maka saya beranggapan udah oke aja kalau saya bayinya dilahirkan saja. Saya sudah siap dengan induksi. Akhirnya dokter di kampung mau membantu melahirkan walaupun saya belum konstraksi, katanya “kamu minggu depan ke sini aja, nanti kita lihat, pokoknya kita usahakan walaupun mau induksi atau operasi. Suaminya disuruh pulang aja”. Iya, suami udah mau pulang kok dok 😀

Akhirnya saya melahirkan di dokter sebelumnya yang bilang bahwa saya kemungkinan akan operasi, karena toh dokter yang pro kelahiran normal itupun sepertinya akan tetap melakukan operasi kalau bayinya gak turun juga. Memang, bayinya gak turun-turun, pun gak pernah kontraksi. Dia masih senang di perut ibunya. Karena hangat dan makanan berlimpah kali ya. 😀

Jeng jeeeeng…begitulah selanjutnya, saya naik meja operasi. Benar-benar membuat stress. Saya memang belum pernah “menyentuh” rumah sakit karena alhamdulillah selama ini belum pernah sakit kategori parah, tapi ini sekalinya ditangani rumah sakit langsung dibedah, dipasangi infus dan kateter. Pasang kateter saja sudah bikin shock :'(( Untung ada suami di samping saya yang menemani selama menunggu masuk ruang operasi. Butuh tiang buat pegangan ini >_< ((tiang))).

Masuk operasi dengan badan agak menggigil yang gak bisa ditahan, eh masih sempat liat darah tercecer dari pasien operasi sebelumnya. Buseeet, hambok ya dibersihin dulu baru pasien baru dibawa masuk. Pas mau disuntik punggungnya sempat nanya “itu yang disuntik tulangnya ya?”, pertanyaan bodooooh hahahaha. Tapi ternyata abis disuntik trus badannya jadi kebas dan sesudahnya gak berasa apa-apa. Lhawong selama operasi diajak ngobrol sambil ketawa-ketawa sama dokternya. Dokter yang baik, walaupun dia tahu saya berkhianat ketika mencari second opinion ke dokter yang lain.

Apa yang mengalahkan cerita itu semua? Yaitu ketika dengan pandangan terbatas karena dihalangi tabir pembatas  akhirnya melihat seorang bayi kecil baru lahir dengan jidatnya udah mengernyit dengan tangisan yang sangat kuat. Ya Tuhaaaan. Saya jarang terharu, tapi melihatnya ternyata air mata susah ditahan. “Keningnya mirip ibunya” itu kata dokter anestesi, saya cuma tesenyum. Kemudian wajahnya disodorin buat dicium sebelum selanjutnya dibawa ke bapaknya buat diazanin. hisham

Bagaimana rasa perut sesudah operasi? Gak usah ditanyaaaahahahaha. Pokoknya bikin gak bisa tidur 😀

Begitulah. Akhirnya saya jadi Ibu…. :’)

Pregnancy Buat Panduan Harian Kehamilan

Karena baru hamil anak pertama dan belum berpengalaman jadinya saya suka nanya-nanya tentang kehamilan ke orang-orang yang udah pengalaman. Terutamanya nyokap dan sodara-sodara sih, apalagi punya tante bidan jadi seperti dilimpahi keberkahan tersendiri. Tapi sebagai anak two-point-ow saya tentu harus punya aplikasi sendiri di perangkat teknologi yang saya pakai yaitu handphone. Kalau masalah ini sih gak bisa nanya ke sodara-sodara, jadinya saya nanya ke new-mommy yang two-point-ow juga yaitu Eka.

Awalnya eka memberi tahu aplikasi yang bernama Mommychi yang dia tulis sendiri di sini. Tapi ternyata belakangan dia ngasih tau aplikasi yang bagus yaitu aplikasi Pregnacy dari Babycenter. Ternyata memang bagus dan saya langsung klop. Aplikasi ini akan menampilkan artikel-artikel yang akan mendampingi kita tiap hari sesuai step perkembangan kehamilannya.

1 (4)QuickMemo+_2014-10-16-15-04-07

 

Tiap hari dia bakal ngasih tau fakta-fakta tentang perkembangan kehamilannya, memberi masukan dan saran dan tips-tips yang bakal nolong banget, apalagi buat saya yang gak tau sama sekali gini. Dia juga ngasih warning hal-hal yang perlu diperhatikan di saat-saat tertentu, ada notifikasinya segala kok. Di email juga dikasih tau, jadi kita bisa memantau dari sana juga. Misalnya saya hari ini dikasih tau buat dengerin musik dan bergoyang mengikuti irama musiknya, karena katanya bayinya udah bisa dengerin dan dapat merasakan gerakan kita. Gitu-gitu deh contohnya. Yang paling sering emang ngasih pengetahuan tentang kesehatan dan makanan, apakah ini baik atau tidak, daaaan sebagainya.

Di aplikasi ini juga ada tab yang menampilkan checklist perminggu buat dicentangin apakah list-list nya udah dikerjain atau belum. Membantu banget buat mengingat hal-hal yang siapa tau terlupakan. Gak semuanya penting-penting juga sih, misalnya dia kasih list “go to bed early” atau “do somethng nice for yourself”. Emang pengingat-pengingat kecil, tapi kalau gak diingetin ya bakal lupa aja kan? 😀

1 (1)

 

Ada lagi pemantau tendangan bayi, jadi biar kita bisa tau dia nendangnya berapa sering dan berapa aktif. Bisa buat antisipasi ketika bayinya tiba-tiba mogok nendang dan jadi acuan buat diperiksa ke dokter. Karna bayi saya nendang sering banget saya sih gak setiap kali memantau sih, dicatet sedapetnya aja.

QuickMemo+_2014-10-16-15-03-39

 

Adalagi yang namanya Product Search yang buat saya sih gunanya untuk liat-liat keperluan apa saja yang bakal disiapin menjelang kelahiran, walaupun saya belum mulai bikin list sih. ihik. Biasanya product search ini nge-link ke jualan produk sih. Ya gak mungkin beli juga kan, dagangan orang luar ini. Mending beli di sini aja. :p

Satu lagi buat yang suka narsis ada “bumpie”. Aplikasi buat ngambil foto perut yang njedul. Biar rapi dan terorganisir dengan baik. Bagus juga buat liat perkembangan besar kandungannya,

 

 

Segitu deh review tentang aplikasi yang saya pakai. Bagus sih ya… Mau liat-liat websitenya juga oke.

Selamat mencoba buat yang mau coba. Muaaaah!