Menelusuri Lorong Panjang Pendekar Tongkat Emas

Waktuya Telah Tiba!

Sudah lama Indonesia tidak punya film dengan cerita silat “kolosal”, beda dengan tahun 80-andan 90-an yang memunculkan banyak sekali film silat (ketahuan umur deh gue) yang walaupun film-film lama itu dibilang punya cerita yang mainstream. Namun ketika pertama kali saya lihat poster film ini beredar di internet saya menoleh dengan cukup lama. Pertama karena pemain-pemain yang mendukung film ini bisa dikategorikan artis-artis papan atas yang merupakan aktor dan artis watak, tentu mereka tidak sekedar main-main untuk mempertimbangkan mendukung film ini. Yang kedua, ternyata film ini adalah hasil karya Mira Lesmana dari Miles Production yang tentu saja untuk film indonesia sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Apalagi yang bisa dijadikan jaminan untuk kualitas film ini bukan? Jadi saya juga ikutan tidak sabar untuk menunggunya.

Waktunya Telah Tibaaa!!

Waktunya Telah Tibaaa!!

Penasaran dengan bagaimana cerita ini dibuat membuat saya juga sempat mantengin hangout live dengan pemain-pemain, produser dan sutradaraya. Kalau kamu gak sempat nonton coba deh liat lagi di sini. Kita bisa tau bagaimana filmnya dibuat dan kesan-kesan para pemainnya.

Tapi dengan banyak film-film hantu dan drama picisan yang banyak diproduksi sekarang terkadang masih bikin saya pesimis dengan film indonesia, maklum orangnya gak percayaan gitu deh :p Akhirnya ketika ada kesempatan untuk menonton film Pendekar Tongkat Emas ini, kesan pertama sudah langsung menghancurkan sedikit rasa pesimis tadi. Bagaimana tidak, walaupun saya bukan orang yang ngerti dengan kamera tapi sebagai orang awam secara kasat mata tentu paham bahwa film ini diambil dengan profesional dan teknik yang juara. Sangat artistik dan nyaman ditonton.

cqORauP9uY

Selain karena efek  sinematografi yang keren, juga ditambah dengan kecantikan dari objek yang diambil sangat memanjakan mata. Dengan latar daerah Sumba yang cantik. Lanskapnya yang tampil di layar sering membuat decak kagum. Saya benar-benar tidak menyangka Indonesia punya daerah secantik ini. Bukit-bukit sabana dan stepa memberikan efek yang dahsyat untuk setingan film silat tempo doeloe begini. Belum lagi pantai-pantai dengan pasir dan juga dinding tebing buatan alam membuat pengen sekali menyambangi daerah itu. Patut diacungi jempol buat kru film bisa memilih daerah ini sebagai seting tempat. Pecah banget.

Bicara tentang pemain, semua memberikan akting yang total. Seni bela diri yang ditampilkan bukan cuma sekedar gebak-gebuk yang memberikan efek berdarah-darah yang dahsyat. Tapi ini layaknya melihat tarian yang enak ditonton. Bahkan untuk final fight yang relatif lama yang biasanya membikin bosan, tapi di film ini karena memang disajikan dengan seni maka setiap adegan bisa dinikmati.

Selain pemain-pemain muda juga gak kalah penting untuk tahu bahwa film ini juga dibintangi aktor dan artis senior seperti Christine Hakim dan Slamet Raharjo. Bagaimana kematangan akting dan kecocokan karakternya membuat nilai plus untuk filmnya.

Ingin sedikit menyinggung ceritanya , film ini mengisahkan tentang perjalanan sebuah perguruan silat yang dipimpin oleh Cempaka (Christine Hakim) yang mempunyai 4 orang anak didik yaitu Biru, Gerhana, Dara dan Angin yang diangkat anak oleh Cempaka. Dilemanya sih anak-anak ini sebenarnya merupakan anak dari lawan-lawannya ketika “membela kebenaran”.  Pada nantinya dilema ini yang akan memunculkan masalah pada cerita, serta dipicu dengan keinginan memiliki Tongkat Emas yang merupakan pusaka warisan yang meempunyai kekuatan tak terkalahkan yang kemudian jadi rebutan. Karakter keempat anaknya yang memunculkan konflik yang akhirnya “memakan” Cempaka sendiri. Film ini memang tidak terlepas dari dendam, pembalasan dendam dan perebutan kekuasaan khas cerita silat kolosal.

Elang (Nicholas Saputra) akan muncul belakangan sebagai orang yang berpengaruh pada perjuangan Dara yang berada di jalan yang lurus (eaaa jalan yang lurus). Dan bagaimana hubungan Elang dengan Cempaka juga merupakan cerita yang patut ditunggu dan disimak. Jadi film ini bikin kita nyeletuk “oooo gitu tttohhh”, bukan cuma cerita yang gampang ditebak begitu saja. Oiya, ada bonus Darius Sinatria yang nongol, buat cuci mata lumayan juga, hohoho. Kalau cuci mata buat cowok tentu saja Tara Basro sebagai Gerhana dengan kulit  eksotisnya, cantik banget.

Keseriusan para pemain yang sebelumnya sebagian besar bermain film drama ini melakukan adegan silat yang susah ini memang patut diapresiasi. Tentu saja mebutuhkan waktu latihan yang cukup lama ya. Ternyata film ini memakai fight instruktur langsung dari Hongkong yaitu Xiong Xinxin. Mungkin ini yang membuat pembuatan film ini katanya sampai 3 bulan. Tapi kalau pemeran Angin (Ariah Kusumah) yang merupakan pendatang baru memang direkrut dari atlit silat jadi sudah punya keahlian di bela diri.

Oiya, satu lagi yang bikin saya berdecak kagum adalah pameran kain-kain tenun sumba yang meriah, Show-off banget deh. Ada unsur kain tenunan dimana-mana, berbagai motif dan warna. Dijadikan background ruangan, sarung tongkat emas dan tentu saja yang utamanya sebagai pakain dari para pendekar dan semua pendukungnya. Bikin kita bakal terinspirasi untuk membuat pakaian serupa. Tapi kabarnya kain tenun Sumba ini mahal ya booowk :p

 

Sungguh film yang memberi kesan tersendiri buat saya, di tengah kepesimisan melihat film-film berlatarkan hantu-hantu dan drama maintream dengan kualitas seadanya, film dengan cerita dan pembuatan yang serius tentu membuat kita bisa sedikit bernafas lega. Apalagi di akhir cerita ada sedikit gambaran bahwa akan dibuat sekualnya.Aha! Ditunggu ya mbak Mira. Jangan buat kami kecewa. Aku padamuuuu!!!

“Dunia persilatan itu bagai lorong panjang dan gelap…” ~ Cempaka

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *