Tempat Hangout yang Unik dan Enak di Kota Padang

Karambia, dalam bahasa indonesia adalah Kelapa. Dan kali ini saya pengen cerita tempat makan dengan nama “Karambia”. Hmmm…bisa dibilang saya agak terobsesi dengan tempat ini karena pernah liat di tv. Semata-mata bukan karena ngetren tapi ya saya memang suka explore tempat makan, walaupun setiap pulang kampung emang susah beranjak dari makanan favorit yang itu-lagi-itu-lagi. Karena terobsesi jadinya memaksa anggota keluarga yang lain buat pasrah aja diajak ke sini. Nyokap yang setiap ke Kota Padang selalu makan di rumah makan seafood pinggir laut kesukaannya dan adik yang ngeracunin sama restoran yang biasa kita datangi (yang membuat sempat tergoda) akhirnya ngikut aje maunye kite.

Restorannya gampang dicari. Ada di daerah Nipah yang merupakan daerah tempat mencari oleh-oleh seperti Christine Hakim, Shirley dan lain-lain dan tentu juga dekat dengan Jembatan Siti Nurbaya. Adanya di pinggir sungai Muaro. Kalau ke daerah sini kita akan melihat perahu-perahu sedang berlabuh. Bisa buat objek fotografi juga deh. Dengan gedung yang relatif besar dan plang nama yang gede, lumayan gampang menemukannya.

Kesan dari luar restorannya cukup besar, jadi bakal bisa menampung banyak orang. Memakai gedung lama peninggalan jaman dulu seperti kebanyakan bangunan lain di kawasan ini. Tapi sudah ditata dengan menanam pohon yang asri dan eksterior yang oke. Banyak lampu gelantungan di plafon teras. Sayangnya karena kita datang siang, gak merasakan efek lampu-lampu ini sih.

Bagian dalam memang luas, banyak meja makan dengan kursi makan ataupun dengan sofa. Wah bisa nongkrong lama-lama nih. Juga terdapat mezanine dengan menempatkan beberapa meja dan sofa juga. Serta ada seperangkat alat band yang menunjukkan kalau di waktu-waktu tertentu ada musik live. Ada screen proyektor gede, berarti di sini kadang-kadang ada nonton bareng. Boljug ya.

Desain interior  yang menarik karena sebagian besar memakai komponen kelapa. Bagian backdrop dinding yang jadi spot nama restorannya disusun dengan batok kelapa, sebagian besar dinding dalam bangunan dilapisi kulit batang kelapa, meja makan dibuat dari batang kayunya. Jempol sih buat konsistensi ini. Mereka ngumpulin kelapa berapa batang ya buat jadi begini?  tapi memang filosofi pemiliknya adalah ingin memberdayakan para petani kelapa dimana Indonesia adalah negara dengan banyak pantai jadi pasti banyak kelapanya. Sehari saja dia bisa menghabiskan 300 butir kelapa, banyak juga ya. Idenya patut diapresiasi deh. Di dinding restoran ini dia bercerita tentang hal itu :

Apalah artinya review restoran tanpa review makanannya, betul tidak? Hal paling ingin saya lakukan di sini adalah memesan menu di dalam karambia sebagaimana merupakan menu andalan karena keunikannya. Tadinya saya berpikir terlalu mahal, tapi ternyata cukup terjangkau. Menunya lebih cendrung ke selera nasional, bukan lokal. Seperti nasi goreng, bihun goreng, dll, bahkan di sini juga menyediakan tongseng. Juga ada yang rada-rada western kayak Chicken Cordon Bleu, Steak atau Burger. Minumannya pun standar seperti es teller, jus-jusan, kelapa muda, milkshake dan kopi. Rasanya? Di luar perkiraan. Tasty! jadinya saya tidak menyesal bela-belain mendatangi tempat ini.

Fasilitas lain sebagai nilai plusnya adalah terdapat mushala (ini penting), toilet yang unik dan bersih serta area outdoor yang menarik. Secara keseluruhan instagramable buat kamu yang suka upload-upload di socmed

Kapan-kapan pulang kampung lagi saya akan mampir di tempat ini. Mungkin malam biar merasakan suasana yang berbeda mengingat bahwa lighting di sini sepertinya menarik. Mudah-mudahan restorannya bertahan di tengah beratnya persaingan bisnis kuliner. 😀

Selamat Hari Rabu manteman. Jangan lupa makan, karena ngeblog juga butuh tenaga ^_^V

 

Ponten : 8/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *