Seharusnya Biasa Saja Menjadi Istimewa

Mungkin karena sering mendapatkan hal-hal yang jelek, makanya “kita” cepat merasa puas. Ini saya kepikiran aja kemaren ketika saya menonton film “Mata Tertutup”, memang sebelum menonton film ini udah dikasih taulah sama mbak pembawa acaranya bahwa Film ini meraih banyak penghargaan di ajang FFI termasuk Sutradara Terbaik. Sesudah menonton pun terlihat muka puas dari penontonnya. Saya pun merasa tidak kecewa-kecewa amat. Karena apa? karena ini film indonesia yang termasuk “lumayan”. Padahal ketika film ini kita nilai stand-alone (halah istilahnya), sebenarnya ada aja kurangnya.

mata-tertutup-poster

Misalnya dalam meramu adegan per adegan, efek suara, efek gambar dan lain-lain. Ini dari kacamata penonton amatir doang sih ya (maaf om Garin). Terlepas memang bahwa di tempat saya menonton sound nya selalu jadi masalah sih *di-ban Goethe*. Saya menilai film ini bukan sempurna, walaupun saya masih senang aja menontonnya. Syukurlah akting para pemainnya bagus-bagus, apalagi Jajang C Noor.

Bukan sepenuhnya jelek ya? Iya.  tema yang diangkat ketika film ini terbit di tengah isu NII sedang hot-hotnya tentu menjadi daya tarik. Ini juga sebenarnya film yang bisa menimbulkan kontroversi karna simbol-simbol agama yang diangkat, dimana mengemukakan tentang golongan islam radikal. Kadang beberapa film memang sering menjadikan topik ini jadi jualannya ya :p Tapi di film ini banyak yang mengabaikan isu itu sepertinya, karena memang sebenarnya lebih menonjolkan konflik kemiskinan, konflik keluarga dan ketidak puasan pada pemerintah gitu deh.

Kalau meninjau dari pernyataan awal bahwa “Mungkin karena sering mendapatkan hal-hal yang jelek, makanya “kita” cepat merasa puas”. Di sini lah saya maklumi kenapa film ini mendapat penghargaan. Kualitas film-film lokal menurut saya sih sedang di bawah banget, jadi untuk memenangkan sebuah penghargaan dari sebuah film “lumayan” di antara film”jelek” tentu hal paling masuk akal.

Saya ini sebenarnya mau sok-sok ngebawain ke pemerintahan gitu. hohoho. Sekarang kita (kita?!) sangat sumringah sekali melihat kepemimpinan beberapa pemimpin daerah yang kayaknya memperhatikan banget gitu keperluan rakyatnya. Ya kan? yang sekarang lagi  kita elu-elukan. Pemerintah Jakarta, Bandung, Surabaya adalah contoh nyatanya yang lagi sering banget diomongin sekarang.

Padahal apa yang dilakukan bapak-bapak dan ibu ini sebenarnya adalah memang kewajibannya sebagai pemerintah daerah. Semua pemerintahan memang “seharusnya” seperti itu.  Itu namanya yang menjalankan pemerintahan dengan baik. Tapi kenapa mereka itu menjadi sangat istimewa? karena muncul di antara kepemimpinan beberapa pemerintah daerah lainnya yang lagi banyak cacatnya. Dimana hal yang normal di tengah sesuatu yang bobrok akan terasa istimewa. 

Mudah-mudahan kita bakal selalu dapat pemerintah yang normal kayak gini. Yang tau bahwa dia kerja buat rakyatnya…  Sehingga kita mendapatkan sesuatu yang memang selayaknya. Merata si seluruh tempat di Indonesia. Sehingga tidak ada lagi kepala pemerintahan yang isitmewa, semua sama saja.

Merdeka!

nb: buset, kok jadi serius gini postingannya. Sok ngerti film lagi. ah!

10 Comments

  1. setuju sih … kenapa pemimpin yang itu dinilai terlalu istimewa, yang mana memang seharusnya begitu… mungkin karena mereka bersinar diantara banyaknya pemimpin yang jelek…hahhahha

    mari kita fokus kritik pemimpin yang jelek 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *