3

He turns three.

Terimakasih udah menjadi pengisi hari-hari.

Terimakasih atas semua ciuman dan pelukan.

Terimakasih atas semua tingkah yang menceriakan.

Terimakasih udah menjadikan hidupku sangat berarti.

Jadilah kuat dan bersinar… Anakku sayang.

Penasaran

Kemaren Kamis saya berencana pulang agak lebih cepat daripada jadwal finger print kantor, alasannya…gak jelas. Pengen aja gitu.

Tetapi tiba-tiba tidak jadi. Gara-gara satu orang teman kantor menganalisa kepribadian orang lain. “Mas Anu itu orangnya pragmatis melankolis.., kalau Mbak Itu orangnya apalah…apalah…”. Trus, saya yang tadi udah nyantolin tas di pundak, duduk lagi, gak jadi pulang cepat.

Jadilah satu-dua orang kolega ini saling membahas kepribadian orang lain dan juga termasuk kepribadian mereka sendiri. Saya yang penasaran cuma mendengarkan sambil duduk dan menopang dagu. Eh, sambil gugling di hape tentang jenis kepribadian yang mereka bicarakan ini. Untuk memastikan saya tidak salah dengan pengertiannya, crosscheck dengan pengetahuan saya.

Ketika akhirnya keluar juga omongan tentang saya. Aha. Ini dia.

Sebenarnya saya bukan penasaran tentang analisa kepribadian saya sendiri -karena tentunya saya lebih tau dari orang lain- tapi terlebih karena ingin tau sejauh apa orang lain berpikir tau tentang diri saya.

Sejauh ini….saya senyumin aja.

Btw, ketika saya beneran mau pulang, hujan turun deras sekali. Yaelaaaah, tambah telat nyampe rumah.

Cermin

Beberapa waktu belakangan ini merupakan salah satu dari sekian banyak (((sekian banyak))) kondisi terlemah saya, sepertinya. Saya seperti agak merasa direndahkan, dianggap sepele dan tidak dianggap. Sempat membuat mood naik turun yang membuat saya setiap saat harus mengelola perasaan. Biar hidup gak terlalu larut dengan perasaan negatif itu dan terus aja melangkah dengan kepala tegak. Toh hidup itu sebenarnya punya banyak dimensi, kalau satu dimensi tak diharapkan, mungkin dimensi yang lainnya menceriakan. Ya kan?

Trus, sembari mencuci piring barusan, yang seperti biasanya sering dilakukan sambil melamun dan merenung, saya jadi sadar bahwa terkadang suka tanpa sengaja berpikir bahwa orang lain juga lebih kecil daripada saya. Menganggap dia kok gak bisa apa-apa atau kok susah sekali dikasih arahan atau penjelasan. Atau malah kadang terungkapkan dengan kata-kata, walaupun tidak secara langsung. Bisa saja menimbulkan perasaan yang tidak enak atau pun tidak menimbulkan apa-apa, tapi toh dasarnya dari pikiran tak bagus.

Yah mungkin hidup kita adalah refleksi dari diri kita sendiri, entahlah. Musti beli cermin yang besar.

Random : Ngomongin Anak

Suami memang selalu tidur lebih telat dari saya dan anak bocah. Kalau tidak karena menyelesaikan kerjaan, ya paling lagi nonton atau baca. Kebetulan malam ini si anak bocah gak tau kenapa sering banget terbangun.

Trus tadi dialognya gini :

👦 Pak’e kemana?

👧 (jawaban standar)  lagi kerja di luar.

👦 kerja dimana?

👧 di bawah kok. Kerja di bawah. Pakai laptop. 

👦 ooo kerja di bawah ya… 

Tidur lagi. Tapi bentar doang terus kebangun lagi. 

👦 (ngomong gak jelas

👧  eh Ande tidur di sana ya. Kan ini tempat Pak’e tidur (sesuai kebiasaan gitu deh)

👦 iya. Tunggu ya Ande, Pak’e kerja dulu.

👧 (nahan ketawa) iyaaa…

Lah, malah dia yang ngasih tau emaknya… 
Gitu doang. Ini ngeblog dari HP sambil ngelonin anak, ceritanya.

Good night 🌃 

Kadang

Kadang aku ingin bisa apa aja. Berkobar seperti martabak. Markobar. Pengen menguasai ini…itu… Pengen mencoba ini…itu. Pengen ke sini…ke situ… 

Kadang ya tidak. Pengen tiduran aja seharian di rumah. Mau bersemangat mandi aja susah. 

Hah. Dasar manusia…

2018

2018

  1. Nurunin berat badan dan lingkar paha.
  2. Kuliah
  3. Lebih bijaksana
  4. Gak terlalu cepat tidur malam
  5. Rajin bersihin wajah
  6. Lancar berbahasa inggris
  7. Bisa aplikasi desain 3D
  8. Konsisten menabung
  9. Rutin mengaji
  10. Rajin baca buku