2018

2018

  1. Nurunin berat badan dan lingkar paha.
  2. Kuliah
  3. Lebih bijaksana
  4. Gak terlalu cepat tidur malam
  5. Rajin bersihin wajah
  6. Lancar berbahasa inggris
  7. Bisa aplikasi desain 3D
  8. Konsisten menabung
  9. Rutin mengaji
  10. Rajin baca buku

 

Pulang Kampung Sebentar 

Baru kemarin saya habis balik dari kampung. Cuma sebentar sih, kurang puas sebenarnya. Tapi ya lumayan lah daripada tidak sama sekali.

Banyak hal dari pulang kampung yang bisa dijadikan konten blog tiap hari, tapi kan lagi menikmati pulang, ceritanya. Belum lagi kendala sinyal yaaaang….gitu-gitu aja gak ada perubahan dari jaman jebot.

Total pulang 6 hari termasuk jam penerbangan. Di kampung sering hujan yang bikin jadwal agak berantakan. Terutama jadwal Reuni Akbar yang berniat saya datangi. Tapi begitulah yang namanya Padang Panjang, kalau harinya gak gloomy justru aneh. Cocok buat keluarga Cullen menetap.

Alhamdulillah sempat kuliner makanan wajib ketika pulang, Mie Ayam Asri yang kehabisan Mie Ayam jadinya makan Mie Bakso, Sate Mak Syukur (yah klasik deh) dan Restaurant kita semua Bopet Gumarang. Pun sempat mencoba tempat makan lain yang baru dan tidak mengecewakan. Hidupmu kok seputar makanan aja Cit…Cit… Kapan-kapan aku bikin postingannya ah. 

Pulang kali ini cukuplah buat refreshing akhir tahun. Walaupun gak boleh cuti di tanggal kejepit natal dan lebaran, paling gak sebelumnya sempat jalan-jalan. 

Cari tiket kemana lagi yaaa….eh.

Selamat Jalan Bapak AM Fatwa

Alkisah, saya tidak pernah berniat nyoblos ketika pemilihan anggota dewan kecuali di satu waktu ketika saya liat ada wajah AM Fatwa di lembar sosialisasi pemilu anggota fraksi DPD Jakarta. Iya, saya liat mukanya di lembar pemilihan dan saya coblos dia. Sesudah dan sebelum itu tak pernah.

Innalilahi wa innailaihi rajiun, akhirnya beliau pergi menghadap Yang Kuasa. Semoga perjuangan dia untuk Indonesia mendapat balasan-Nya.

Mengenang masa reformasi ada 3 orang yang selalu saya ingat, walaupun saya tidak mengecilkan tokoh yang lain dan para mahasiswa yang berjuang waktu itu, yaitu Pak Amien Rais, Pak Abdilah Toha dan Pak AM Fatwa. Mereka adalah orang yang menurut saya sangat berintegritas, mungkin itu sebabnya saya mengaguminya, bahkan sampai sekarang. Buat yang tau Pak Fatwa bakal tahu betapa tanpa kenal lelah dan tanpa rasa takut dia menyuarakan apa yang menurut dia patut disuarakan. Dengan senapan dia tidak takut apalagi cuma sekedar dijebloskan ke penjara.

Banyak cerita-cerita beliau yang sudah dikisahkan, dan pula dibukukan. Semoga itu akan menjadi pengingat buat orang-orang tentang betapa gigihnya beliau menyuarakan amar ma’ruf nahi mungkar. Selamat Jalan wahai Bapak sang Pemberani. Semoga amalnya diterima Allah…

Stranger Things yang Layak Tunggu

Stranger Things adalah salah satu film serial favorit saya tahun ini. Walaupun sebenarnya suatu hal tidak bisa dibilang favorit kalau yang kamu tonton cuma itu doang :)) Karena kesibukan memang saya tidak terlalu bisa ngikutin banyak serial tahun ini sih, tapi yang satu ini memang susah buat ditinggalkan.

Saya memang penggemar science fiction, film yang saya ikuti misalnya Fringe, Breaking Bad, Black Mirror, Wayward Piners dan yang semacam itu. Tiba lah saatnya nonton Stranger Things, oh My God, i love this very much. Saya tak bisa memutuskan kecendrungan suka karena apa. Ceritanya menarik, pengambilan gambarnya bagus, aktor dan artisnya keren, karakter yang dibuat juga keren. Banyak aspek sih, dan tentu saja karena unsur science fictionnya.

Ditambah lagi settingan tahun 80-an yang membuat film ini bernuasa retro. eh bener gak sih itu retro namanya X) Semua komponen mendukung untuk setingan ini, musiknya, pakaiannya, desain interiornya, peralatan yang dipakai….dan rambut Steve yang ala-ala David Bowie.

Stranger Things sudah masuk ke season 2. Season 1 hanya 8 episode dan Season 2 hanya 9 episode. Tiap season memang tidak banyak, tidak seperti serial lainnya. Itu sih yang saya sayangkan, tidak bisa menikmati ini terlalu lama. Tapi karena masih ada season selanjutnya, sabar menunggu aja. Tapi beneran lamaaaaaaaaa….

Karakter di Stranger Things tidak terlalu banyak, dan anehnya saya menyukai masing-masing dari mereka dengan perbedaan sifat itu. Ada juga karakter yang tadinya tidak disukai tapi ceritanya lambat laun membuat kita mau tak mau jadi menyukainya. Dan juga ada penambahan beberapa karakter yang sepertinya dibuat untuk mengisi karakter-karakter kosong. Eleven sebagai karakter kunci di season awal memang tidak dimunculkan full di awal-awal episode season 2 ini. Dustin sepertinya tetap jadi idola semua orang. Apa itu Demo-dog? Tanya ke Dustin 😀

Ada twist-twist yang dibuat di season 1 yang jawabannya ada di season 2, tapi sepertinya kalaupun cuma menonton season 2 tidak akan merasa missing karena konflik yang diangkat berbeda walaupun masih dari sumber yang sama. Tetap menarik pokoknya. Ada perasaan bahwa beberapa peristiwa ditampilkan kurang intens dan sepertinya akan bisa dieksplor lebih. Tapi untuk saat ini sudah cukup mengobati kerinduan dengan film ini dan masih ingin nonton terus.

Saya akan menunggu season selanjutnya. Saya sabaaaaaaar….

Braga yang Ternyata Menyenangkan

Walaupun sering ke Bandung, saya selalu menginap di kawasan yang itu-itu saja, yaitu area Dago dan sekitarnya. Mikirnya karena ini lokasi yang paling bikin saya nyaman, udah kenal daerahnya, banyak Factory Outlet dan warung makan. Padahal juga kita jarang shoping di outlet-outlet itu loh X)

Ketika kemaren pengen nginap di Bandung lagi, suami yang pilih hotelnya. Dia kebetulan memilih hotel yang ada di Braga, saya hayuk-in aja. Kenapa tidak? Karena tujuan kita ke Bandung kali ini juga sekalian pengen ke Cimahi, jadi pilihan lokasi selain di Dago juga tidak masalah. Dan karena Braga gak terlalu jauh dari stasiun jadi kepikiran pengen jalan aja dari stasiun siapa tau deket ajah.

Kali ini saya puas sekali dengan pilihan suami. Gak nyangka ternyata nginap di Braga itu menyenangkan. Bukan karena hotelnya ya, tapi lokasinya. Braga itu seperti masuk kawasan seni gitu deh. Banyak tempat makan di pinggir jalannya, banyak toko lukisan, jalannya enak buat dijalanin dan tersedia bangku-bangku di sepanjang jalan dan kesan klasik masih terasa karena banyak terdapat bangunan-bangunan tua jaman Belanda. Kalau malam rame dengan pejalan kaki dimana Braga memang terkenal buat nongkrong nakanak muda.

Ternyata jarak Braga ke alun-alun juga tidak terlalu jauh. Habis sarapan kita memutuskan jalan kaki ke alun-alun. Kita memilih lewat gang-gang kampung yang lumayan asik. Asik karena ada penataan lingkungannya.

Ternyata saya ketemu tulisan Pidi Baiq yang ini. Yaaaay! sebagai penggemar beliau, saya selalu pengen ketemu tulisan ini. Pengen tapi gak pernah diniatin pengen tau ini posisinya dimana. Eh taunya di jalan Asia Afrika situ toh, baru tauuuuu. Minta difotoin suami biar punya fotonya aja padahal masih pakai baju tidur. Apabanget.

Sepanjang jalan menjelang alun-alun ini banyak sekali kakak-kakak costplay. Bisa diajak foto-foto juga tapi harap ngasih beberapa rupiah ke celengan mereka ya, karena mereka akan mengharapkan itu. Kayaknya tema mereka kebanyakan horor sih. Saya melihat penampakan dimana-mana, jadinya ngeliatnya selewat aja :p Karena anak bocah juga gak terlalu suka karakter ghost, dia juga gak antusias. Akhirnya kita menghabiskan waktu berlari-lari di karpet sintetis alun-alun. Lumayan menyenangkan.

Patutlah sekali-sekali nginap di Braga lagi untuk mengulang kegiatan seperti ini.

Selamat Rabu kawan-kawan \m/

Trotoar 

Jadi pedestrian di Jabodetabek itu berat sekali tantangannya. Gak semua jalan di di sini ada trotoarnya. Kalaupun ada, 2/3 tahun dalam setahun akan kena macam-macam proyek. Perbaikan gorong-gorong, penggalian sarana di bawahnya seperti listrik dan air, perbaikan trotoar itu sendiri, penataan tanaman di atas trotoar, imbas pembangunan sarana di dekatnya seperti JPO atau jalur bus, dll. 

Itu adalah hal-hal yang berurusan dengan pemerintah sebagai pengelola jalan, belum lagi karena urusan lain. Misalnya saingan sama pohon yang besar (walaupun hal ini perlu juga), saingan sama pedagang kaki lima, saingan sama motor yang pengen cepat sampai, saingan sama parkir mobil yang gak punya tempat parkir. Apa lagi ya? Ada yang mau nambahin?

Salah satu trotoar yang paling sering saya lalui adalah trotoar ke arah stasiun Pondok Ranji. Jalan dari trotoar ini juga merupakan jembatan di atas jalan tol. Jalan ini sangatlah ramai, dikarenakan langsung bertemu perlintasan kereta api. Belum lagi ini juga merupakan akses yang penting menuju Ciputat yang punya banyak sekali pusat keramaian. Tapi cobalah liat gambar di atas, itulah trotoarnya. 

Pondok Ranji itu stasiun yang menampung banyak orang. Karyawan kantoran Jakarta banyak tinggal di Bintaro, jadi bisa dibayangkan berapa banyak orang yang lewat jalan itu. Ditambah lagi kondisi pagi hari orang mengejar kereta, biasanya terburu-buru. Tapi jangankan mau buru-buru atau menyalip, bisa jalan dengan tenang dan nyaman aja udah syukur.

Kalau kebetulan di depan kita ada orang renta yang jalannya pelan, atau ibu-ibu yang lagi kerepotan bawa anak maka bisa dipastikan kita harus menunggu di belakangnya dengan sabar. Atau malah tambah miris lagi, dari kejauhan taunya kita melihat kereta yang kita tunggu sudah datang sambil gigit jari  X)

Satu lagi yang kadang bikin bete, sudahlah kita merana karena jalan di jalan yang kecil itu dan harus pelan-pelan, di sebelah motor klakson-klakson dengan galak. Situasi yang selalu macet dan banyaknya pangkalan ojek bikin suasana sering panas di sini. Klakson dari motor yang meraung-raung di belakang kita itu bikin keder juga, ditambah takut kesengol. Padahal kita jalan udah mepet-mepet sama pagar. Pokmen bikin bete deh.

Sekian. Curhat salah seorang pedestrian. Selamat jumat! Horeee liburaaaaan 💃